ulasansingkat

sekedar ulasan (film) singkat

Tag Archives: silent

The Artist

The Artist (2011)
sut: Michel Hazanavicius
pen: Michel Hazanavicius
Perancis

Saya sengaja menghindarkan diri dari segala hal film ini, termasuk tidak membaca ulasan-ulasannya, mengecek ratingnya di imdb, metacritic, dan rotten tomatoes, bahkan tidak menonton trailernya sama sekali. Karena khusus film-film yang saya rasa punya potensi untuk menjadi film yang greats (atas dasar buzz/rekomendasi), saya ingin tonton dalam keadaan ‘perawan’ (‘perjaka’ dalam kasus saya). Saya ingin merasakan pengalaman sinema yang murni, yang dari ‘tidak tahu’ menjadi ‘tahu’ saat sedang menonton, karena sebagai cinephile, tidak peduli akan berapa kali saya menonton sebuah film, kesan tontonan pertamanya tidak akan pernah hilang. Saya pernah dengan bodohnya men-spoil diri sendiri terhadap film The Usual Suspects (1995) sebelum menontonnya, yang meski tetap bisa saya nikmati dan apresiasi, saya tahu tidak akan berkesan sama seperti bila saya tidak tahu endingnya. Saya pastikan hal seperti ini tidak akan terjadi lagi.

Bukankah saat pertama kali menonton Sunrise: A Song of Two Humans, City Lights, The Godfather, Pulp Fiction, Fargo, City of God, A Separation, Taste of Cherry, Schindler’s List, Das Boot, Gandhi, Spirited Away, 2001, Singin’ in the Rain, Picnic At Hanging Rock, Taxi Driver, The Lives of Others, Memories of Murder, The White Ribbon, Scent of a Woman, The Readers, dan film-film greats yang lainnya, adalah pengalaman sinema yang luar biasa? (Argh, saya rela amnesia biar bisa menonton film-film tersebut untuk pertama kali lagi). Tentu anda tidak ingin pertama kali menonton film-film tersebut sudah spoiled bukan? Oke, berikut ulasan yang (semoga) bebas spoiler:

Tidak seperti ekspektasi saya, tapi tetap merupakan sebuah film yang solid. The Artist adalah film bisu dengan beberapa ‘sentuhan’ modern. Sebagai favorit utama calon pemenang film terbaik di oscar nanti, saya rasa film ini memang berpeluang besar melawan film-film solid lainnya karena ‘timing’ keunikannya sangat tepat dalam membawa ‘angin segar’ kembali ke dunia sinema, terutama karena ‘kepopuleran’ The Tree of Life (2011) sudah mulai menurun. Dan mungkin film ini dapat menghidupkan kembali seni film bisu sebagaimana Moulin Rouge (2001) terhadap film musikal.

Saya punya beberapa issue dengan film ini, tapi bukan sebagai sebuah film bisu maupun struktur naratifnya, tapi lebih kepada motivasi di balik beberapa aksi kedua karakter utamanya yang seperti tidak dipikirkan lebih dalam; kalaupun dipikirkan dengan dalam, tidak benar-benar sampai ke penonton. Di luar itu, sebuah film bisu modern yang bagus. ‘Dunianya’ sangat hidup.

Tidak direkomendasikan ke semua orang, karena merupakan sebuah film bisu tanpa dialog, hitam putih, ‘kotak’ lagi. Dan calon penonton yang niat nonton film ini pasti akan/sudah menontonnya tanpa perlu rekomendasi dari saya. Jadi saya merekomendasikan film ini buat yang penasaran, cobalah. Memang film ini bukan film bisu terbaik sepanjang masa, tapi mungkin dapat membuat anak-anak muda untuk tertarik dan mulai menonton karya-karya masterpiece di awal-awal sejarah sinema, oleh para pionir sinema.

8.5/10

The Artist: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

Iklan

The General

The General (1926)
sut: Clyde Bruckman | Buster Keaton
A.S.

Film ini merupakan favorit Buster Keaton dari semua film-filmnya sendiri. Dan ia memang pantas bangga terhadap film ini. The General sangat mengagumkan dari segala sisi filmmaking.

Komedinya sangat cerdas, ceritanya menarik, adegan aksinya memukau, dan pantas untuk ditonton berulang-ulang. Dalam film ini anda dapat melihat gags dan stunts yang kemudian menjadi referensi dalam film-film Jackie Chan.

Sangat direkomendasikan kepada seluruh penikmat sinema, terutama penikmat komedi dan aksi.

8/10

The General: Rekomendasi dengan pujian yang tinggi (BO)

Chaplin

Chaplin (1992)
sut: Richard Attenborough
pen: ######
A.S.

Satu lagi film autobiografi yang mengagumkan dari Richard Attenborough. Film ini tidak se-“epik” Gandhi, namun tetap sangat menyentuh hati. Mungkin karena saya pribadi adalah penggemar berat Charlie Chaplin dan saya yakin akan terjadi pada penggemar-penggemar yang lain, sejak shot pertama kemudian beberapa kali sepanjang film hingga akhir film ini membanjiri hati dengan rasa “sentimentalitas” yang sulit untuk dijelaskan, namun dengan sederhana bisa dikatakan sent chill to your spine (in a good way).

Penampilan Robert Downey Jr. sangat mengagumkan sebagai sang legenda, dengan banyak supporting performance yang cemerlang. Tidak ada satupun akting yang “lemah” dalam film ini, namun saya tidak bisa dengan pasti mengatakan bila terdapat representasi yang tidak akurat. Saya hanya akan mencoba untuk mempercayai para filmmaker di depan dan di balik layar telah melakukan riset yang detil untuk membuat film ini, dan juga terlebih karena sumber utamanya dari buku biografi yang ditulis oleh Charlie Chaplin sendiri.

Bentuk film ini tidak linear seperti Gandhi, tetapi mengambil bentuk struktur naratif flashbacks dimana Chaplin yang menghabiskan masa tuanya di Switzerland sedang menuliskan buku biografinya dengan mengenang hal-hal yang “penting” yang terjadi dalam hidupnya. Film ini memang mengambil langkah-langkah tertentu untuk mendorong naratif maju dan membungkusnya secara natural in a movie’s way dengan menambahkan beberapa hal fiktif (misalnya karakter yang dimainkan Anthony Hopkins) namun secara keseluruhan, film ini tetap loyal pada sejarah yang sebenarnya (yang dimasukkan dalam film).

Sangat direkomendasikan bagi anda para cinephiles.

9/10

Chaplin: rekomendasi dengan pujian yang tinggi (17+)