ulasansingkat

sekedar ulasan (film) singkat

Tag Archives: Hollywood

The Curious Case of Benjamin Button

The Curious Case of Benjamin Button (2008)
sut: David Fincher
pen: Eric Roth | ###
A.S.

Film ini epik, dan mampu membawa kita dalam sebuah perjalanan berdurasi seumur hidup.

Sayangnya saya bukan seorang pujangga yang mampu merangkai kata-kata indah untuk mengartikulasikan beragam macam emosi yang diproyeksikan di sepanjang durasinya, dan bagaimana perasaan saya ketika shot terakhirnya mulai meredup dan credit muncul di layar. Saya hanya bisa tuliskan, luar biasa.

9.5/10

The Curious Case of Benjamin Button: rekomendasi dengan pujian yang tinggi (13+)

Extremely Loud and Incredibly Close

Extremely Loud and Incredibly Close (2011)
sut: Stephen Daldry
pen: Eric Roth | Jonathan Safran Foer (novel)
A.S.

Disutradari oleh Stephen Daldry, ditulis oleh Eric Roth, dibintangi Tom Hanks dan Sandra Bullock serta Max von Sydow. Masing-masing dari nama-nama tersebut tentunya sudah mampu menarik cinephiles untuk menonton film ini. Kalau komentar dari saya sih: film ini bagus dan memiliki cukup banyak momen-momen emosional yang kuat.

7/10

Extremely Loud and Incredibly Close: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

Bridesmaid

Bridesmaid (2011)
sut: Paul Feig
pen: Kristen Wiig | Annie Mumolo
A.S.

Film ini sangat lucu, dan skenarionya memang pantas dapat nominasi Oscar untuk penulisan skenario asli terbaik. Skenarionya tidak jauh dari ‘resep’ Hollywood untuk film sejenisnya, tetapi ada sesuatu yang segar di dalamnya. Ada sesuatu yang berbeda.

Dan cukup mengejutkan mengetahui bahwa ini adalah skenario pertama dari kedua penulisnya, dan katanya mereka bahkan membeli dulu buku ‘how-to’ soal penulisan skenario.

Sering disebut-sebut sebagai The Hangover (2009) versi cewek, tetapi selain satu scene komedi jorok (berkenaan dengan muntah dan berak), menurut saya tipe komedinya berbeda.

Sangat direkomendasikan buat yang doyan komedi, terutama komedi kontemporer keluaran Hollywood.

7.5/10

Bridesmaid: rekomendasi bagi pecinta komedi (17+)

Batman: Under the Red Hood

Batman: Under the Red Hood (2010)
sut: Brandon Vietti
pen: Judd Winick
A.S.

Film ini merupakan kisah origin dari Red Hood. Bagi yang sebelumnya tidak tahu siapa dia, film ini akan menjadi perkenalan yang paling pantas untuk karakter ini.

Meski sebuah film kartun film ini kurang cocok untuk anak-anak di bawah sepuluh tahun. Karena film ini mengandung kekerasan termasuk pembunuhan berdarah dingin yang tidak ‘dilembutkan’ sama sekali–untungnya. Ceritanya sendiri sangat menarik karena sangat personal bagi Batman dan disusun dan di-pace dengan sangat baik. Adegan aksinya juga sangat luar biasa. Semuanya dipikirkan, dikoreografi, dan ditampilkan dengan cermat, sangat keren.

7.5/10

Batman: Under the Red Hood: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

Jack and Jill

Jack and Jill (2011)
sut: Dennis Dugan
pen: ####
A.S.

Pecahnya rekor jumlah nominasi (update= pemenang) Razzie terbanyak dipecahkan oleh Adam Sandler sebagian besar berkat film ini, jadi saya rasa cukup pantas untuk ditonton ^_^

Dan setelah menontonnya, saya tidak melihat apanya yang amat sangat buruk. Akting Sandler memang buruk, tetapi tidak buruk-buruk amat. Komedinya banyak yang garing, tapi tidak ada yang benar-benar menghina intelejensia kita. Katie Holmes tampil sesuai dengan tuntutan karakternya, dan tidak kurang atau lebih. Dan memang, melihat Al Pacino memerankan karakter yang seperti di film ini SANGAT ANEH rasanya, tapi tidak seburuk itu kok. Secara keseluruhan film ini tidak begitu berbeda dengan film-film Adam Sandler yang lain, film ini biasa saja. Bahkan bila dibandingkan dengan semua film-film komedi konyol yang pernah dibuat, film ini bukanlah yang terburuk sepanjang masa.

Bukan hal yang penting sih, tetapi hanya bikin penasaran saja. Trailernya tidak bohong, film ini memang persis seperti yang dijanjikan. Dan bila anda tertarik setelah melihat trailernya bahwa anda mungkin dapat menikmati film ini, maka film ini bisa menghibur buat anda.

5.5/10

Jack and Jill: buat yang tertarik (BO)

The Hunger Games

The Hunger Games (2012)
sut: Gary Ross
pen: Gary Ross | Suzanne Collins | Billy Ray
A.S.

Baca pos ini lebih lanjut

Take Shelter

Take Shelter (2011)
sut: Jeff Nichols
pen: Jeff Nichols
A.S.

Film ini agak mirip dengan film lain yang dibintangi Michael Shannon juga, Bug (2006). Tidak benar-benar mirip, tapi polanya sama. Yaitu membuat penonton menerka-nerka sepanjang film, apakah kita sedang bersama protagonis yang ‘benar’ atau malah gila, dan jawabannya baru ada di akhir. Tapi menurut saya film ini lebih baik dari Bug.

Cara Jeff Nichols terus-terusan menahan rasa penasaran kita dengan memberikan ‘mimpi-mimpi’ yang menyeramkan, lalu diperbandingkannya dengan ‘kenormalan’ sehari-hari; sangat jitu dalam membuat sulit untuk benar-benar memastikan kebenarannya. Dan juga casting dan akting yang sangat luar biasa dari Michael Shannon menambah kehebatan film ini.

Sangat direkomendasikan bagi penggemar thriller, horor, misteri, dan drama.

7.5/10

Take Shelter: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

The Help

The Help (2011)
sut: Tate Taylor
pen: Tate Taylor
A.S.

Film ini bagus sekali. Kalau film ini yang menang film terbaik di Oscar kemarin dan bukan The Artist (2011), tidak masalah buat saya. Kekuatan terbesar dari film ini ada di skenario dan performances-nya. Saya heran mengapa film ini tidak dapat nominasi skenario adaptasi terbaik. Tapi saya cuma orang aneh di internet dan yang memilih nominasi adalah penulis-penulis yang punya kredibilitas, jadi lupakan saja yang barusan.

Film ini dapat tiga nominasi akting dan satu menang (yang memang sangat pantas), tetapi juga dari keseluruhan departemen aktingnya tidak satupun yang lemah. Film ini dapat menarik kita ke dalam dunianya dan menghanyutkan kita ke dalam kehidupan masing-masing karakternya. Dan bersamaan dengan subject-matter-nya yang berat, film ini juga masih sempat memberikan momen-momen lucu yang dapat membuat tertawa.

Salah bila saya menyudahi ulasan ini tanpa memberi penghargaan terhadap sutradaranya, karena dialah yang mengumpulkan para aktris-aktris ini, kemudian mengeluarkan penampilan yang luar biasa dari mereka semua. Ngomong-ngomong, saat nama Tate Taylor muncul sebagai penulis dan sutradara, tadinya saya pikir cewek karena namanya, dan setelah cari tahu sebentar, ternyata cowok—gagah lagi. Mungkinkah dia akan menjadi Clooney atau Eastwood yang baru: punya tampang dan otak?

Sangat direkomendasikan bagi para cinephiles dan penikmat drama/sejarah(?).

8.5/10

The Help: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

The Girl with the Dragon Tattoo

The Girl with the Dragon Tattoo (2011)
sut: David Fincher
pen: Steven Zaillian
A.S.

Film ini lebih baik daripada versi Swedia-nya, meski tidak sesuai dengan ekspektasi saya pribadi. Akting Rooney Mara luar biasa, salah satu contoh terbaik totalitas akting seorang aktris bertemu dengan karakter yang tepat. Tulisan Steven Zaillian sangat dekat dan berhasil mendapatkan esensi dari novelnya, begitulah yang saya dengar. Daniel Craig baik-baik saja. Dan secara estetik, penyutradaraan dari David Fincher tidak memiliki flaws, bahkan hampir sempurna.

Tapi itulah masalahnya, film ini seperti disutradarai oleh robot. Menurut saya, Fincher memberikan otaknya sepenuhnya, tetapi hatinya tidak. Saya selalu melihat David Fincher sebagai sutradara yang setipe dengan Stanley Kubrick, berintelejensia tinggi. Setiap komposisi, framing, angle, gerakan kamera, lighting, warna, tone, kontinuiti, blocking, dan suara dari setiap shot di dalam film ini amat sangat presisi dan memiliki tujuan. Dan saya pribadi tidak bisa benar-benar mengetahui secara pasti apa yang membuat saya kurang menikmati film ini, selain dengan menebak bahwa ‘hati’ yang ia berikan pada film ini hanya setengah—selain untuk karakter Lisbeth Salander tentunya. Karena terlihat jelas sekali David Fincher sangat menyukai karakter ini.

Bisa dibilang film ini adalah Zodiac (2007) + Se7en (1995), hanya saja ‘hati’ yang diberikan pada kedua film itu tidak terdapat di sini.

Secara obyektif filmnya sendiri sangat baik. Film ini sangat detil dalam menunjukkan proses investigasi yang dilakukan oleh kedua detektifnya, dan interaksi antar keduanya—yang meski bagi saya pribadi agak terlalu ‘dingin’ dan memakan waktu cukup lama sebelum mereka bertemu—cukup menarik dan dinamis. Di scene-scene awal memang agak mengalienasi penonton, karena kita bukannya diajak masuk ke dalam dunianya dengan baik-baik, tapi seperti ‘diceburkan’. Tapi setelah ceritanya mulai ‘naik gigi’, kita akan mulai terbiasa dengan temperatur airnya. Tapi ingat, air ini bukan air hangat dengan sabun yang wangi, ini adalah air dingin yang akan menusuk tulang.

Di dalam film ini terdapat mutilasi, penyiksaan, pemerkosaan, dan kekerasan yang on-screen. Kebanyakan tidak diimplikasikan, tetapi ditunjukkan. Dan yang diimplikasikan pun tidak kalah seramnya. Secara keseluruhan, sebuah film investigasi misteri yang di atas standar. Direkomendasikan buat para cinephiles dan penikmat misteri dan thriller.

7.5/10

The Girl with the Dragon Tattoo: rekomendasi bagi para cinephiles (17+)

Hugo

Hugo (2011)
sut: Martin Scorsese
pen: John Logan
A.S.

Film fantasi dongeng anak-anak ini oleh Martin Scorsese, lho! Yang pertama buat dia. Selain itu film ini juga sebenarnya adalah syair pujian/ode untuk masa awal-awal sejarah sinema dimulai, secara spesifik untuk George Méliès. Dan di film ini juga Scorsese dapat mengekspresikan rasa cintanya yang sangat besar pada sinema di luar medium film-film dokumenter. Tetapi saya sulit untuk menikmatinya.

Saya sangat ingin dan telah berusaha untuk bisa menyukai film ini. Film ini dibuat oleh orang yang tidak diragukan lagi kecintaan dan pengetahuannya yang sangat luas terhadap dunia sinema. Film ini secara internasional diklaim sebagai film yang luar biasa. Tapi saya tidak ingin membohongi diri sendiri dan lalu ikut arus: saya tidak suka ceritanya.

Paling tidak kisah karakter protagonisnya, Hugo. Di sepertiga akhir durasinya film ini baru mulai menarik ketika cerita beralih menjadi mengenai George Méliès. Tapi di dua-per-tiga awal durasinya film ini tidak ‘ke mana-mana’.

Tapi saya tetap salut terhadap film ini karena memperkenalkan penonton awam kepada sejarah awal sinema, terutama terhadap George Méliès. Semua klip-klip film yang dimasukkan adalah dari film-film pionir yang sangat penting dalam sejarah sinema. Dan disajikan dalam film dengan teknologi tinggi dan 3d lagi! Oiya, film ini juga 3d pertama buat Scorsese. Film ini dikomposisi dan di-staging dengan konsep 3d dari sananya, bukan post-convert. Saya memang cuma menonton yang 2d-nya, tapi dari shot-shotnya saya lumayan bisa membayangkan 3d-nya pasti luar biasa. James Cameron saja bilang film ini penerapan 3d terbaik yang pernah ia lihat: youtu.be/DFJZ1HKybZA

Jadi kesimpulannya, secara teknis dan ambisi, film ini luar biasa. Tapi secara naratif, saya pribadi kurang suka. Tapi direkomendasikan bagi para cinephiles dan penikmat cerita fantasi.

6.5/10

Hugo: rekomendasi bagi para cinephiles (BO)

——————–

Disclaimer: mungkin anda heran, kenapa saya memberi film ini rating yang lebih rendah dari misalnya film This Means War. Itu karena saya menilai setiap film atas dasar merit-nya sendiri. This Means War tidak berusaha menjadi lebih daripada kapasitas genre-nya saja. Kita bisa melihat seberapa jauh pencapaian yang ingin diraih oleh sebuah film setelah menontonnya dan bila berhasil atau bahkan melebihi, kita akan menemukan sebuah film greats yang dapat menawan dan artistik sekaligus.