ulasansingkat

sekedar ulasan (film) singkat

Tag Archives: Resensi

Batman: Under the Red Hood

Batman: Under the Red Hood (2010)
sut: Brandon Vietti
pen: Judd Winick
A.S.

Film ini merupakan kisah origin dari Red Hood. Bagi yang sebelumnya tidak tahu siapa dia, film ini akan menjadi perkenalan yang paling pantas untuk karakter ini.

Meski sebuah film kartun film ini kurang cocok untuk anak-anak di bawah sepuluh tahun. Karena film ini mengandung kekerasan termasuk pembunuhan berdarah dingin yang tidak ‘dilembutkan’ sama sekali–untungnya. Ceritanya sendiri sangat menarik karena sangat personal bagi Batman dan disusun dan di-pace dengan sangat baik. Adegan aksinya juga sangat luar biasa. Semuanya dipikirkan, dikoreografi, dan ditampilkan dengan cermat, sangat keren.

7.5/10

Batman: Under the Red Hood: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

Iklan

The Pervert’s Guide to Cinema

The Pervert’s Guide to Cinema (2006)
sut: Sophie Fiennes
pen: Slavoj Zizek
###

Film dokumenter yang sangat menarik, dan pantas ditonton bagi para cinephiles yang tertarik pada segi psikoanalitik dari medium film. Saya merasa beberapa hipotesanya ada yang agak terlalu berlebihan, seperti membaca terlalu dalam terhadap hal-hal yang sebenarnya hanya sederhana saja, tapi paling tidak semuanya sangat menarik untuk didengarkan dan sangat ‘menggelitik’ melihat film dari sudut pandang yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh kita. Juga aksen dari presenternya sangat menghibur meski memerlukan konsentrasi lebih untuk menangkap kata-katanya.

Film-film yang dibahas juga bukan film biasa. Semuanya adalah film-film yang secara universal diakui sebagai greats. Tetapi tentu untuk analisa yang mendalam tidak terhindarkan untuk tidak memberikan spoiler (tapi tidak semua), jadi sebaiknya jangan ditonton dulu sebelum menonton film-film yang dianalisa. Daftarnya bisa dilihat di sini. Saya sendiri tidak menyadari hal ini sehingga ada beberapa film yang ter-spoil seperti The Conversation (1974) dan Dogville (2003), sialan. Tapi akan tetap saya tonton nanti.

Tapi anda tidak perlu menonton SEMUANYA sebelum menonton film ini, karena yang telah menonton semuanya pasti hanya cinephile sekaligus sarjana/akademisi film sejati yang kemungkinan besar sudah menonton film ini juga. Anda hanya perlu waspada terhadap spoiler beberapa film saja, yang kalau tidak salah ingat: Psycho (1960), The Birds (1963), The Conversation (1974), Dogville (2003), Vertigo (1958), Wild at Heart (1990), Lost Highway (1997), The Piano Teacher (2001), Three Colors: Blue (1993), The Wizard of Oz (1939), dan City Lights (1931). Itu kalau anda niat menonton film-film tersebut nanti.

7.5/10

The Pervert’s Guide to Cinema: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

Negeri 5 Menara

Negeri 5 Menara (2012)
sut: Affandi Abdul Rachman
pen: Salman Aristo
Indonesia

Bagus, keren, mantap, solid, brilian, cerdas, (kata pujian berlanjut terus).
Kisahnya digarap dengan baik sekali, skenarionya mengagumkan. Teknisnya juga baik sekali. Namun performances yang terdapat di dalamnya adalah yang paling luar biasa. Semuanya sangat natural, seakan-akan para karakternya beneran hidup di dunia itu, dengan karakteristik sifat, sikap, jalan pemikiran masing-masing, membuat para karakter ini seperti orang-orang nyata yang pernah kita temui di luar bioskop. Selain untuk para aktornya yang dicasting dengan sangat baik, juga merupakan credit buat penulis dan sutradaranya.

Secara universal film ini membuat mudah untuk beridentifikasi terhadap momen-momen persahabatan sejati yang kita semua pasti pernah alami diumur segitu. Persahabatan sejati yang murni tanpa adanya pengaruh latar belakang, politik maupun motivasi tertentu. Segalanya terjadi begitu saja. Dan momen-momen ini berhasil dicapture dengan baik.

Film ini bagus sekali, amat sangat direkomendasikan. Sebuah film persahabatan yang kaya drama dan komedi. Membuat hati riang dan ringan setelah keluar bioskop, sebagai cermin terhadap diri kita sendiri, dan terus mungundang untuk mengunjungi dunianya lagi.

8.5/10

Negeri 5 Menara: rekomendasi bagi para cinephiles dan penonton kasual (SU)

The Ides of March

The Ides of March (2011)
sut: George Clooney
pen: ###
A.S.

Kita semua telah merasa bahwa dunia politik itu adalah dunia yang kotor, dimana tidak ada yang benar-benar suci, manipulasi dan itikad tidak baik beredar di mana-mana, kelicikan, kemunafikan, dan segala kekotoran hati berkumpul. Film ini memainkan aspek tersebut, tidak dengan berapi-api–yang menurut saya adalah hal yang bagus.

Film ini memperlihatkan dunia politik dalam backdrop balapan kampanye dua calon presiden. (Film ini condong hanya pada satu calon, tapi backdrop-nya tetap dua). Film ini memberikan intrik-intrik kisahnya dengan sangat down-to-earth tanpa membesar-besarkan, mempresentasikannya dengan ‘dingin’ dan ‘lurus’. Sangat rasional dan realistis, tapi bukannya tanpa emosi sama sekali.

Sangat direkomendasikan bagi yang suka film-film ‘dingin’, prosedural, ‘lurus’ seperti Zodiac (2007), All The President’s Men (1976), JFK (1991), Recount (2008) (ftv), dan yang semacamnya.

Yang tertarik pada bidang sastra, setelah mendengar frase ‘The Ides of March’ pasti akan kepikiran kisah pembunuhan terhadap Julius Caesar. Anda tidak akan melihatnya dalam film ini, namun menurut saya itulah titik puncak dari film ini. Tontonlah untuk mengambil kesimpulan sendiri.

8/10

The Ides of March: rekomendasi bagi para cinephiles (17+)

Paranormal Activity 3

Paranormal Activity 3 (2011)
sut: Henry Joost | Ariel Schulman
pen: Christopher B. Landon | #
A.S.

Film ini film horor yang bagus, dan wajar saja bila banyak yang menganggap film ini adalah yang terbaik dari franchise ini. Film ini lebih mahal, memiliki banyak ide-ide baru, dan sangat pandai dalam menempatkan diri ke dalam “cerita besar”-nya.

Saya setuju film ini lebih baik dari yang kedua, dan mungkin dari yang pertama, tetapi film ini tidak memiliki rasa “mentah” yang terdapat di film pertama. Rasa mentah yang saya maksud adalah di film pertama hasil rekamannya seperti diberikan dengan apa adanya, tanpa adanya sense seorang editor yang menyusun gambar untuk menciptakan efek tertentu (dalam hal ini horor).

Di film yang ketiga ini sense keberadaan seorang editor dengan mind-set film horor yang memilih cutting point shot untuk menciptakan efek horor sangat terasa, sehingga hanya menjadi salah-satu-trik-film-horor-yang-lain. Tidak seperti film pertama yang tidak memberikan horor dengan editing, tetapi murni dengan mise en scene, yang membuat kesan found footage yang di-assembly dengan seadanya tanpa niat “film” di belakangnya lebih kental.

Secara keseluruhan film ini merupakan film horor yang baik, dan mampu memberikan horor-nya dengan efektif dengan cara yang cerdas, meski memiliki beberapa (tidak banyak) trik horor yang sekedar “ngagetin.”

7/10

Paranormal Activity 3: rekomendasi bagi para penikmat horor (13+)

The Iron Lady

The Iron Lady (2011)
sut: Phyllida Lloyd
pen: Abi Morgan
Inggris Raya

Menarik, mudah dinikmati, dan keputusan atas bentuk naratifnya membuatnya cukup menghibur dan informatif untuk penonton yang tidak mengenal Margaret Thatcher (termasuk saya) sama sekali.

Film ini mendapatkan mixed reviews karena banyak kritik yang menyayangkan hasil eksekusi film ini yang melewatkan banyak kejadian bersejarah hanya dengan montase atau berlalu begitu saja. Kalau menurut saya, film ini baik-baik saja. Mungkin karena saya tidak tahu sejarah. Dan mungkin karena ketidaktahuan itu pula saya lalu tidak membawa ekspektasi apa-apa, dan tidak menunggu bagaimana para filmmakernya akan mengeksekusi momen sejarah yang akan datang berikutnya di setiap momen sejarah yang baru terjadi di layar, entah hal ini kerugian atau keuntungan.

Dari pengamatan saya, film ini lebih kepada eksplorasi/eksploitasi karakter Margaret Thatcher. Meski begitu saya menganggapnya sangat tidak etis untuk menyuapi penonton pendapat mereka (para filmmakernya) mengenai apa yang ada di dalam kepala Margaret Thatcher seolah-olah karakternya itu merupakan fiksi mereka dan bukan manusia nyata yang tidak mungkin bisa mereka ketahui secara benar apa yang ada dipikirannya dan membawa pendapat mereka itu ke dalam film ini. Tapi pada akhirnya film ini tidak bermaksud mendiskreditkan secara tidak adil dan penampilan Meryl Streep sebagai sang perdana menteri menjadikannya film yang cukup menghibur sekaligus informatif untuk dapat direkomendasikan.

7/10

The Iron Lady: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

The Muppets

The Muppets (2011)
sut: James Bobin
pen: ###
A.S.

Saya tidak yakin soal apakah The Muppets pernah populer di sini, tetapi meski anda tidak mengenal mereka, film ini tetap dapat menghibur dan lagu-lagunya enak.

Film ini tidak begitu berbeda dengan beberapa film drama-musikal-komedi keluaran Hollywood lainnya, tetapi dengan film ini (yaitu para karakternya) juga menyadari betul hal tersebut dan bahkan menjadikannya bahan komedi, membuat film ini terasa segar. Dan para karakternya cukup signifikan dan ter-establish, sehingga bahkan penonton yang tidak terlalu mengenal mereka pun dapat ikut merasakan rasa sentimentil yang terdapat di dalam film ini.

7/10

The Muppets: rekomendasi sebagai tontonan keluarga (SU)

Stuart: A Life Backwards

Stuart: A Life Backwards (2007)
sut: David Attwood
pen: Alexander Masters (buku)
Inggris Raya

Kalau membicarakan TDKR, nama Tom Hardy pasti muncul. Lalu kemudian film-film terdahulunya juga muncul. Salah satu diantaranya yang banyak direkomendasikan adalah film ini. Tadinya saya tidak terlalu antusias karena film ini adalah FTV. Tapi ketika saya berhasil mendapatkannya (jangan tanya darimana), saya tetap meluangkan waktu untuk menontonnya. Dan waktu yang saya luangkan itu ternyata tidak sia-sia.

Film ini menceritakan kisah memilukan dari Stuart, seorang alkoholik dan pecandu heroin yang menderita “penyakit saraf/otot(?))” yang bertemu dengan seorang penulis yang tertarik untuk membukukan kehidupannya. Stuart menyarankan untuk menuliskan kehidupannya dengan terbalik, mulai dari dirinya yang dewasa ini hingga ke masa kecilnya yang suram.

Film ini sangat menarik sebagian besar berkat akting yang mengagumkan dari Tom Hardy. Lalu eksekusinya. Production value yang rendah bisa terlupakan berkat kisah, dan terutama karakter protagonisnya yang unik. Juga terkadang sangat sulit menangkap semua kalimat yang diucapkan protagonisnya, tetapi hal itu malah menambah kedalaman karakternya. Film murah yang cukup kaya.

7/10

Stuart A Life Backwards: rekomendasi bila bertemu dengan anda (17+)

Xia Aimei

Xia Aimei (2012)
sut: Alyandra
pen: Alyandra | Tohaesa | Sally Anom
Indonesia

Baca pos ini lebih lanjut

Jodái-e Náder az Simin

10/10