ulasansingkat

sekedar ulasan (film) singkat

Tag Archives: Indonesia

Hi5teria

Hi5teria (2012)
sut: #####
pen: ######
Indonesia

Omnibus 5 film horor, dan tidak ada yang benar-benar luar biasa. Kecuali mungkin film ‘Loket’ yang disutradarai dengan sangat baik.

Memang sih terdapat beberapa momen-momen yang menarik. Dan saya bisa mengerti bila ada yang bisa menyukai film ini. Namun bila anda mencari film yang nakutin, bukan sekedar ngagetin, saya rasa film ini akan mengecewakan.

6/10

Hi5teria: … (13+)

Iklan

Love is U

Love is U (2012)
sut: Hanny R. Saputra
pen:
Indonesia

*Ulasan yang tidak baik, jadi dihapus aja. Maaf.

3/10

Love is U: tidak direkomendasikan (10-)

The Raid

The Raid (2011)
sut: Gareth Evans
pen: Gareth Evans
Indonesia

Heeeeaaaaaagghhhh rrraaaaaaaaahhhhhhh hrrrraaaaaaaaa grhaaaaaaaaaaeeeeeaaaaaaa gwrstyyaaaarrrrrrggghhhhch mmbbbbeeeeeeeekkkkk mhuuurrrraaaagggghhtttxxrzz!!!!! lol.

Sangat menyenangkan dan menghibur. Film ini penuh klise dan percakapan yang terlalu ‘menjelaskan’. Tapi adegan berantemnya keren abis. Ganas. Suaranya mantap. Darahnya mantap. Mad Dog-nya mantap.

Cari hiburan dari adegan aksinya saja. Jangan mengharapkan apa-apa dari plot maupun karakter, karena anda akan kecewa. Film ini murni serangkaian sekuens aksi.

Gareth Evans adalah sutradara yang jago dalam muncul dengan premis yang sangat menarik, tapi tidak terlalu niat untuk mengembangkannya menjadi sebuah cerita ‘bagus’. Premis film Merantau secara keseluruhan. Premis film The Raid secara keseluruhan. Juga premis adegan berantem klimaks yang prosesnya tidak konvensional (jagoan terpaksa main keroyokan). Mungkin bila ia bekerja sama dengan penulis yang handal, Salman Aristo misalnya, cerita yang timbul dari premis-premis tersebut bisa lebih menggugah.

Namun secara keseluruhan, film ini sangat menghibur. Saya agak malu sebenarnya memberi nilai sangat tinggi untuk film ini setelah membaca review Roger Ebert dan setuju dengan semua poinnya.
Tapi saya harus jujur, film ini ada ‘greget’-nya, lol.

8/10

The Raid: rekomendasi bagi penikmat film aksi (13+)

Merantau

Merantau (2009)
sut: Gareth Evans
pen: Gareth Evans
Indonesia

Klise, klise, klise. Dari sisi naratif, dari sisi filmmaking, dari sisi aksi. Semua yang terdapat dalam film ini sudah dapat dilihat di banyak film-film yang telah muncul terlebih dahulu (oke, mungkin tidak di sinema Indonesia).

Tapi tidak semua yang klise otomatis buruk. Terkadang kita tidak perlu cerita yang tebal, karakterisasi yang bulat, ataupun sesuatu yang baru. Terkadang kita hanya ingin melihat orang berantem abis-abisan saling pukul sampai bonyok dengan koreografi indah nan liar.

Dan film ini menyadari betul hal tersebut sebagai tujuan utamanya, sehingga tidak repot-repot memberikan kisah yang menggugah maupun pesan yang dalam dengan simbolisasi filosofi macam-macam. Film ini hanya menawarkan dirinya di apa adanya, hanya ingin menghibur, suka tidak suka.

Ceritanya yang sangat sederhana murni hanya sekedar sarana untuk menunjukkan serentetan sekuens aksi silat. Awal-awal durasi yang digunakan sebagai introduksi dan set-up memang cukup menyiksa untuk ditonton, tapi setelah ceritanya naik gigi di sekitar menit 30, film ini sangat menghibur. Adegan aksinya maksud saya. Kalau menilai ceritanya terpisah, dalam skala 1 sampai 10 akan saya beri 4. Tapi di sisi lain karena film ini dengan sukses menghidupkan kembali gairah perfilman genre aksi domestik, mengandung koreografi dan eksekusi silat yang keren, dan terutama karena telah memberikan Indonesia bintang laga baru luar biasa, IKO UWAIS, jadi 10.

7/10

Merantau: rekomendasi bagi penggemar aksi (13+)

9808

9808 Antologi 10 Tahun Reformasi Indonesia (2008)
sut: ##########
pen: ##########
Indonesia

Film ini bukan seperti film yang saya bayangkan akan saya tonton. Saya pikir film ini akan lebih menganalisa perubahan-perubahan yang terjadi selama 10 tahun setelah kejadian 1998 lewat cerita fiksi. Apa perbedaan yang fundamental di tahun 1998 dengan 2008 dalam konteks kejadian itu. Bagaimana kita melihat kejadian 1998 dengan kacamata 10 tahun lebih tua. Apa pengaruh kejadian itu untuk hari ini dan masa depan. Dan sebagainya.

Film ini memang masih menyentuh wilayah-wilayah tersebut, tapi tidak dalam volume atau cara yang saya pikir akan saya dapatkan. Kebanyakan film ini hanya membagi cerita beberapa individu tertentu yang kita (saya) tidak kenal, tidak signifikan dalam ‘gambar besar’-nya, dan tidak memberikan insight yang berarti terhadap peristiwa 1998, terutama bagi yang kurang tahu soal kejadiannya. Misalnya filmnya Ifa Isfansyah. Filmnya merupakan film pendek yang baik, tetapi dalam konteks 9808 = WTF?!

Di dalam omnibus ini banyak film-film yang asyik yang buat cinephiles akan menyenangkan. Dan soal konteks, masih bisa dibilang nyambung ke kejadian 1998 lah. Soal harapan saya mengenai kontennya, mungkin saya harus cari tahu dulu ya, biar pas nonton tidak terheran-heran dan tertipu oleh diri sendiri.

7/10

9808: … (BO)

Jakarta Maghrib

Jakarta Maghrib (2010)
sut: Salman Aristo
pen: Salman Aristo
Indonesia

Secara teknis, masih terasa seperti student-film. Agak sulit menjelaskannya, tapi akan terasa sendiri saat menontonnya. Namun secara konten, film ini memiliki banyak ide-ide, simbolisasi, dan pesan yang menggugah.

7/10

Jakarta Maghrib: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

Mata Tertutup

Mata Tertutup (2011)
sut: Garin Nugroho
pen: Tri Sasongko
Indonesia

Niat dan ambisi baik di balik film ini tidak akan terlewatkan karena sangat gamblang dan dominan sepanjang film. Meski begitu, saya pribadi merasa film ini sedikit meleset dari apa yang ingin dicapainya. Tidak terlalu jauh, tapi lumayan cukup untuk saya rasa perlu saya tuliskan.

Film ini ingin mengatakan (kurang lebih) hal-hal yang serupa seperti yang dikatakan di salah satu sisi film politik Syriana (2005) maupun Paradise Now (2005). Di film Mata Tertutup ini Garin Nugroho ingin memperlihatkan proses ‘cuci otak’/bujukan/penipuan anak-anak muda dengan memanfaatkan kelabilan usia muda mereka yang secara subtle, tersistemasi, dan terorganisir yang terjadi di luar pengawasan dan kuasa ‘orang tua/dewasa’.

Tapi yang membuat film ini sedikit meleset bagi saya adalah eksekusi yang masih ‘setengah matang’. Saya tahu hal ini bukanlah kesalahan filmmakernya karena film ini dibuat dengan biaya yang sangat murah dan disyut hanya dalam 9 hari sehingga tidak ada waktu untuk mendapatkan ‘matang’-nya. Bukan kesalahan siapa-siapa, tapi hal itu ada dan terasa di beberapa durasi film. Ada satu scene/shot yang cukup dapat mewakili poin ‘meleset’ saya ini. Yaitu di scene karakter Jajang C. Noer saat sedang mencari anaknya berhenti untuk mengambil air wudhu, karakternya yang selama ini keras dan tegar perlahan-lahan ‘kebocoran’ emosinya yang selama ini dibendung, lalu ia terisak sedih. Di sini kita dapat melihat apa yang ingin dituju oleh Garin Nugroho, yang memang merupakan poin naratif yang sudah mulai lumrah di sinema drama, namun tidak ‘dijual’ seperti yang ingin dituju. Jadi, bukan kesalahan fatal, hanya sedikit meleset saja (karena kurang waktu).

Secara keseluruhan, saya sangat salut terhadap film ini. Selain memberikan variasi lain tehadap menu tontonan saat ini, pesan yang ingin disampaikannya sudah terlalu lama tertunda untuk disampaikan pada masyarakat Indonesia dan sekarang akhirnya datang juga. Manfaat positifnya yang secara kongkrit paling tidak agar anak-anak muda lebih waspada terhadap hal-hal seperti ini dan agar para ‘orangtua/dewasa’ dapat melakukan sesuatu; apa itu, saya tidak tahu.

7/10

Mata Tertutup: rekomendasi bagi para cinephiles (BO)

Negeri 5 Menara

Negeri 5 Menara (2012)
sut: Affandi Abdul Rachman
pen: Salman Aristo
Indonesia

Bagus, keren, mantap, solid, brilian, cerdas, (kata pujian berlanjut terus).
Kisahnya digarap dengan baik sekali, skenarionya mengagumkan. Teknisnya juga baik sekali. Namun performances yang terdapat di dalamnya adalah yang paling luar biasa. Semuanya sangat natural, seakan-akan para karakternya beneran hidup di dunia itu, dengan karakteristik sifat, sikap, jalan pemikiran masing-masing, membuat para karakter ini seperti orang-orang nyata yang pernah kita temui di luar bioskop. Selain untuk para aktornya yang dicasting dengan sangat baik, juga merupakan credit buat penulis dan sutradaranya.

Secara universal film ini membuat mudah untuk beridentifikasi terhadap momen-momen persahabatan sejati yang kita semua pasti pernah alami diumur segitu. Persahabatan sejati yang murni tanpa adanya pengaruh latar belakang, politik maupun motivasi tertentu. Segalanya terjadi begitu saja. Dan momen-momen ini berhasil dicapture dengan baik.

Film ini bagus sekali, amat sangat direkomendasikan. Sebuah film persahabatan yang kaya drama dan komedi. Membuat hati riang dan ringan setelah keluar bioskop, sebagai cermin terhadap diri kita sendiri, dan terus mungundang untuk mengunjungi dunianya lagi.

8.5/10

Negeri 5 Menara: rekomendasi bagi para cinephiles dan penonton kasual (SU)

Dilema

Dilema (2012)
sut: ####
pen: #####
Indonesia

Baca pos ini lebih lanjut

Malaikat Tanpa Sayap

Malaikat Tanpa Sayap (2012)
sut: Rako Prijanto
pen: Anggoro Saronto | Titien Wattimena
Indonesia

Film ini sangat mengingatkan pada sebuah film lain, tapi itu tidak penting.

Sedikit lagi, film ini bisa jadi luar biasa. Apa adanya, film ini bagus banget. Castingnya pada cocok, aktingnya bagus-bagus, di-pace dengan baik, dan ditulis dengan baik pula. Sangat direkomendasikan.

Memang masih ada beberapa flaw, tapi hanya hal yang lumrah dan bisa dilupakan. Namun ada satu hal, yang bagi saya “cop out” banget, yang walaupun saya dapat mengerti karena film ini merupakan “film valentine” dan produsernya pengen penonton yang banyak, tapi menurut saya bila film ini dibawa saja ke arah yang “sudah semestinya itu”, akan membuat film ini memiliki tempat yang sangat spesial dalam sejarah perfilman kita.
Sumpah film ini akan menjadi film yang sangat spesial dan berani, seandainya saja. Apalagi karena “cop out” itu sangat out of the blue dan dengan penjelasan yang super singkat tanpa penekanan dramatis.

Tapi itu hanya opini saya saja. Yang penting saya suka sekali film ini, dan bersyukur sempat nonton selagi masih di bioskop, dan sangat merekomendasikannya. (Sedih rasanya tahu jumlah penonton sebuah film berkualitas kalah dari jumlah penonton Rumah Bekas Kuburan (2012). :|)

8/10

Malaikat Tanpa Sayap: rekomendasi bagi cinephiles dan penonton kasual (BO)