ulasansingkat

sekedar ulasan (film) singkat

Tag Archives: film art

Persona

Persona (1966)
sut: Ingmar Bergman
pen: Ingmar Bergman
Swedia

HATTRICK!!!!! Baru tiga filmnya yang saya tonton tiga-tiganya masterpiece!

Dari sudut pandang tertentu, film ini bisa dibilang hanya terdiri dari dua wanita yang ‘terlibat percakapan’. Maka tidak untuk semua orang.

Di film ini ada banyak hal-hal inspiratif spesifik tertentu yang bisa kita lihat terdapat di banyak film-film modern, menunjukkan betapa besarnya pengaruh seorang Ingmar Bergman di dunia sinema. Sangat direkomendasikan bagi para cinephiles (yang belum nonton).

Amat sangat direkomendasikan banget sekali. Omong-omong, ternyata Tyler Durden sudah ada sejak 60an, lol.

10/10

Ingmar Bergman: rekomendasi dengan pujian yang tinggi (17+)

Iklan

The Turin Horse

The Turin Horse | A Torinói ló (2011)
sut: Béla Tarr | Ágnes Hranitzky
pen: Béla Tarr | László Krasznahorkai
Hungaria

Mungkinkah ini yang ada di kepala Nietzsche?

Mungkin anda pernah mendengar/membaca cerita mengenai kejadian mental breakdown yang dialami Friedrich Nietzsche, seorang ahli filsafat asal Jerman. Pada 3 Januari 1889, Nietzsche menyaksikan seekor kuda taksi dicambuk oleh pemiliknya karena tidak mau bergerak. Ia langsung menghentikan aksi tersebut dengan berlari dan memeluk leher kuda itu sambil menangis, lalu ambruk. Setelah hari itu Nietzsche masih hidup selama 10 tahun, dalam keadaan diam dan gila.

Film ini adalah mengenai kuda itu. Bisa dibilang. Kurang lebih.

Mungkin anda pernah mendengar/membaca istilah film seni. Film yang sulit dimengerti, pacing-nya lambat, populer di festival, dan dibenci penonton kasual. Film ini tidak ragu lagi masuk dalam kategori itu.

Béla Tarr bukanlah tipe sutradara yang pemalu, dalam menggunakan durasi untuk membangun mood dan atmosfir. Bila ia memiliki point yang perlu disampaikan dengan memperlihatkan kegiatan yang mundane dalam real-time, akan tetap ia lakukan. Bandingkan saja: film ini terdiri hanya dari 30 shot (30 cuts), sementara film biasa rata-rata 600-700 cuts.

Mungkin anda pernah mendengar/membaca mengenai seorang sutradara film bernama Andrei Tarkovsky. Film-filmnya akan sulit dinikmati penonton kasual atau penonton yang belum pernah mengonsumsi film yang tidak menggunakan struktur naratif Hollywood. Tapi buat yang sudah pernah menonton karya-karya Andrei Tarkovsky dan dapat mengapresiasinya, The Turin Horse kemungkinan besar akan cocok dengan anda.

8.5/10

The Turin Horse: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

The Cook, The Thief, His Wife, and Her Lover

The Cook The Thief His Wife and Her Lover (1989)
sut: Peter Greenaway
pen: Peter Greenaway
Prancis | Inggris Raya

Baca pos ini lebih lanjut

The Pervert’s Guide to Cinema

The Pervert’s Guide to Cinema (2006)
sut: Sophie Fiennes
pen: Slavoj Zizek
###

Film dokumenter yang sangat menarik, dan pantas ditonton bagi para cinephiles yang tertarik pada segi psikoanalitik dari medium film. Saya merasa beberapa hipotesanya ada yang agak terlalu berlebihan, seperti membaca terlalu dalam terhadap hal-hal yang sebenarnya hanya sederhana saja, tapi paling tidak semuanya sangat menarik untuk didengarkan dan sangat ‘menggelitik’ melihat film dari sudut pandang yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh kita. Juga aksen dari presenternya sangat menghibur meski memerlukan konsentrasi lebih untuk menangkap kata-katanya.

Film-film yang dibahas juga bukan film biasa. Semuanya adalah film-film yang secara universal diakui sebagai greats. Tetapi tentu untuk analisa yang mendalam tidak terhindarkan untuk tidak memberikan spoiler (tapi tidak semua), jadi sebaiknya jangan ditonton dulu sebelum menonton film-film yang dianalisa. Daftarnya bisa dilihat di sini. Saya sendiri tidak menyadari hal ini sehingga ada beberapa film yang ter-spoil seperti The Conversation (1974) dan Dogville (2003), sialan. Tapi akan tetap saya tonton nanti.

Tapi anda tidak perlu menonton SEMUANYA sebelum menonton film ini, karena yang telah menonton semuanya pasti hanya cinephile sekaligus sarjana/akademisi film sejati yang kemungkinan besar sudah menonton film ini juga. Anda hanya perlu waspada terhadap spoiler beberapa film saja, yang kalau tidak salah ingat: Psycho (1960), The Birds (1963), The Conversation (1974), Dogville (2003), Vertigo (1958), Wild at Heart (1990), Lost Highway (1997), The Piano Teacher (2001), Three Colors: Blue (1993), The Wizard of Oz (1939), dan City Lights (1931). Itu kalau anda niat menonton film-film tersebut nanti.

7.5/10

The Pervert’s Guide to Cinema: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

Tetsuo the Iron Man

Tetsuo the Iron Man | Tetsuo (1989)
sut: Shinya Tsukamoto
pen: Shinya Tsukamoto
Jepang

Ceritanya, sederhana saja. Awalnya memang agak sulit dipahami, tetapi kemudian akan jelas sendiri. Yang menarik adalah cara penyampaiannya. Dan yang lebih menarik lagi, adalah bentuk/gaya filmnya.

Sisi eksperimental dari visual dan spesial efeknya disertai musik ‘metal’ (bukan genre metal, tapi metal yang elemen, besi gitu, ^_^) memberikan film ini ‘energi’ yang biasanya hanya dapat ditemukan di film-film sureal ekperimental semacamnya. Kalau mengambil contoh karya-karya sutradara barat, coba bayangkan film-film David Lynch atau Alejandro Jodorowsky namun memiliki semangat punk rock metal. Kalau sutradara timur, mungkin banyak, tapi saat ini saya hanya bisa teringat Takashi Miike. Intinya, film ini tipe film yang semacam itu, yang aura kejeniusan ada terpancar dari ‘chaos’ di sepanjang durasinya.

8/10

Tetsuo: rekomendasi bagi para cinephiles (17+)

Funny Games

Funny Games (1997)
sut: Michael Haneke
pen: Michael Haneke
Austria

Funny Games adalah film yang akan membuat anda terus memikirkannya hingga berhari-hari setelah menontonnya (ya, sedikit hiperbola). Film ini tidak bisa direkomendasikan ke sembarang orang, bukan hanya karena kontennya yang penuh violence (kekerasan/kekejaman), tetapi juga karena gaya atau tempo filmnya yang lambat dengan banyak build-up (tidak ragu-ragu dalam menggunakan durasi untuk membangun emosi/tensi/ketegangan).

Film ini jelas masuk ke dalam kategori film seni. Dan bagi anda yang tidak menyukai film yang bertempo lambat dan ‘sok seni’, silahkan lewatkan saja. Namun bagi anda yang punya ‘tulang seni’, film ini patut untuk ditonton dan akan membuat anda lebih menghargai satu bahasa sinema yang unik. Apalagi jika anda adalah seorang insan perfilman dan akademisi, film ini wajib tonton!

Film ini adalah film Michael Haneke pertama yang saya tonton, yang secara instan menjadikannya sebagai salah satu sutradara favorit saya pribadi. Saya telah menonton seluruh filmografinya, dan saya bisa mengatakan, bahwa Michael Haneke adalah satu-satunya sutradara (yang sudah saya tonton keseluruhan filmografinya) yang belum pernah membuat film yang ‘buruk’ atau miss.

9.5/10

Funny Games: Rekomendasi bagi penikmat film seni, tapi dengan peringatan. (21+)

Catatan: violence yang terdapat dalam film ini kebanyakan terjadi offscreen, tetapi tetap sangat brutal dan mengganggu.

Hukkle

Hukkle (2002)
sut: György Pálfi
pen: György Pálfi
Hongaria

Film dari Hongaria yang satu ini tidak perlu anda tonton dengan subtitle, karena film ini 100% bahasa visual! Luar biasa. Gambarnya luar biasa. Suara-nya luar biasa. Masterpiece.

Tanpa perlu bergantung pada dialog sepatah kata pun, György Pálfi mampu mengantarkan sebuah kisah yang kompleks. Saya tidak akan mengaku berhasil mengerti film ini secara utuh karena mungkin terdapat beberapa hal spesifik yang bersifat kultural, tetapi dari sedikit yang saya tangkap saja, film ini sudah sangat mengagumkan and it blew my mind!

Mungkin anda telah menyadari bahwa ulasan-ulasan saya kebanyakan sangat subyektif dan ratingnya berdasarkan perasaan saya tepat setelah menonton film yang bersangkutan, jadi tidak tertutup kemungkinan perasaan saya terhadap sebuah film dapat berubah seiring waktu.

Namun untuk film yang satu ini, saya telah jatuh cinta pada pandangan pertama dan yakin perasaan itu takkan hilang. Malah, sekarang saya akan menontonnya sekali lagi.

10/10

Hukkle: Rekomendasi dengan pujian yang tinggi (13+)

Catatan: jangan khawatir soal adegan yang menyangkut seekor kucing, hal tesebut hanya trik.

Play Time

Play Time (1967)
sut: Jacques Tati
pen: ###
Perancis

Pertama-tama, harus saya katakan dulu bahwa saya tidak menonton film ini hingga selesai, hanya sekitar 100 menit (dari durasi Perancis:155 min atau 2002 restored version: 124 min (enggak tau nonton versi yang mana)). Saya terpaksa keluar sebelum filmnya selesai, karena markir motor sembarangan dan malam sudah mulai larut. Takut ada yang ngambil.

Dan sekarang ngomongin filmnya. Dari 100 menit yang saya tonton, saya bisa dengan positif mengatakan bahwa film ini merupakan masterpiece. Tapi itu hanya opini pribadi saya sendiri.

Film ini sangat imajinatif, visual, dan jenius. Asli jenius. Mise en scène, staging, blocking, komposisi dan framing shot, atau apalah, semuanya tidak pernah membuat saya berhenti untuk kagum sama sekali sepanjang durasinya.

Tapi kemudian, saya juga menyadari, bahwa film ini film yang tidak bisa dinikmati siapa saja. Termasuk di kalangan cinephiles pun mungkin tidak semua akan menyukai film ini. Karena film ini merupakan film yang “aneh” dan seperti tidak memiliki plot yang menjalin keseluruhan scene-nya menjadi satu kesatuan. “Plot” sih ada, tapi bukan plot yang PLOT. Film ini bisa tampak seperti rangkaian ide-ide yang tidak nyambung atau koheren satu dan yang lainnya.

Maka dari itu, saya merekemondasikan film ini, bila kebetulan “bertemu” dengan anda saja (misalnya dipinjami teman atau diputar di bioskop arthouse atau di komunitas film). Tidak perlu mengeluarkan uang dan waktu dan tenaga yang besar, karena mungkin saja malah bukan selera anda.

9.5/10

Play Time: rekomendasi bagi para cinephiles (BO)

The Journals of Knud Rasmussen

The Journals of Knud Rasmussen (2006)
sut: Norman Cohn | Zacharias Kunuk
pen: #######
Kanada | Denmark | Greenland

Berdasarkan jurnal-jurnal yang ditulis oleh Knud Rasmussen, seorang penulis etnografi (cabang antropologi) yang mempelajari budaya Inuit. Di film ini kita diperlihatkan proses seorang shaman hebat Inuit dan putrinya yang cantik nan keras kepala dalam memutuskan untuk mengakhiri ‘ke-shaman-nan’ mereka.

Jujur, film ini sangat slow (tapi bukan dalam tempo atau pace filmnya), dan saya yakin akan membawa kebosanan kepada hampir semua orang. Film ini sepertinya dibuat dengan sangat dekat dengan sumbernya (jurnal-jurnal), sehingga bila anda mengatakan bahwa film ini merupakan film dokumenter, pasti ada yang percaya. Itulah maksud saya film ini sangat slow, karena hampir realistis seperti dokumentasi. Tetapi bila dipikirkan lebih lanjut, di situlah kekuatan terbesarnya! Film fiksi ini bisa dianggap dokumenter. Hal ini mengatakan banyak hal mengenai semua performance para aktornya, dan cara para filmmakernya menyusun gambar.

Bila anda menyempatkan waktu untuk melihat filmografi kedua sutradaranya, anda akan melihat bahwa mereka juga yang membuat film Atanarjuat (2001). Tetapi sekali lagi, mengingat film ini sangat slow, hanya direkomendasikan bagi cinephiles maupun orang-orang yang tertarik untuk tahu lebih banyak mengenai budaya Inuit.

7/10

The Journals of Knud Rasmussen: Rekomendasi bagi para cinephiles (17+)

Unknown Pleasures

Unknown Pleasures | Rèn Xiāo Yáo (2002)
sut: Jia Zhangke
pen: Jia Zhangke
RRC

Rèn xiāo yáo secara harfiah: “free from all constraints”

Film ini terkenal (saya sendiri tahu film ini baru-baru ini saja) sebagai film ketiga dalam trilogi ‘longgar’-nya Jia Zhangke yang dibuat di propinsi Shanxi, yang ketiganya dianggap mengisahkan masa transformasi Cina ke modernitas.

Setelah anda melihat posternya, atau membaca plotnya di suatu tempat, lalu berpikir bahwa film ini hanya film drama-komedi-esek-esek ga jelas yang tidak cukup pantas untuk menyita 100 menit dari waktu anda, maka anda salah.

Film ini film yang lumayan penting, lho. Baik bagi dunia perfilman Cina maupun dunia. Dan sepertinya memang wajib tonton bagi para cinephiles, praktisi, dan akademisi perfilman.

Saya pribadi sangat menyukai film ini. Sebenarnya tema utama film ini adalah sesuatu mengenai generasi populasi terkontrol di Cina, yaitu generasi hasil undang-undang ‘satu-anak’ di Cina. Film ini mengikuti kehidupan 3 anak muda yang tidak punya kakak maupun adik sehingga mempengaruhi perilaku sosial mereka, dan seterusnya. Untuk bacaan lebih detil, silahkan klik. Intinya, film ini film yang luar biasa.

9/10

Unknown Pleasures: Rekomendasi bagi para cinephiles (17+)