ulasansingkat

sekedar ulasan (film) singkat

Tag Archives: Jepang

My Neighbour Totoro

My Neighbor Totoro | Tonari no Totoro (1988)
sut: Hayao Miyazaki
pen: Hayao Miyazaki
Jepang

Mari mulai tahun baru dengan film yang memiliki ‘hati’ yang polos dan murni, salah satu kisah terbaik sepanjang masa, Tonari no Totoro.

Film ini adalah film ajaib dan pantas untuk direkomendasikan kepada semua orang segala usia. Film ini amat sangat menghibur, memberikan kesegaran yang sulit didapatkan dari film lain, dan membawa kita ke dunia masa kecil yang penuh dengan hal-hal menakjubkan.

Dari aspek naratifnya, film ini sangat unik dan orisinal. Film ini bisa dikatakan tidak memiliki plot, atau punya plot tapi sangat tipis. Namun anehnya sangat nikmat diikuti dari awal hingga akhir, sangat ringan dan membawa kebahagiaan.

Jika anda merupakan penggemar film-film dari studio Ghibli, atau sekedar penggemar anime secara umum, atau bahkan sekedar penikmat sinema secara umum, My Neighbour Totoro patut untuk anda tonton. Kalau bisa, usahakan jangan tonton versi dubbing Amerikanya, karena menurut saya ‘keajaiban’-nya jauh berkurang. Tonton versi aslinya.

9.5/10

My Neighbour Totoro: Rekomendasi dengan pujian yang tinggi. (SU)

Iklan

Tetsuo the Iron Man

Tetsuo the Iron Man | Tetsuo (1989)
sut: Shinya Tsukamoto
pen: Shinya Tsukamoto
Jepang

Ceritanya, sederhana saja. Awalnya memang agak sulit dipahami, tetapi kemudian akan jelas sendiri. Yang menarik adalah cara penyampaiannya. Dan yang lebih menarik lagi, adalah bentuk/gaya filmnya.

Sisi eksperimental dari visual dan spesial efeknya disertai musik ‘metal’ (bukan genre metal, tapi metal yang elemen, besi gitu, ^_^) memberikan film ini ‘energi’ yang biasanya hanya dapat ditemukan di film-film sureal ekperimental semacamnya. Kalau mengambil contoh karya-karya sutradara barat, coba bayangkan film-film David Lynch atau Alejandro Jodorowsky namun memiliki semangat punk rock metal. Kalau sutradara timur, mungkin banyak, tapi saat ini saya hanya bisa teringat Takashi Miike. Intinya, film ini tipe film yang semacam itu, yang aura kejeniusan ada terpancar dari ‘chaos’ di sepanjang durasinya.

8/10

Tetsuo: rekomendasi bagi para cinephiles (17+)

Real Steel

Real Steel (2011)
sut: Shawn Levy
pen: John Gatins | Dan Gilroy (story) | Jeremy Leven (story)
A.S.

Sepertinya, meski bila anda tidak tahu apa-apa mengenai film ini dan mendapat persepsi yang salah dari posternya sehingga mengira ini adalah film aksi semacam Transformers (2007), anda tetap dapat terhibur.

Film “keluarga” ini sangat solid dalam karakterisasi dan karakter arc-nya. Tidak memberikan sesuatu yang baru, tetapi mendaur kisah dan karakter-karakternya sehingga terasa fresh.

Menurut saya Shawn Levy yang terkenal membuat film-film komedi keluarga, sangat mengejutkan saat mampu mengeluarkan drama dan emosi dalam hampir setiap adegan aksi di film ini. Dan salah satu faktornya adalah karena mungkin ia dengan sadar menghindari gimmick populer adegan aksi seperti editing super cepat dengan kamera handheld. Adegan aksinya ditampilkan dengan rapi sehingga mudah untuk diikuti, dan memberi kesempatan untuk membiarkan dramanya tersampaikan. Memang ada yang saya rasa lebih bisa dramatis lagi, tetapi selebihnya sudah sangat mengagumkan.

Dan desain robot-robotnya juga sangat menarik. Terutama desain robot protagonis yang “wajah”-nya sederhana dan sama sekali tanpa ekspresi, namun mampu menimbulkan simpati pada penonton.

Bila dibandingkan dengan Wall-E (2008) (yang merupakan sebuah film yang luar biasa), yang memiliki artificial inteligence serta suara, wajah, dan gestur yang ekspresif, sangatlah kontras dengan robot yang di permukaannya “robot (blank)” banget ini dalam hal emosi yang mereka pancarkan. Robot utama dalam film Real Steel ini adalah karakter yang sangat unik menurut saya, apalagi namanya mengingatkan pada salah satu ikon manga dari Jepang.

Dan saya pribadi sangat menyukai bagaimana cara para filmmakernya “menangani” karakter ini, dalam hal screentime dan mengarahkan fokus penonton pada “karakter”nya. Saya ingin menjelaskan maksud saya, tetapi tidak ingin anda jadi terlalu fokus padanya, padahal hanya hal yang menarik bagi saya pribadi. Maafkan bila ulasan ini jadi terlalu condong ke karakter robot yang sebenarnya hanya pendukung di film, tetapi karakter inilah yang paling berkesan bagi saya.

Dan soal efek CGI dan animatronics-nya, kadang-kadang memang sempat terlihat “kepalsuannya”, tetapi robot-robot di film ini memiliki “massa” dan menempati ruang, terlebih lagi dengan gerakan-gerakan yang realistis banget (karena menggunakan teknik motion-capture oleh petinju profesional di bawah pengawasan Sugar Ray Leonard). Sangat direkomendasikan.

8/10

Real Steel: Rekomendasi bagi cinephiles dan penonton kasual (BO)

Paprika

Paprika | Papurika (2006)
sut: Satoshi Kon
pen: Yasutaka Tsuitsui (novel) | Seishi Minakami | Satoshi Kon
Jepang

Film yang sangat orisinal dan menarik. Dalam hal ide dasar yang menjadi pondasi naratif film ini, saya masih bingung untuk menentukan, apakah ide tersebut rumit atau malah sederhana. Silahkan anda tentukan sendiri setelah menontonnya.

Baca pos ini lebih lanjut

Lost in Translation

Lost In Translation (2003)
sut: Sofia Coppola
pen: Sofia Coppola
A.S.

Lost In Translation adalah salah satu film favorit saya, yang tidak perduli berapa kalipun saya menontonnya selalu hanyut dan terpukau. Bila anda bosan dengan film-film mainstream dengan formula yang itu-itu saja, maka film ini harus anda tonton. Film ini sangat tidak konvensional dengan struktur dan pace ceritanya dan akan membawa nuansa segar serta mengembalikan kepercayaan anda kepada “kekuatan” medium film.

Saya pribadi sangat menikmati company kedua protagonis dan setiap kali menontonnya selalu hanyut dan lupa waktu. Dan saat karakter Bill Murray mengatakan sudah akan pulang besok, saya lalu menjadi sadar bahwa film ini sudah akan selesai dan menjadi “sedih” karena masih ingin “berlama-lama” bersama mereka. Dan endingnya sendiri meski agak melodramatis (lebay) namun tetap menyentuh hati.

Saya sangat merekomendasikan film ini bagi para cinephiles. Saya harap anda juga dapat menikmati film yang luar biasa ini.

9/10

Lost In Translation: rekomendasi dengan pujian yang tinggi (13+)

Grave of the Fireflies

Grave of the Fireflies | Hotaru No Haka (1988)
sut: Isao Takahata
pen: Akiyuki Nosaka (novel) | Isao Takahata
Jepang

Film ini sangat menyentuh hati tanpa perlu menjadi melodramatis. Drama di dalam film ini mengalir dengan natural dan melarutkan penonton ke kehidupan kedua protagonis di masa kekalahan Jepang dalam perang dunia kedua. Film ini benar-benar berhasil “menangkap” hal-hal yang membuat kehidupan saat itu sangat sulit, dan membuatnya membelit kehidupan kedua protagonis.

Saya tidak tahu apalagi yang harus dikatakan mengenai film yang sangat menyentuh ini selain merekomendasikannya dengan pujian yang besar bagi anda para penikmat sinema. Tontonlah film ini, semoga kita semua bisa menjadi lebih bijaksana di masa depan.

8/10

Grave of the Fireflies: Rekomendasi dengan pujian yang tinggi. (13+)

13 Assassins

13 Samurai | 13 Assassins | Jûsan-nin No Shikaku (2010)
sut: Miike Takashi
Jepang

Saya tidak terlalu yakin mengenai benar tidaknya Takashi Miike mencoba menandingi kehebatan Seven Samurai (1954)-nya Kurosawa, dengan menerapkan struktur naratif yang mirip, hanya saja dengan menggandakan jumlah samurainya. Saya bahkan tidak yakin bila Miike sekedar mencoba me-remake Seven Samurai untuk generasi modern.

Saya rasa film ini dibuat hanya untuk mendapatkan uang, sekedar film aksi yang fun dan blockbuster ala Michael Bay. Kita bisa melihat bahwa Miike bahkan tidak mencoba memberi depth pada ceritanya maupun menyisipkan momen-momen yang “Miike banget”.

Jadi, sebagai film aksi yang penuh dengan adegan memukau, film ini sudah lumayan menghibur, dan cukup pantas untuk direkomendasikan untuk ditonton di waktu luang anda bersama teman-teman.

Film ini memiliki beberapa hal yang lumayan menonjol, seperti casting-nya. Para aktor yang dipilih memang (menurut saya) masih kalah jauh dari para aktor di Seven Samurai, tetapi mereka sudah cukup baik. Mereka bahkan punya potensi untuk tampil lebih baik lagi bila didukung dengan skenario yang lebih dipoles.

Namun hal yang paling menonjol dari film ini adalah editing-nya. Benar-benar potongan yang cermat yang tetap memberikan koherensi di suasana yang kacau di sekuens pembantaian di bagian kedua film ini.

Saya merekomendasikan film ini, tetapi jangan mengharapkan sebuah masterpiece seperti Seven Samurai.

Mirip: Seven Samurai (1954), Crow Zero (2007), The Magnificent Seven (1960), Black Hawk Down (2001).

7.5/10

13 Samurai: Rekomendasi bagi pecinta film aksi yang menghibur. (21+)

—–

Catatan: ada adegan eksploitasi yang menampilkan seorang gadis dengan tangan dan kaki yang buntung, serta banyak adegan violence, yang dapat mengganggu sebagian orang.