ulasansingkat

sekedar ulasan (film) singkat

Tag Archives: Perancis

Caché

Caché | Hidden (2005)
sut: Michael Haneke
pen: Michael Haneke
Perancis

Ini adalah kali ketiga saya menonton film ini, dan masih terus menemukan hal-hal baru meski tetap belum benar-benar mengerti film ini sepenuhnya. Namun satu hal yang pasti, ini film bagus.

Ada satu kutipan dari Haneke yang paling tidak bisa sedikit menjelaskan keputusannya untuk membuat film ini sangat ‘terbuka’: “I like the multiplicity of books, because each book is different in the mind of each reader. It’s the same with this film – if 300 people are in a cinema watching it, they will all see a different film, so in a way there are thousands of different versions of Caché (Hidden) (2005). The point being that, despite what TV shows us, and what the news stories tell us, there is never just one truth, there is only personal truth.

Film ini merangsang menuntut penontonnya untuk berpikir bahkan jauh melampaui apa yang disediakan plotnya, seperti yang terlihat di wawancara ini, lol: http://www.guardian.co.uk/film/2006/feb/19/worldcinema (mengandung sedikit spoiler).

9/10

Caché: rekomendasi dengan pujian yang tinggi (17+)

Iklan

Incendies

Incendies (2010)
sut: Denis Villeneuve
pen: Denis Villeneuve | Wajdi Mouawad (cerita)
Kanada

Film yang sungguh luar biasa.

Melalui surat wasiat ibu mereka, dua anak kembar diminta menepati ‘janji’ ibu mereka dengan mencari ayah yang mereka pikir telah tiada dan seorang saudara yang mereka tidak pernah tahu mereka miliki.

Apa yang akan anda saksikan kemudian takkan pernah terlupakan.

Buat cinephiles, film ini wajib tonton. Anda tidak akan menyesal.

9/10

Incendies: rekomendasi dengan pujian yang tinggi (17+)

The Cook, The Thief, His Wife, and Her Lover

The Cook The Thief His Wife and Her Lover (1989)
sut: Peter Greenaway
pen: Peter Greenaway
Prancis | Inggris Raya

Baca pos ini lebih lanjut

Hugo

Hugo (2011)
sut: Martin Scorsese
pen: John Logan
A.S.

Film fantasi dongeng anak-anak ini oleh Martin Scorsese, lho! Yang pertama buat dia. Selain itu film ini juga sebenarnya adalah syair pujian/ode untuk masa awal-awal sejarah sinema dimulai, secara spesifik untuk George Méliès. Dan di film ini juga Scorsese dapat mengekspresikan rasa cintanya yang sangat besar pada sinema di luar medium film-film dokumenter. Tetapi saya sulit untuk menikmatinya.

Saya sangat ingin dan telah berusaha untuk bisa menyukai film ini. Film ini dibuat oleh orang yang tidak diragukan lagi kecintaan dan pengetahuannya yang sangat luas terhadap dunia sinema. Film ini secara internasional diklaim sebagai film yang luar biasa. Tapi saya tidak ingin membohongi diri sendiri dan lalu ikut arus: saya tidak suka ceritanya.

Paling tidak kisah karakter protagonisnya, Hugo. Di sepertiga akhir durasinya film ini baru mulai menarik ketika cerita beralih menjadi mengenai George Méliès. Tapi di dua-per-tiga awal durasinya film ini tidak ‘ke mana-mana’.

Tapi saya tetap salut terhadap film ini karena memperkenalkan penonton awam kepada sejarah awal sinema, terutama terhadap George Méliès. Semua klip-klip film yang dimasukkan adalah dari film-film pionir yang sangat penting dalam sejarah sinema. Dan disajikan dalam film dengan teknologi tinggi dan 3d lagi! Oiya, film ini juga 3d pertama buat Scorsese. Film ini dikomposisi dan di-staging dengan konsep 3d dari sananya, bukan post-convert. Saya memang cuma menonton yang 2d-nya, tapi dari shot-shotnya saya lumayan bisa membayangkan 3d-nya pasti luar biasa. James Cameron saja bilang film ini penerapan 3d terbaik yang pernah ia lihat: youtu.be/DFJZ1HKybZA

Jadi kesimpulannya, secara teknis dan ambisi, film ini luar biasa. Tapi secara naratif, saya pribadi kurang suka. Tapi direkomendasikan bagi para cinephiles dan penikmat cerita fantasi.

6.5/10

Hugo: rekomendasi bagi para cinephiles (BO)

——————–

Disclaimer: mungkin anda heran, kenapa saya memberi film ini rating yang lebih rendah dari misalnya film This Means War. Itu karena saya menilai setiap film atas dasar merit-nya sendiri. This Means War tidak berusaha menjadi lebih daripada kapasitas genre-nya saja. Kita bisa melihat seberapa jauh pencapaian yang ingin diraih oleh sebuah film setelah menontonnya dan bila berhasil atau bahkan melebihi, kita akan menemukan sebuah film greats yang dapat menawan dan artistik sekaligus.

OSS 117: Cairo, Nest of Spies

OSS 117: Cairo, Nest of Spies | OSS 117: Le Caire, Nid d’espions (2006)
sut: Michel Hazanavicius
pen: ####
Perancis

OSS 117: Cairo adalah sebuah film komedi mengenai seorang agen rahasia 117 dari Prancis, yang ditugaskan menginvestigasi kasus pembunuhan agen rahasia lain di Kairo. Komedi dalam film ini datang dari situasi dan kebodohan karakter OSS 117, meski ia tidak sebodoh karakter Johnny English atau inspektur Clouseau (tapi lebih bebal).

Film ini sangat cerdas dalam menangani hampir semua leluconnya, tetapi hal yang paling mengagumkan adalah penampilan sang karakter utamanya. Berkat akting yang solid dari Jean Dujardin, OSS 117 menjadi seorang karakter yang menarik meski naskah film ini sepertinya tidak mengembangkan karakternya dengan lebih baik. Sedikit dipoles lagi mungkin bisa menjadi film yang lebih luar biasa, tapi OSS 117 ini sendiri tetap dapat direkomendasikan dengan pujian kepada setiap penggemar komedi maupun pada penonton umum.

Terdapat beberapa lelucon yang memang meledek beberapa aspek dari agama Islam, tetapi bukan jenis yang menghina dengan kasar dan akan membuat naik darah, lagipula dimainkan dengan nada yang tidak terlalu menyinggung dan gak penting.

7.5/10

OSS 117: Cairo, Nest of Spies: Rekomendasi dengan pujian tinggi, bagi pecinta komedi (17+).

OSS 117: Lost in Rio

OSS 117: Lost in Rio | OSS117: Rio ne Répond Plus (2009)
sut: Michel Hazanavicius
pen: ###
Perancis

Film komedi ini membuat tertawa terbahak-bahak mulai dari awal hingga akhir. Film sekuel ini tidak mendapatkan sorakan seperti yang diberikan pada film pertamanya, mungkin karena film ini lebih membesar-besarkan ke-eksentrik-an karakter OSS satu-tujuh-belas soal ke-rasis-san dan ke-bebal-annya yang kali ini diarahkan pada Israel, Mossad, Yahudi, Nazi, Cina, dan sedikit pada generasi hippi, kaum gay, Amerika, Jerman, Muslim, dan bahkan negaranya sendiri juga dalam satu paket. Berani banget enggak?

Tetapi lelucon-lelucon yang terdapat di dalamnya, apalagi lelucon berulang soal OSS 117 yang tidak pernah kena tembakan meski dihujani tembakan bertubi-tubi dan lelucon adegan ‘kejar-kejaran’ di rumah sakit, amat sangat lucu membuat terbahak-bahak sampai sulit bernafas. Sambil menuliskan ulasan ini pun saya masih senyum-senyum kayak orang gila.

Tapi sudah banyak film komedi yang saya pikir sangat lucu malah dianggap garing oleh orang lain, jadi anggap saja selera komedi saya agak di luar jalur mainstream, dan jangan mudah percaya rekomendasi saya soal komedi. Rekomendasi buat yang bisa ketawa bahkan untuk film komedi ‘garing’.

8/10

OSS 117: Lost in Rio: rekomendasi bagi para penikmat komedi (17+)

Lucky Luke

Lucky Luke (2009)
sut: James Huth
pen: #####
Perancis

Film komedi yang sangat menarik. Di Perancis memang orang-orangnya jago sekali membuat film komedi sureal konyol namun bisa artistik. Memainkan kisah Lucky Luke yang bersetting di Amerika tapi menggunakan bahasa Perancis saja sudah sureal lebih dari komiknya karena ini live-action. Film ini sangat bertolak belakang dengan film-film western spageti.

Struktur naratif film ini tetap masih berada di wilayah konvensional dan leluconnya tidak banyak, tetapi dengan komedi ala Perancisnya ada rasa segar yang orisinal (atau terasa orisnial mungkin hanya karena saya yang masih kurang nonton komedi Prancis). Juga dengan penyutradaraan dan penampilan yang baik dari para aktornya terutama Jean Dujardin, menjadikan dunia dalam film ini mudah dinikmati. Film yang cukup menarik, direkomendasikan untuk anda tonton bila berkesempatan.

6.5/10

Lucky Luke: rekomendasi bagi penikmat komedi dan western (13+)

The Artist

The Artist (2011)
sut: Michel Hazanavicius
pen: Michel Hazanavicius
Perancis

Saya sengaja menghindarkan diri dari segala hal film ini, termasuk tidak membaca ulasan-ulasannya, mengecek ratingnya di imdb, metacritic, dan rotten tomatoes, bahkan tidak menonton trailernya sama sekali. Karena khusus film-film yang saya rasa punya potensi untuk menjadi film yang greats (atas dasar buzz/rekomendasi), saya ingin tonton dalam keadaan ‘perawan’ (‘perjaka’ dalam kasus saya). Saya ingin merasakan pengalaman sinema yang murni, yang dari ‘tidak tahu’ menjadi ‘tahu’ saat sedang menonton, karena sebagai cinephile, tidak peduli akan berapa kali saya menonton sebuah film, kesan tontonan pertamanya tidak akan pernah hilang. Saya pernah dengan bodohnya men-spoil diri sendiri terhadap film The Usual Suspects (1995) sebelum menontonnya, yang meski tetap bisa saya nikmati dan apresiasi, saya tahu tidak akan berkesan sama seperti bila saya tidak tahu endingnya. Saya pastikan hal seperti ini tidak akan terjadi lagi.

Bukankah saat pertama kali menonton Sunrise: A Song of Two Humans, City Lights, The Godfather, Pulp Fiction, Fargo, City of God, A Separation, Taste of Cherry, Schindler’s List, Das Boot, Gandhi, Spirited Away, 2001, Singin’ in the Rain, Picnic At Hanging Rock, Taxi Driver, The Lives of Others, Memories of Murder, The White Ribbon, Scent of a Woman, The Readers, dan film-film greats yang lainnya, adalah pengalaman sinema yang luar biasa? (Argh, saya rela amnesia biar bisa menonton film-film tersebut untuk pertama kali lagi). Tentu anda tidak ingin pertama kali menonton film-film tersebut sudah spoiled bukan? Oke, berikut ulasan yang (semoga) bebas spoiler:

Tidak seperti ekspektasi saya, tapi tetap merupakan sebuah film yang solid. The Artist adalah film bisu dengan beberapa ‘sentuhan’ modern. Sebagai favorit utama calon pemenang film terbaik di oscar nanti, saya rasa film ini memang berpeluang besar melawan film-film solid lainnya karena ‘timing’ keunikannya sangat tepat dalam membawa ‘angin segar’ kembali ke dunia sinema, terutama karena ‘kepopuleran’ The Tree of Life (2011) sudah mulai menurun. Dan mungkin film ini dapat menghidupkan kembali seni film bisu sebagaimana Moulin Rouge (2001) terhadap film musikal.

Saya punya beberapa issue dengan film ini, tapi bukan sebagai sebuah film bisu maupun struktur naratifnya, tapi lebih kepada motivasi di balik beberapa aksi kedua karakter utamanya yang seperti tidak dipikirkan lebih dalam; kalaupun dipikirkan dengan dalam, tidak benar-benar sampai ke penonton. Di luar itu, sebuah film bisu modern yang bagus. ‘Dunianya’ sangat hidup.

Tidak direkomendasikan ke semua orang, karena merupakan sebuah film bisu tanpa dialog, hitam putih, ‘kotak’ lagi. Dan calon penonton yang niat nonton film ini pasti akan/sudah menontonnya tanpa perlu rekomendasi dari saya. Jadi saya merekomendasikan film ini buat yang penasaran, cobalah. Memang film ini bukan film bisu terbaik sepanjang masa, tapi mungkin dapat membuat anak-anak muda untuk tertarik dan mulai menonton karya-karya masterpiece di awal-awal sejarah sinema, oleh para pionir sinema.

8.5/10

The Artist: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

Code Unknown: Incomplete Tales of Several Journeys

Code Unknown: Incomplete Tales of Several Journeys |
Code Inconnu: Récit Incomplet de Divers Voyages (2000)
sut: Michael Haneke
pen: Michael Haneke
Prancis | Jerman | Rumania

Sedikit tapi banyak. Frase tersebut memang seperti tidak masuk akal, tapi dapat dilabelkan kepada semua karya film feature dari sutradara Michael Haneke.

Film ini membawa kita masuk ke tengah-tengah kehidupan beberapa karakter yang saling bersinggungan satu sama lain secara “kebetulan”, dan menunjukkan pada kita banyak hal yang patut direnungkan, serta sebagai cermin untuk melihat diri kita sendiri sebagai seorang manusia. Sangat direkomendasikan bagi anda para penikmat sinema seni.

Tidak satu moment pun sepanjang durasi film ini yang terasa lambat, tapi bisa dimengerti bila penonton umum akan menemukan film ini bertempo lambat. Jadi bila pilihan tontonan anda lebih condong kepada jalur film mainstream, anda mungkin tidak akan dapat menikmati film ini.

9/10

Code Unknown: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

The Piano Teacher

The Piano Teacher | La Pianiste (2001)
sut: Michael Haneke
pen: Michael Haneke | Elfriede Jelinek (novel)
Perancis | Austria | Jerman

Jika anda sensitif mengenai hal penyiksaan seksual, hindari film ini. Film ini tidak bisa dikategorikan torture porn sebagaimana film-film lain dalam kategori tersebut, karena sebenarnya film ini lebih condong kepada psikologi visual dari “kelainan seksual (perversion)”.

Tidak direkomendasikan kepada para penonton biasa, meski film ini sebenarnya adalah film yang jenius dan “indah”. Ini adalah satu-satunya film dari sutradara Michael Haneke dimana subject matter yang dominannya adalah sex, dan ia memberikan kita sebuah karya yang “seksi” dan sekaligus “sakit” dalam waktu bersamaan.

Dan seperti semua film-film Michael Haneke, film ini hanya direkomendasikan kepada anda yang memiliki sensibilitas tertentu untuk mengapresiasi film yang bertempo lambat dan character-driven.

9.5/10

The Piano Teacher: Rekomendasi bagi penikmat film seni, tapi dengan peringatan. (21+)

Catatan: ada scene dimana seorang karakter diperlihatkan melukai bagian vitalnya sendiri, tidak grafik tapi sangat mengganggu.