ulasansingkat

sekedar ulasan (film) singkat

Tag Archives: Jakarta

Jakarta Maghrib

Jakarta Maghrib (2010)
sut: Salman Aristo
pen: Salman Aristo
Indonesia

Secara teknis, masih terasa seperti student-film. Agak sulit menjelaskannya, tapi akan terasa sendiri saat menontonnya. Namun secara konten, film ini memiliki banyak ide-ide, simbolisasi, dan pesan yang menggugah.

7/10

Jakarta Maghrib: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

Iklan

Dilema

Dilema (2012)
sut: ####
pen: #####
Indonesia

Baca pos ini lebih lanjut

Fiksi.

Fiksi. (2008)
sut: Mouly Surya
pen: Joko Anwar | Mouly Surya
Indonesia

Film ini adalah film 2008 terbaik versi FFI, dengan 10 nominasi dan 4 menang. Mendapat pengakuan dari dalam dan luar negri. Film ini rilis tahun 2008, dan sekarang sudah (masih awal sih) 2012. Dan saya baru saja kelar menonton film ini. Cinephile macam apa saya ini!

Di antara film-film Indonesia yang telah saya tonton (yang jumlahnya masih sedikit), film ini termasuk salah satu yang terbaik. Karakter-karakternya hidup, ceritanya bagus, dan dibuat dengan baik. Saya pribadi sangat menyukai castingnya, paling tidak 3 karakter utama, dan terutama Ladya Cheryl. Mengapa ia tidak main di lebih banyak film lagi (mungkin ia sedang menunggu materi yang tepat untuk dirinya, yang mana merupakan smart move IMO)?

Bila anda juga belum menonton film ini, saya sangat merekomendasikannya.

8/10

Fiksi.: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

Garuda di Dadaku 2

Garuda di Dadaku 2 (2011)
sut: Rudi Soedjarwo
pen: Salman Aristo
Indonesia

Sinematografinya sangat bagus. Shot-shotnya indah dan sinematik. Aktingnya pada bagus-bagus. Musiknya mantap dan mendukung atmosfir gambar. Drama plot dan jalan ceritanya cukup menarik.

Dua hal yang menurut saya masih kurang, salah satunya adalah selain karakter Bayu si protagonis, tidak ada lagi karakter yang didevelop sehingga hampir semua karakternya hanya menjadi ‘alat/pion’ cerita. Serasa seperti film Harry Potter gitu. Begini, skenarionya sangat bagus, dengan adegan-adegan, jalan cerita, drama, dan ide yang semuanya sangat cerdas. Yang kurang bagi saya adalah karakterisasi. Sebenarnya film ini banyak memiliki karakter-karakter yang berpotensi menjadi ‘bulat’ bila di-‘perlakukan’ dengan lebih baik, seperti Pak Pelatih, Yusuf si anak Makassar, Rama yang jadi kapten, bapaknya Anya, pacar mamanya Bayu, si Effendi yang jadi cadangan terus, dll. Bila para insan di balik layar punya/mau meluangkan sedikit lebih banyak waktu lagi, dengan mengerjakan satu draft lagi yang khusus meng-‘tweak’ sisi karakterisasi dari skenarionya, saya yakin film ini akan menjadi lebih luar biasa lagi. Ini menurut saya saja, sih. Memang gampang mengkritik. Melakukannya susah. Bagi saya, penulis skenario film terbaik Indonesia saat ini adalah Salman Aristo.

Hal yang kedua yang menurut saya kurang adalah adegan/sekuens pertandingannya sendiri. Dengan sinematografi yang indah, editing yang tajam, dan musik yang menderu selayaknya film Hollywood, namun kita malah sulit mengikuti permainan bolanya sendiri. Menurut tebakan saya, anak-anak itu hanya disuruh bermain seperti biasa (dengan beberapa instruksi tertentu tentunya), yang baru kemudian diedit agar sesuai dengan cerita. Singkatnya, tidak dikoreografi. Sehingga hanya terdapat sedikit drama di sana. Tidak maksimal.

Hanya dua hal itu saja, sih. Secara keseluruhan, film ini sangat bagus, menghibur dan memuaskan. Dan yang paling penting sangat sinematik. Sangat direkomendasikan bagi para penggemar drama + olahraga. Tidak aneh bila Rudi Soedjarwo bangga terhadap film ini.

7/10

Garuda di Dadaku 2: rekomendasi bagi para cinephiles (BO)

Simfoni Luar Biasa

Simfoni Luar Biasa (2011)
sut: Awi Suryadi
pen: Maggie Tjiojakin | Awi Suryadi
Indonesia

Akting para pemeran pendukung pada bagus selain akting Christian Bautista yang rada kaku. Bahkan cara jalannya pun sangat kaku. Jadi ingat satu kalimat di novel Harry Potter: (kurang lebih) “Harry tiba-tiba menjadi sadar akan kedua tangannya”. Maaf kalo gak nyambung.

Ceritanya monoton, karakter-karakternya pada one dimensional, hubungan karakter Jayden dengan anak-anak tidak terpoles sama sekali, hubungan Jayden dengan Laras (nama karakter ini mudah terlewatkan bila anda tidak perhatian) sekedar ada untuk “ada”. Satu-satunya “orang jahat” (si guru yang gak suka Jayden) juga sekedar ada untuk “ada”. Film ini juga menurut saya kurang cocok dibilang musikal, dan lebih tepatnya film drama yang ada unsur musiknya.

Saya hanya merekomendasikan film ini untuk waktu senggang saat tidak ada film lain yang menarik, atau saat tidak kebagian kursi bagus di film lain. Hanya karena terdapat lelucon konyol yang memanfaatkan perbedaan bahasa.

“I tits (teach)”, “selalu always”, “same-same (sama-sama)”, dll.

5.5/10

Simfoni Luar Biasa: Bila ada waktu luang (13+)

Pengkhianatan G 30 S/PKI

Pengkhianatan G 30 S/PKI (1984)
sut: Arifin C. Noer
pen: Arifin C. Noer | Nugroho Notosusanto (story)
Indonesia

Karena besok sudah tanggal 30 September, saya memutuskan untuk menonton dan mengulas film Pengkhianatan G 30 S/PKI. Tapi tolong ingat, ulasan ini tidak formal dan hanya opini pribadi, jadi tolong maafkan bila terasa “loncat-loncat”.

Baca Ulasannya

The Year of Living Dangerously

The Year of Living Dangerously (1982)
sut: Peter Weir
pen: C.J. Koch (novel) | C.J. Koch | Peter Weir | David Williamson
Australia

Di film The Year of Living Dangerously, sebenarnya saya melihat peristiwa G 30 S 1965 hanya sekedar backdrop bagi karakterisasi karakter-karakter utamanya. Sepertinya Peter Weir hanya tertarik untuk membuat “film karakter”. Dan memang hasilnya merupakan sebuah film yang luar biasa kompleks yang berhasil menjadi lebih dari sekedar “reka fiksi sebuah peristiwa bersejarah” belaka melampaui sekedar ideologi politik.

Menurut saya, Picnic At Hanging Rock (1975) akan selamanya menjadi film terbaik Peter Weir, tetapi film ini juga sangat luar biasa dalam kompleksitas jalan cerita dan para karakternya, dan pantas untuk direkomendasikan bagi para cinephiles, terutama cinephiles-nya Indonesia. Perlu diingat, terdapat hal-hal yang masih kontroversial hingga hari ini yang dianggap benar di dalam film sehingga dapat mengalihkan perhatian penonton (seperti surat rahasia dari Singapura soal pengiriman senjata dari Shanghai dan percobaan kudeta oleh PKI (salah satu anggota PKI mengatakan “kami gagal”)), tetapi secara keseluruhan, anda akan menonton sebuah film yang sangat brilian.

8/10

The Year of Living Dangerously: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)