ulasansingkat

sekedar ulasan (film) singkat

Tag Archives: Indonesia

Kita Versus Korupsi

youtu.be/niSz4XkYzyM

Sebagai sebuah omnibus 4 film yang mengandung pesan anti korupsi, yang visi besarnya adalah cegah korupsi mulai dari diri sendiri, film ini patut ditonton oleh ORANG INDONESIA.

Sebagai sebuah film, kumpulan 4 film fiksi pendek, yang dikonsep lalu dieksekusi secara profesional, film ini layak ditonton oleh para pecinta sinema. Sebagai film yang non-komersil, semoga film ini dapat kesempatan untuk dieksebisikan ke seluruh penjuru nusantara dengan mudah.

Pendapat saya:

* Rumah Perkara (7/10)
* ____Aku Padamu (7/10)
* Selamat Siang, Risa! (8/10)
* Psssttt… Jangan Bilang Siapa-Siapa (8/10)

7.5/10

Iklan

Kentut

Kentut (2011)
sut: Aria Kusumadewa
pen: Aria Kusumadewa
Indonesia

Film ini hebat banget. Hanya dalam sekitar 70 menit film ini mampu menyentuh banyak isu-isu sosial yang terjadi di negri kita dan melakukannya dengan cara yang sangat menarik untuk menjadi satu keutuhan. Film ini dalam banget.

Tampak dan bentuknya memang tidak terlalu ‘mentereng’, bahkan sempat terasa seperti ftv. Kemudian gaya penyutradaraan Aria Kusumadewa yang sangat ambisius masih kurang ‘dapet’ yang seharusnya dapat mendorong kekuatan film ini lebih jauh lagi.

Tapi yang penting bagi saya adalah isi daripada luarnya. Isi film ini sangat kaya, hebat sekali. Film ini mampu menyentuh hal-hal sensitif dengan ringan dan subtle dan mengajak untuk merenungkan hal-hal tersebut, bukannya memprovokasi konflik. Film ini memberikan pertanyaan untuk dijawab penonton dengan cara sentilan halus. Film berkualitas.

7.5/10

Kentut: rekomendasi bagi para cinephiles (BO)

Pulau Hantu 3

Pulau Hantu 3 (2012)
sut: Jose Poernomo
Indonesia

Seperti yang dengan mudah telah terduga sebelumnya, plot film ini sangat tipis dan memang hanya bermaksud menjadi film bokep berkedok horor komedi. Sebaiknya tidak usah membahas sisi naratif, estetik dan artistiknya, karena filmnya sendiri sadar akan tujuan eksistensinya dan tidak mencoba untuk keluar dari kapasitasnya.

Dari segi teknis, film ini cukup kompeten. Standar film all style no substance. Yang menarik adalah film ini menyadari semua style klise yang digunakan di dalamnya, lalu dengan jujur mengeksekusinya tanpa embel-embel yang pretensius.

Sikap tahu diri film ini dalam memberikan apa yang dijanjikan premisnya merupakan nilai plus dalam buku saya. Jadi bila anda hanya ingin melihat eksploitasi tubuh semampai wanita-wanita seksi, yang diselingi komedi garing dan adegan horor yang enggak serem, anda akan mendapatkannya. Itu saja.

5/10

Pulau Hantu 3: bagi yang tertarik (17+)

Di Bawah Lindungan Ka’bah

Di Bawah Lindungan Ka’bah | Under the Protection of Ka’Bah (2011)
sut: Hanny R. Saputra
pen: Titien Watimena | Armantono
Indonesia

Film ini film cinta hyper-melodrama sentimentil, bukan religi. Apapun itu yang membuat novelnya “best remembered” tidak bisa saya temukan di film ini. Bahkan judulnya seperti tidak nyambung. Membuat saya sangat penasaran, apa sebenarnya yang membuat para produsernya pikir pantas untuk mengeluarkan budget besar untuk kisah ini, padahal tidak ada permintaan pasar. Untuk menyaingi versi sebelumnya?

Endingnya bukan happy ending. Dan tidak ada pesan moralnya (dari yang saya tangkap). Kosong. Film cinta yang tidak happy ending namun sukses misalnya Titanic (1997) (in a way). Mungkinkah para produsernya bermaksud membuat Titanic-nya Indonesia? Paling tidak film itu nikmat ditonton.

Saya sudah banyak mendengar keluhan soal product placement di film ini dan merasa tidak separah itu. Tapi ada satu produk yang hanya dimakan oleh satu karakter di film ini, dan itupun satu-satunya karakter ‘jahat’-nya. LOL.

Melodrama bukanlah selera saya, dan harus saya akui faktor ini berperan besar dalam penilaian pribadi saya terhadap film ini. Maka dari itu, melihatnya secara objektif, saya rasa film ini tetap memiliki demografi dan tipe penonton tertentu yang dapat menikmatinya. Trailernya: youtu.be/Z1jyI9gRA2U

4.5/10

Di Bawah Lindungan Ka’bah: … (BO)

Garuda di Dadaku 2

Garuda di Dadaku 2 (2011)
sut: Rudi Soedjarwo
pen: Salman Aristo
Indonesia

Sinematografinya sangat bagus. Shot-shotnya indah dan sinematik. Aktingnya pada bagus-bagus. Musiknya mantap dan mendukung atmosfir gambar. Drama plot dan jalan ceritanya cukup menarik.

Dua hal yang menurut saya masih kurang, salah satunya adalah selain karakter Bayu si protagonis, tidak ada lagi karakter yang didevelop sehingga hampir semua karakternya hanya menjadi ‘alat/pion’ cerita. Serasa seperti film Harry Potter gitu. Begini, skenarionya sangat bagus, dengan adegan-adegan, jalan cerita, drama, dan ide yang semuanya sangat cerdas. Yang kurang bagi saya adalah karakterisasi. Sebenarnya film ini banyak memiliki karakter-karakter yang berpotensi menjadi ‘bulat’ bila di-‘perlakukan’ dengan lebih baik, seperti Pak Pelatih, Yusuf si anak Makassar, Rama yang jadi kapten, bapaknya Anya, pacar mamanya Bayu, si Effendi yang jadi cadangan terus, dll. Bila para insan di balik layar punya/mau meluangkan sedikit lebih banyak waktu lagi, dengan mengerjakan satu draft lagi yang khusus meng-‘tweak’ sisi karakterisasi dari skenarionya, saya yakin film ini akan menjadi lebih luar biasa lagi. Ini menurut saya saja, sih. Memang gampang mengkritik. Melakukannya susah. Bagi saya, penulis skenario film terbaik Indonesia saat ini adalah Salman Aristo.

Hal yang kedua yang menurut saya kurang adalah adegan/sekuens pertandingannya sendiri. Dengan sinematografi yang indah, editing yang tajam, dan musik yang menderu selayaknya film Hollywood, namun kita malah sulit mengikuti permainan bolanya sendiri. Menurut tebakan saya, anak-anak itu hanya disuruh bermain seperti biasa (dengan beberapa instruksi tertentu tentunya), yang baru kemudian diedit agar sesuai dengan cerita. Singkatnya, tidak dikoreografi. Sehingga hanya terdapat sedikit drama di sana. Tidak maksimal.

Hanya dua hal itu saja, sih. Secara keseluruhan, film ini sangat bagus, menghibur dan memuaskan. Dan yang paling penting sangat sinematik. Sangat direkomendasikan bagi para penggemar drama + olahraga. Tidak aneh bila Rudi Soedjarwo bangga terhadap film ini.

7/10

Garuda di Dadaku 2: rekomendasi bagi para cinephiles (BO)

Arisan 2

Arisan 2 (2011)
sut: Nia Dinata
pen: Nia Dinata
Indonesia

Hampir semua review yang saya baca untuk film ini, positif. Ini salah satunya, silahkan baca.

Saya tidak akan (baca: bisa) membantah atau mendebat tulisan-tulisan tersebut. Saya hanya merasa perlu mengatakan, bahwa film ini tidak sebegitu amat, bagi saya pribadi.

Secara naratif film ini ‘lari’ kemana-mana, terasa tanpa fokus. Banyaknya eksposisi dan adegan-adegan yang tidak jelas dan seperti tidak memiliki fungsi bagi keseluruhan film, dan terutama karena penuh dengan karakter-karakter ‘datar’ yang tidak berdimensi, membuat sulit sekali untuk beridentifikasi terhadap siapa pun.

Namun saya juga tidak menutup kemungkinan bahwa sebenarnya sayalah yang tidak mampu ‘melihat’ lebih dalam. Mungkin bukan selera saya saja.

Dan oiya, rating-rating di blog ini bukan seperti nilai di sekolah. Rating 5 itu artinya film yang average (menurut penulisnya).

5.5/10

Arisan 2: … (13+)

Hollywood di Indonesia (esei)

Hollywood di Indonesia

 

Sering kita mendengar bahwa film-film Indonesia akhirnya sudah bisa menjadi tuan rumah di negara sendiri. Film-film karya anak bangsa sudah bisa bersaing dengan film-film impor (Hollywood). Bila melihat statistik, hal ini memang benar berlaku bagi film-film tertentu. Tetapi berlakukah bagi seluruh film-film Indonesia secara umum?

Beberapa waktu lalu terjadi sebuah kejadian yang patut diambil hikmahnya. Yaitu saat film-film impor (terutama Hollywood) berhenti tayang di layar bioskop tanah air. Saat itu film-film Indonesia 100% mengisi setiap layar yang tersedia. Banyak yang berpendapat bahwa saat itu merupakan kesempatan emas bagi film-film Indonesia yang tayang untuk mendapatkan penonton yang biasanya akan disedot oleh film-film impor.

Namun apa yang terjadi? Bioskop sepi.

Baca pos ini lebih lanjut

Lomba Film Pendek Online Forum Movies KASKUS

Baru saja menonton 3 film pemenang lomba film pendek online forum movies Kaskus:

Vetus (*)
sut: Muhammad Sauki Basya
pen: ####
Indonesia

Sebagian besar durasinya digunakan sebagai set-up pukulan telak pesan yang ingin disampaikannya. Benar-benar telak. Bentuk penceritaan yang dipilih untuk menyampaikan pesannya merupakan kekuatan terbesar film pendek ini.

Selain itu, penampilan karakter utama yang diperankan oleh Jean Marais pun sangat mengena. Selamat buat om Jean.

Sebuah film yang sangat solid. Sayang, video youtube-nya berpixel ria (yang ini enggak).

8/10

Vetus: Juara I (BO)

Patung Berjiwa (2011)
sut: Agung Bayu Pramana
pen: Kristo Parinters Makur
Indonesia

Film ini sedikit melodramatis dan beraliran romantisme. Cerita, ide, dan pesannya biasa saja (tapi bagus, kok). Yang membuat film ini menjadi film yang bagus sebenarnya adalah eksekusinya. Film ini berhasil menyampaikan kisahnya hanya dengan bahasa visual tok. Voice-over di ending film hanya sebagai pemanis, dengan isi film yang sudah cukup bergizi. Film ini memiliki nilai tonton-ulang yang tinggi.

9/10

Patung Berjiwa: Juara II (BO)

Aku Ingin Merdeka (2011)
sut: Bonar Tanudjaja
pen: Joe Handoko
Indonesia

Baru satu menit film ini berjalan sudah membuat bosan. Saya tahu bahwa eksposisi di awal-awal tersebut punya tujuan, hanya saja ditulis dan, diperankan, dengan, yah, kurang.

Selain itu film ini juga melanggar garis imajiner berkali-kali (berkali-kali!), sehingga saya yakin bahwa para filmmakernya bahkan tidak sadar mereka sedang melakukan kesalahan.

Secara keseluruhan film ini memang lumayan enak ditonton, dan memiliki alur naratif yang menarik. Namun dari 36 film yang disubmit, sulit dipercaya film ini berhasil menjadi juara 3. Saya cuma nonton yang 3 juaranya saja (lagi sibuk ^^), tetapi sulit dipercaya tidak ada lagi yang lebih menggugah, atau paling tidak dibuat dengan lebih kompeten. No offense buat filmmakers Aku Ingin Merdeka.

6/10

Aku Ingin Merdeka: Juara III (BO)

UPDATE (15/11):

Koin The Movie (*)
sut: Didiet Triquetra
pen: Didiet Triquetra
Indonesia

Lupakan kekurangan teknis-nya, film ini film yang luar biasa! Film ini kaya imajinasi, memiliki banyak sekali ide-ide brilian, dan dirangkum dengan kreatif. Saya baca-baca sedikit di blog filmnya, katanya mereka terpaksa memotong banyak konflik untuk mengurangi durasi dan halangan lain-lain lagi. Saya tahu, bahwa tidak selalu imajinasi tanpa kekangan dari seorang sutradara itu bagus, tetapi setelah menonton filmnya saya jadi penasaran ingin melihat versi tanpa komprominya. Film ini sebenarnya bisa menjadi yang juara 3, tapi enggak ada tema kepahlawanannya. All in all, favorit saya dari beberapa (enggak semua) yang sudah saya tonton.

9/10

Koin The Movie: favorit pribadi (BO)

Sang Penari

Sang Penari (2011)
sut: Ifa Isfansyah
pen: Salman Aristo | Ifa Isfansyah | Shanty Harmayn | Ahmad Tohari (novel)
Indonesia

Sang Penari lumayan terkenal dan telah lama ditunggu (paling tidak di circle saya) berkat strategi marketing yang baik dan buzz yang positif bahkan sebelum trailernya rilis. Hal ini membuat Sang Penari menjadi film Indonesia yang paling saya nantikan.

Dan hasilnya tidak mengecewakan. Film ini digarap dengan profesional dengan production value yang tinggi. Kisahnya yang unik mampu menggugah dan menarik penonton masuk ke dalam dunianya.

Di awal-awal film memang agak berat dan terhuyung-huyung karena keputusan untuk introduksi setting dan karakter, yang dipaparkan dengan cara yang kurang menarik. Jadi teringat scene introduksi di film TLOTR: The Fellowship of the Ring (2001) yang bersetting di the Shire dengan durasi yang cukup panjang, namun berhasil dipaparkan dengan menarik. Nah, film Sang Penari kurang dalam hal itu.

Tapi kemudian film ini tumbuh menjadi lebih baik. Dan yang penting, pada akhirnya, film ini berhasil menyampaikan kisahnya yang menarik. Daftar film berkualitas Indonesia bertambah satu judul lagi.

7.5/10

Sang Penari: Rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

————————————————

Update (17/2/2012):

Film ini jadi lebih baik di tontonan kedua saya;

8.5/10

Kehormatan di Balik Kerudung

Kehormatan di Balik Kerudung (2011)
sut: Tya Subiyakto Satrio
pen: ###
Indonesia

Film melodrama yang tidak tahu bagaimana cara untuk menyusun struktur drama untuk membuat kisahnya tidak datar dan mudah dinikmati. Malas sekali rasanya bahkan untuk mengulas film ini.

Saya rasa film ini dapat dinikmati oleh anak-anak cewek abg dan ibu-ibu yang doyan sinetron.

4/10

Kehormatan di Balik Kerudung: yah… (13+)