ulasansingkat

sekedar ulasan (film) singkat

Tag Archives: michel hazanavicius

OSS 117: Cairo, Nest of Spies

OSS 117: Cairo, Nest of Spies | OSS 117: Le Caire, Nid d’espions (2006)
sut: Michel Hazanavicius
pen: ####
Perancis

OSS 117: Cairo adalah sebuah film komedi mengenai seorang agen rahasia 117 dari Prancis, yang ditugaskan menginvestigasi kasus pembunuhan agen rahasia lain di Kairo. Komedi dalam film ini datang dari situasi dan kebodohan karakter OSS 117, meski ia tidak sebodoh karakter Johnny English atau inspektur Clouseau (tapi lebih bebal).

Film ini sangat cerdas dalam menangani hampir semua leluconnya, tetapi hal yang paling mengagumkan adalah penampilan sang karakter utamanya. Berkat akting yang solid dari Jean Dujardin, OSS 117 menjadi seorang karakter yang menarik meski naskah film ini sepertinya tidak mengembangkan karakternya dengan lebih baik. Sedikit dipoles lagi mungkin bisa menjadi film yang lebih luar biasa, tapi OSS 117 ini sendiri tetap dapat direkomendasikan dengan pujian kepada setiap penggemar komedi maupun pada penonton umum.

Terdapat beberapa lelucon yang memang meledek beberapa aspek dari agama Islam, tetapi bukan jenis yang menghina dengan kasar dan akan membuat naik darah, lagipula dimainkan dengan nada yang tidak terlalu menyinggung dan gak penting.

7.5/10

OSS 117: Cairo, Nest of Spies: Rekomendasi dengan pujian tinggi, bagi pecinta komedi (17+).

Iklan

OSS 117: Lost in Rio

OSS 117: Lost in Rio | OSS117: Rio ne Répond Plus (2009)
sut: Michel Hazanavicius
pen: ###
Perancis

Film komedi ini membuat tertawa terbahak-bahak mulai dari awal hingga akhir. Film sekuel ini tidak mendapatkan sorakan seperti yang diberikan pada film pertamanya, mungkin karena film ini lebih membesar-besarkan ke-eksentrik-an karakter OSS satu-tujuh-belas soal ke-rasis-san dan ke-bebal-annya yang kali ini diarahkan pada Israel, Mossad, Yahudi, Nazi, Cina, dan sedikit pada generasi hippi, kaum gay, Amerika, Jerman, Muslim, dan bahkan negaranya sendiri juga dalam satu paket. Berani banget enggak?

Tetapi lelucon-lelucon yang terdapat di dalamnya, apalagi lelucon berulang soal OSS 117 yang tidak pernah kena tembakan meski dihujani tembakan bertubi-tubi dan lelucon adegan ‘kejar-kejaran’ di rumah sakit, amat sangat lucu membuat terbahak-bahak sampai sulit bernafas. Sambil menuliskan ulasan ini pun saya masih senyum-senyum kayak orang gila.

Tapi sudah banyak film komedi yang saya pikir sangat lucu malah dianggap garing oleh orang lain, jadi anggap saja selera komedi saya agak di luar jalur mainstream, dan jangan mudah percaya rekomendasi saya soal komedi. Rekomendasi buat yang bisa ketawa bahkan untuk film komedi ‘garing’.

8/10

OSS 117: Lost in Rio: rekomendasi bagi para penikmat komedi (17+)

The Artist

The Artist (2011)
sut: Michel Hazanavicius
pen: Michel Hazanavicius
Perancis

Saya sengaja menghindarkan diri dari segala hal film ini, termasuk tidak membaca ulasan-ulasannya, mengecek ratingnya di imdb, metacritic, dan rotten tomatoes, bahkan tidak menonton trailernya sama sekali. Karena khusus film-film yang saya rasa punya potensi untuk menjadi film yang greats (atas dasar buzz/rekomendasi), saya ingin tonton dalam keadaan ‘perawan’ (‘perjaka’ dalam kasus saya). Saya ingin merasakan pengalaman sinema yang murni, yang dari ‘tidak tahu’ menjadi ‘tahu’ saat sedang menonton, karena sebagai cinephile, tidak peduli akan berapa kali saya menonton sebuah film, kesan tontonan pertamanya tidak akan pernah hilang. Saya pernah dengan bodohnya men-spoil diri sendiri terhadap film The Usual Suspects (1995) sebelum menontonnya, yang meski tetap bisa saya nikmati dan apresiasi, saya tahu tidak akan berkesan sama seperti bila saya tidak tahu endingnya. Saya pastikan hal seperti ini tidak akan terjadi lagi.

Bukankah saat pertama kali menonton Sunrise: A Song of Two Humans, City Lights, The Godfather, Pulp Fiction, Fargo, City of God, A Separation, Taste of Cherry, Schindler’s List, Das Boot, Gandhi, Spirited Away, 2001, Singin’ in the Rain, Picnic At Hanging Rock, Taxi Driver, The Lives of Others, Memories of Murder, The White Ribbon, Scent of a Woman, The Readers, dan film-film greats yang lainnya, adalah pengalaman sinema yang luar biasa? (Argh, saya rela amnesia biar bisa menonton film-film tersebut untuk pertama kali lagi). Tentu anda tidak ingin pertama kali menonton film-film tersebut sudah spoiled bukan? Oke, berikut ulasan yang (semoga) bebas spoiler:

Tidak seperti ekspektasi saya, tapi tetap merupakan sebuah film yang solid. The Artist adalah film bisu dengan beberapa ‘sentuhan’ modern. Sebagai favorit utama calon pemenang film terbaik di oscar nanti, saya rasa film ini memang berpeluang besar melawan film-film solid lainnya karena ‘timing’ keunikannya sangat tepat dalam membawa ‘angin segar’ kembali ke dunia sinema, terutama karena ‘kepopuleran’ The Tree of Life (2011) sudah mulai menurun. Dan mungkin film ini dapat menghidupkan kembali seni film bisu sebagaimana Moulin Rouge (2001) terhadap film musikal.

Saya punya beberapa issue dengan film ini, tapi bukan sebagai sebuah film bisu maupun struktur naratifnya, tapi lebih kepada motivasi di balik beberapa aksi kedua karakter utamanya yang seperti tidak dipikirkan lebih dalam; kalaupun dipikirkan dengan dalam, tidak benar-benar sampai ke penonton. Di luar itu, sebuah film bisu modern yang bagus. ‘Dunianya’ sangat hidup.

Tidak direkomendasikan ke semua orang, karena merupakan sebuah film bisu tanpa dialog, hitam putih, ‘kotak’ lagi. Dan calon penonton yang niat nonton film ini pasti akan/sudah menontonnya tanpa perlu rekomendasi dari saya. Jadi saya merekomendasikan film ini buat yang penasaran, cobalah. Memang film ini bukan film bisu terbaik sepanjang masa, tapi mungkin dapat membuat anak-anak muda untuk tertarik dan mulai menonton karya-karya masterpiece di awal-awal sejarah sinema, oleh para pionir sinema.

8.5/10

The Artist: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)