ulasansingkat

sekedar ulasan (film) singkat

Tag Archives: Inggris

The Cook, The Thief, His Wife, and Her Lover

The Cook The Thief His Wife and Her Lover (1989)
sut: Peter Greenaway
pen: Peter Greenaway
Prancis | Inggris Raya

Baca pos ini lebih lanjut

Iklan

Four Lions

Four Lions (2010)
sut: Christopher Morris
pen: ####
Inggris

Asli orisinal dan luar biasa. Menceritakan 5 muslim Inggris yang merencanakan bom-bunuh-diri. Tetapi mereka bukanlah tipe orang yang bisa anda sebut kompeten, atau cerdas. Komedinya sebagian besar memang datang dari hal ini, tetapi mereka bukan sekedar karakter-karakter ‘bodoh’ klise semata. Masing-masing dari mereka sangat unik dan menarik, berkat paduan istimewa dari skenario, pengarahan, dan akting.

Sumpah, sepanjang film ini dapat membuat tertawa keras terbahak-bahak. Saya menonton film ini lumayan larut malam, dan harus terus-terusan mengingatkan diri untuk tidak tertawa terlalu keras. Tetapi saat komedi berikutnya muncul lagi, jadi lupa lagi. Menurut saya komedinya jenius. Komedinya datang beruntun seperti senapan mesin. Punchline demi punchline datang saling susul. One-liners-nya juga sangat cerdas dan banyak dan sering datang tiba-tiba. Dan film ini cukup punya sesuatu yang ingin disampaikan di balik komedi konyolnya, dan saya pikir lumayan dalam.

Tetapi harus saya tuliskan, bahwa komedinya memang ‘Inggris banget’. Bagi yang tidak familiar dengan kultur dan ‘cara bicara’ orang Inggris, kemungkinan besar komedinya akan ‘lewat’ dan malah bikin bingung karena sebagian besar tidak visual. Saya sendiri bukan orang Inggris (tentu saja, duh!) dan belum pernah ke sana, tetapi saya sudah lumayan cukup banyak menonton film-film mereka (paling tidak yang bisa memberikan gambaran kondisi kultur Inggris kontemporer), sehingga kurang lebih dapat menikmati film ini.

Jadi meski saya pribadi sangat menyukai film ini, tetap tidak direkomendasikan untuk ‘kita’ (orang Indonesia). Tentu saja film ini tidak bermaksud jadi eksklusif, hanya target penontonnya agak spesifik. Sebagai perbandingan, beberapa hal kultural di film Sang Penari (2011) tentu tidak akan bisa dimengerti sepenuhnya oleh orang Inggris, kecuali mungkin oleh Gareth Evans atau yang sudah familiar dengan beberapa budaya kita.

8.5/10

Four Lions: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

Hugo

Hugo (2011)
sut: Martin Scorsese
pen: John Logan
A.S.

Film fantasi dongeng anak-anak ini oleh Martin Scorsese, lho! Yang pertama buat dia. Selain itu film ini juga sebenarnya adalah syair pujian/ode untuk masa awal-awal sejarah sinema dimulai, secara spesifik untuk George Méliès. Dan di film ini juga Scorsese dapat mengekspresikan rasa cintanya yang sangat besar pada sinema di luar medium film-film dokumenter. Tetapi saya sulit untuk menikmatinya.

Saya sangat ingin dan telah berusaha untuk bisa menyukai film ini. Film ini dibuat oleh orang yang tidak diragukan lagi kecintaan dan pengetahuannya yang sangat luas terhadap dunia sinema. Film ini secara internasional diklaim sebagai film yang luar biasa. Tapi saya tidak ingin membohongi diri sendiri dan lalu ikut arus: saya tidak suka ceritanya.

Paling tidak kisah karakter protagonisnya, Hugo. Di sepertiga akhir durasinya film ini baru mulai menarik ketika cerita beralih menjadi mengenai George Méliès. Tapi di dua-per-tiga awal durasinya film ini tidak ‘ke mana-mana’.

Tapi saya tetap salut terhadap film ini karena memperkenalkan penonton awam kepada sejarah awal sinema, terutama terhadap George Méliès. Semua klip-klip film yang dimasukkan adalah dari film-film pionir yang sangat penting dalam sejarah sinema. Dan disajikan dalam film dengan teknologi tinggi dan 3d lagi! Oiya, film ini juga 3d pertama buat Scorsese. Film ini dikomposisi dan di-staging dengan konsep 3d dari sananya, bukan post-convert. Saya memang cuma menonton yang 2d-nya, tapi dari shot-shotnya saya lumayan bisa membayangkan 3d-nya pasti luar biasa. James Cameron saja bilang film ini penerapan 3d terbaik yang pernah ia lihat: youtu.be/DFJZ1HKybZA

Jadi kesimpulannya, secara teknis dan ambisi, film ini luar biasa. Tapi secara naratif, saya pribadi kurang suka. Tapi direkomendasikan bagi para cinephiles dan penikmat cerita fantasi.

6.5/10

Hugo: rekomendasi bagi para cinephiles (BO)

——————–

Disclaimer: mungkin anda heran, kenapa saya memberi film ini rating yang lebih rendah dari misalnya film This Means War. Itu karena saya menilai setiap film atas dasar merit-nya sendiri. This Means War tidak berusaha menjadi lebih daripada kapasitas genre-nya saja. Kita bisa melihat seberapa jauh pencapaian yang ingin diraih oleh sebuah film setelah menontonnya dan bila berhasil atau bahkan melebihi, kita akan menemukan sebuah film greats yang dapat menawan dan artistik sekaligus.

Tinker Tailor Soldier Spy

Tinker Tailor Soldier Spy (2011)
sut: Tomas Alfredson
pen: ###
Inggris Raya

Dari novel yang cukup terkenal, dan pernah diadaptasi menjadi miniseri televisi yang populer di Inggris pada akhir 70an, kisah ini sudah sangat terkenal di Inggris. Menceritakan tentang George Smiley yang ingin menemukan mata-mata Rusia yang menyusup ke dalam badan intelijen Inggris.

Kisah ini tidak seperti kisah mata-mata yang lain yang penuh adegan aksi dan kejar-kejaran. Kisah ini lebih ‘pendiam’. Dan realistis. Filmnya sendiri memiliki sinematografi dan atmosfir yang khas. Departemen aktingnya dipenuhi jajaran aktor-aktor kawakan Inggris, bisa dibilang Harry Potter untuk penonton dewasa. Film ini juga disutradarai oleh Tomas Alfredson, yang membuat Let The Right One In (2008), yang menurut saya adalah film vampir terbaik sepanjang masa.

Namun meski memiliki semua hal itu, ternyata saya kurang bisa menikmati film ini. Gaya penyutradaraan Alfredson yang diterapkan ke film ini masih kurang lebih mirip dengan gaya penyutradaraannya di Let the Right One In, yang secara konsep seharusnya sangat pas untuk mengeksekusi kisah ini. Akting-akting dari bintang-bintangnya pun tidak ada yang lemah, bahkan semuanya luar biasa.

Tetapi menurut saya film ini agak kurang dalam hal yang paling vital dalam film, yaitu skenarionya (saya sadar kok skenarionya dapat nominasi Oscar). Cara skenarionya ‘menguraikan’ kisahnya terlalu ‘berani’ dalam ‘menyelubungi’ informasi dari penonton, sehingga selain membuat sulit untuk mengikuti apa yang sedang terjadi dan mau ke mana kisah ini menuju, kita juga sulit untuk peduli pada para karakternya. Dan kekurangan dari skenario ini juga akhirnya berdampak negatif pada pace film secara keseluruhan.

Meski begitu, selagi menontonnya saya tetap dapat merasakan bahwa film ini berkelas tinggi. Jadi mungkin saya harus menontonnya sekali lagi untuk dapat benar-benar meresapi apa yang mungkin terlewatkan di kali pertama. Tapi tetap saja, bagi penonton yang hanya ingin rileks dan mencari hiburan, film ini tidak direkomendasikan.

6.5/10

Tinker Tailor Soldier Spy: … (13+)

Negeri 5 Menara

Negeri 5 Menara (2012)
sut: Affandi Abdul Rachman
pen: Salman Aristo
Indonesia

Bagus, keren, mantap, solid, brilian, cerdas, (kata pujian berlanjut terus).
Kisahnya digarap dengan baik sekali, skenarionya mengagumkan. Teknisnya juga baik sekali. Namun performances yang terdapat di dalamnya adalah yang paling luar biasa. Semuanya sangat natural, seakan-akan para karakternya beneran hidup di dunia itu, dengan karakteristik sifat, sikap, jalan pemikiran masing-masing, membuat para karakter ini seperti orang-orang nyata yang pernah kita temui di luar bioskop. Selain untuk para aktornya yang dicasting dengan sangat baik, juga merupakan credit buat penulis dan sutradaranya.

Secara universal film ini membuat mudah untuk beridentifikasi terhadap momen-momen persahabatan sejati yang kita semua pasti pernah alami diumur segitu. Persahabatan sejati yang murni tanpa adanya pengaruh latar belakang, politik maupun motivasi tertentu. Segalanya terjadi begitu saja. Dan momen-momen ini berhasil dicapture dengan baik.

Film ini bagus sekali, amat sangat direkomendasikan. Sebuah film persahabatan yang kaya drama dan komedi. Membuat hati riang dan ringan setelah keluar bioskop, sebagai cermin terhadap diri kita sendiri, dan terus mungundang untuk mengunjungi dunianya lagi.

8.5/10

Negeri 5 Menara: rekomendasi bagi para cinephiles dan penonton kasual (SU)

The King’s Speech

The King’s Speech (2010)
sut: Tom Hooper
pen: David Seidler
Inggris Raya

Film yang baik memberikan ceritanya dengan baik, berhasil menangkap poin-poin dramanya dengan baik, terus berhasil mengikat perhatian penonton dengan ketertarikan mereka pada tokoh protagonisnya, memiliki development karakter, dan menyampaikan sesuatu yang melampaui cerita yang disampaikan. Dan di film ini tidak ada tokoh antagonis yang benar-benar ‘antagonis’ membuatnya sangat ringan. Skenario yang luar biasa.

Film ini memiliki semua itu, sehingga sangat direkomendasikan.

Baca pos ini lebih lanjut

Murder on the Orient Express

Murder on the Orient Express (1974)
sut: Sidney Lumet
pen: Paul Dehn | Agatha Christie (novel)
Inggris

Film detektif-detektifan. Drama prosedural untuk memecahkan misteri pembunuhan di sebuah kereta, dengan setting tahun 1930an.

Serius, film ini film prosedural untuk mencari seorang pembunuh, oleh detektif Poirot. Jadi film ini dipenuhi eksposisi wawancara dan investigasi. Anda pasti dapat mengetahui sendiri, apakah anda dapat menikmati film yang lambat dan banyak dialog. Bila selera film anda luas dan bervariasi, yaitu anda dapat menikmati berbagai macam jenis film, kemungkinan besar anda dapat menikmati film ini. Tapi bila tidak, sebaiknya tidak usah repot-repot untuk film ini.

Saya hanya bisa mengatakan, bahwa film ini mengandung gaya directorial prosedural khas Sidney Lumet kurang lebih masih mirip dengan 12 Angry Men (1957) dengan rasa claustrophobic-nya, penuh dengan akting-akting yang mengagumkan dari para bintang yang main di dalamnya, serta skenario adaptasi yang memiliki ‘jiwa’-nya sendiri. Rekomendasi bagi para cinephiles dan penikmat misteri serta penggemar novelnya dan Poirot secara umum.

7.5/10

Murder on the Orient Express: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

The Iron Lady

The Iron Lady (2011)
sut: Phyllida Lloyd
pen: Abi Morgan
Inggris Raya

Menarik, mudah dinikmati, dan keputusan atas bentuk naratifnya membuatnya cukup menghibur dan informatif untuk penonton yang tidak mengenal Margaret Thatcher (termasuk saya) sama sekali.

Film ini mendapatkan mixed reviews karena banyak kritik yang menyayangkan hasil eksekusi film ini yang melewatkan banyak kejadian bersejarah hanya dengan montase atau berlalu begitu saja. Kalau menurut saya, film ini baik-baik saja. Mungkin karena saya tidak tahu sejarah. Dan mungkin karena ketidaktahuan itu pula saya lalu tidak membawa ekspektasi apa-apa, dan tidak menunggu bagaimana para filmmakernya akan mengeksekusi momen sejarah yang akan datang berikutnya di setiap momen sejarah yang baru terjadi di layar, entah hal ini kerugian atau keuntungan.

Dari pengamatan saya, film ini lebih kepada eksplorasi/eksploitasi karakter Margaret Thatcher. Meski begitu saya menganggapnya sangat tidak etis untuk menyuapi penonton pendapat mereka (para filmmakernya) mengenai apa yang ada di dalam kepala Margaret Thatcher seolah-olah karakternya itu merupakan fiksi mereka dan bukan manusia nyata yang tidak mungkin bisa mereka ketahui secara benar apa yang ada dipikirannya dan membawa pendapat mereka itu ke dalam film ini. Tapi pada akhirnya film ini tidak bermaksud mendiskreditkan secara tidak adil dan penampilan Meryl Streep sebagai sang perdana menteri menjadikannya film yang cukup menghibur sekaligus informatif untuk dapat direkomendasikan.

7/10

The Iron Lady: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

Stuart: A Life Backwards

Stuart: A Life Backwards (2007)
sut: David Attwood
pen: Alexander Masters (buku)
Inggris Raya

Kalau membicarakan TDKR, nama Tom Hardy pasti muncul. Lalu kemudian film-film terdahulunya juga muncul. Salah satu diantaranya yang banyak direkomendasikan adalah film ini. Tadinya saya tidak terlalu antusias karena film ini adalah FTV. Tapi ketika saya berhasil mendapatkannya (jangan tanya darimana), saya tetap meluangkan waktu untuk menontonnya. Dan waktu yang saya luangkan itu ternyata tidak sia-sia.

Film ini menceritakan kisah memilukan dari Stuart, seorang alkoholik dan pecandu heroin yang menderita “penyakit saraf/otot(?))” yang bertemu dengan seorang penulis yang tertarik untuk membukukan kehidupannya. Stuart menyarankan untuk menuliskan kehidupannya dengan terbalik, mulai dari dirinya yang dewasa ini hingga ke masa kecilnya yang suram.

Film ini sangat menarik sebagian besar berkat akting yang mengagumkan dari Tom Hardy. Lalu eksekusinya. Production value yang rendah bisa terlupakan berkat kisah, dan terutama karakter protagonisnya yang unik. Juga terkadang sangat sulit menangkap semua kalimat yang diucapkan protagonisnya, tetapi hal itu malah menambah kedalaman karakternya. Film murah yang cukup kaya.

7/10

Stuart A Life Backwards: rekomendasi bila bertemu dengan anda (17+)

Sherlock Holmes: A Game of Shadows

Sherlock Holmes: A Game of Shadows (2011)
sut: Guy Ritchie
pen: Michele Mulroney | Kieran Mulroney | #
A.S.

Setelah menonton film pertamanya, bagi penggemar novelnya termasuk saya pribadi, memang agak sulit menerima Sherlock Holmes versi Guy Ritchie ini. Beda banget. Tapi setelah menonton sekuelnya, dan sangat terhibur, sekarang saya bisa dengan ikhlas menerima versi ini sebagai versi dunia alternatif (kerennya: alternate universe) dari detektif nomor satu itu. Namun saya juga dapat memahami bila ada yang tetap menolak versi ini.

Atmosfir film ini sangat ringan untuk dunia yang tidak jauh dari misteri dan kriminalitas, berkat interpretasi baru, yang memang bertujuan untuk menggaet dunia hip modern saat ini.

Film ini enak untuk dinikmati, dan memiliki banyak ide-ide cerdas untuk lebih mengeksplorasi apa yang telah para filmmakernya lakukan sebelumnya untuk menerjemahkan ‘otak/cara pikir’ karakter Sherlock Holmes ke bahasa gambar.

Ada rasa kecewa terhadap bagaimana mereka mengeksekusi karakter Professor Moriarty (kesannya tidak jenius-jenius amat, dan seperti bukan orang yang memiliki ‘otak’ yang setara dengan Holmes) dan karakter Mycroft Holmes (malah sekedar menjadi karakter comic-relief dan tidak penting-penting amat dan tidak ada petunjuk kalau ia memiliki ‘otak’ yang setara atau lebih hebat dari adiknya).

Secara keseluruhan, saya cukup terhibur oleh film kedua ini, dan tertarik untuk menyaksikan bagian ketiganya. Hanya saja, semoga versi ini berhenti di sana untuk memberi jalan bagi film feature Sherlock Holmes yang lebih dekat pada canon-nya.

Direkomendasikan bagi para cinephiles dan penonton kasual.

7.5/10

Sherly (^_^) 2: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)