ulasansingkat

sekedar ulasan (film) singkat

Tag Archives: michael haneke

Caché

Caché | Hidden (2005)
sut: Michael Haneke
pen: Michael Haneke
Perancis

Ini adalah kali ketiga saya menonton film ini, dan masih terus menemukan hal-hal baru meski tetap belum benar-benar mengerti film ini sepenuhnya. Namun satu hal yang pasti, ini film bagus.

Ada satu kutipan dari Haneke yang paling tidak bisa sedikit menjelaskan keputusannya untuk membuat film ini sangat ‘terbuka’: “I like the multiplicity of books, because each book is different in the mind of each reader. It’s the same with this film – if 300 people are in a cinema watching it, they will all see a different film, so in a way there are thousands of different versions of Caché (Hidden) (2005). The point being that, despite what TV shows us, and what the news stories tell us, there is never just one truth, there is only personal truth.

Film ini merangsang menuntut penontonnya untuk berpikir bahkan jauh melampaui apa yang disediakan plotnya, seperti yang terlihat di wawancara ini, lol: http://www.guardian.co.uk/film/2006/feb/19/worldcinema (mengandung sedikit spoiler).

9/10

Caché: rekomendasi dengan pujian yang tinggi (17+)

Iklan

The Seventh Continent

The Seventh Continent | Der Siebente Kontinent (1989)
sut: Michael Haneke
pen: Michael Haneke | Johanna Teicht
Austria

Baca pos ini lebih lanjut

Code Unknown: Incomplete Tales of Several Journeys

Code Unknown: Incomplete Tales of Several Journeys |
Code Inconnu: Récit Incomplet de Divers Voyages (2000)
sut: Michael Haneke
pen: Michael Haneke
Prancis | Jerman | Rumania

Sedikit tapi banyak. Frase tersebut memang seperti tidak masuk akal, tapi dapat dilabelkan kepada semua karya film feature dari sutradara Michael Haneke.

Film ini membawa kita masuk ke tengah-tengah kehidupan beberapa karakter yang saling bersinggungan satu sama lain secara “kebetulan”, dan menunjukkan pada kita banyak hal yang patut direnungkan, serta sebagai cermin untuk melihat diri kita sendiri sebagai seorang manusia. Sangat direkomendasikan bagi anda para penikmat sinema seni.

Tidak satu moment pun sepanjang durasi film ini yang terasa lambat, tapi bisa dimengerti bila penonton umum akan menemukan film ini bertempo lambat. Jadi bila pilihan tontonan anda lebih condong kepada jalur film mainstream, anda mungkin tidak akan dapat menikmati film ini.

9/10

Code Unknown: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

The Piano Teacher

The Piano Teacher | La Pianiste (2001)
sut: Michael Haneke
pen: Michael Haneke | Elfriede Jelinek (novel)
Perancis | Austria | Jerman

Jika anda sensitif mengenai hal penyiksaan seksual, hindari film ini. Film ini tidak bisa dikategorikan torture porn sebagaimana film-film lain dalam kategori tersebut, karena sebenarnya film ini lebih condong kepada psikologi visual dari “kelainan seksual (perversion)”.

Tidak direkomendasikan kepada para penonton biasa, meski film ini sebenarnya adalah film yang jenius dan “indah”. Ini adalah satu-satunya film dari sutradara Michael Haneke dimana subject matter yang dominannya adalah sex, dan ia memberikan kita sebuah karya yang “seksi” dan sekaligus “sakit” dalam waktu bersamaan.

Dan seperti semua film-film Michael Haneke, film ini hanya direkomendasikan kepada anda yang memiliki sensibilitas tertentu untuk mengapresiasi film yang bertempo lambat dan character-driven.

9.5/10

The Piano Teacher: Rekomendasi bagi penikmat film seni, tapi dengan peringatan. (21+)

Catatan: ada scene dimana seorang karakter diperlihatkan melukai bagian vitalnya sendiri, tidak grafik tapi sangat mengganggu.

Funny Games

Funny Games (1997)
sut: Michael Haneke
pen: Michael Haneke
Austria

Funny Games adalah film yang akan membuat anda terus memikirkannya hingga berhari-hari setelah menontonnya (ya, sedikit hiperbola). Film ini tidak bisa direkomendasikan ke sembarang orang, bukan hanya karena kontennya yang penuh violence (kekerasan/kekejaman), tetapi juga karena gaya atau tempo filmnya yang lambat dengan banyak build-up (tidak ragu-ragu dalam menggunakan durasi untuk membangun emosi/tensi/ketegangan).

Film ini jelas masuk ke dalam kategori film seni. Dan bagi anda yang tidak menyukai film yang bertempo lambat dan ‘sok seni’, silahkan lewatkan saja. Namun bagi anda yang punya ‘tulang seni’, film ini patut untuk ditonton dan akan membuat anda lebih menghargai satu bahasa sinema yang unik. Apalagi jika anda adalah seorang insan perfilman dan akademisi, film ini wajib tonton!

Film ini adalah film Michael Haneke pertama yang saya tonton, yang secara instan menjadikannya sebagai salah satu sutradara favorit saya pribadi. Saya telah menonton seluruh filmografinya, dan saya bisa mengatakan, bahwa Michael Haneke adalah satu-satunya sutradara (yang sudah saya tonton keseluruhan filmografinya) yang belum pernah membuat film yang ‘buruk’ atau miss.

9.5/10

Funny Games: Rekomendasi bagi penikmat film seni, tapi dengan peringatan. (21+)

Catatan: violence yang terdapat dalam film ini kebanyakan terjadi offscreen, tetapi tetap sangat brutal dan mengganggu.

Ten

Ten (2002)
sut: Abbas Kiarostami
pen: Abbas Kiarostami
Iran

Waw. Para cinephiles harus bersyukur ada seorang filmmaker yang membuat film-film seni berkualitas dan sekaligus memberikan sebuah variasi rasa terhadap dunia sinema, memperkaya dunia kita. Namanya adalah Abbas Kiarostami.

Film ini menceritakan percakapan seorang wanita di atas mobil, dalam sepuluh “moment”. Seluruhnya, setiap kali, hanya terdapat dua orang, di atas mobil, bicara. Dan bicara. Dan gestur-gestur. Dua shot cut-to-cut antar pengemudi dan penumpang. Dan terus bicara.

Tapi jangan salah sangka dulu. Memang konsepnya kedengaran “sok”, seperti seorang sutradara “sok seniman-yang-bikin-pilem-seni”, padahal sama sekali tidak perduli dengan penontonnya. Tidak. Film ini jauh dari hal itu. Film ini sangat dalam dalam studi karakternya, studi kultural menyangkut kehidupan wanita di Iran, dan seperti biasanya, mengandung kehebatan Abbas Kiarostami dalam membaurkan fiksi dan kenyataan.

Sangat direkomendasikan kepada para pecinta sinema seni, pecinta sastra studi karakter, dan anda yang ingin sekedar melihat kultur Iran dari sebuah sudut pandang yang unik.

Seorang sutradara favorit saya pribadi, Michael Haneke, pernah mengatakan, “My favourite film-maker of the decade is Abbas Kiarostami. He achieves a simplicity that’s so difficult to attain.”

9.5/10

Judul: Rekomendasi bagi para cinephiles (BO)

Uncertified Copy

Uncertified Copy | Copie Conforme (2010)
sut: Abbas Kiarostami
pen: Abbas Kiarostami
Prancis | Italia | Belgia

Rasanya kurang cocok bila dikatakan film ini adalah Before Sunrise (1995) ala Kiarostami. Film ini memiliki sesuatu yang “lebih” di balik permukaannya. Terdapat pertukaran dialog yang cerdas dan akting yang cemerlang dari kedua protagonisnya.

Juliette Binoche adalah aktor kawakan yang kemampuan aktingnya tidak perlu dipertanyakan lagi sehingga sudah tidak mengejutkan bila ia mampu memberikan penampilan yang hebat di film ini. Namun lawan mainnya, William Shimell, juga berhasil memberikan penampilan yang luar biasa, dan membuat tidak sabar untuk melihat penampilannya di film terbaru Michael Haneke.

Saya tetap sangat menyukai film ini meski tidak terlalu dibikin “wah” seperti karya-karya Kiarostami yang lain, dan merekomendasikannya bagi para pecinta sinema.

7.5/10

Uncertified Copy: Rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

Taste of Cherry

Taste of Cherry / Ta’m e Guilass (1997)
sut: Abbas Kiarostami
pen: Abbas Kiarostami
Iran

Jika anda familiar dengan karya-karya Abbas Kiarostami, tentu anda akan menyadari bahwa film ini juga tidak akan bisa dinikmati sebagaimana anda menikmati film-film mainstream Hollywood. Bisa dikatakan, film-film Abbas Kiarostami adalah opposite film-film Hollywood. Jika film-film Hollywood berada di satu sisi koin, maka film-film Kiarostami berada di sisi lain koin lain. ^_^

Dengan begitu, saya tidak bisa merekomendasikan Taste of Cherry kepada anda yang tidak menyukai film-film dengan tempo lambat dan sangat character-driven (film yang lebih condong kepada karakter, bukan kepada plot). Sebaliknya, bagi anda yang menyukai film-film seni dengan pendekatan filmmaking yang minimalis dan penuh filosofi, serta dapat menghargai karya yang beraliran eksistensialisme, anda akan menemukan film ini sangat indah hingga sukar untuk dideskripsikan dengan kata-kata (berasumsi anda bukan seorang pujangga, ^_^).

Selagi menonton film ini, saya teringat kepada film-film Michael Haneke, hanya saja tanpa violence. Jika film-film Michael Haneke memperlihatkan sisi kehidupan yang kelam dan brutal atau negatif, film-film Abbas Kiarostami memperlihatkan sisi kehidupan yang positif(?) tanpa menjadi melodramatis.

10/10

Taste of Cherry: Rekomendasi bagi para penikmat film seni (13+)