ulasansingkat

sekedar ulasan (film) singkat

Tag Archives: drama

Nuovo Cinema Paradiso

Nuovo Cinema Paradiso (1988)
sut: Giuseppe Tornatore
pen: Giuseppe Tornatore
Italia

Ada yang bilang, “if you love cinema, you will love Hugo”. Saya setengah setuju. Bila ada yang bilang, “if you love cinema, you will love Cinema Paradiso”, saya setuju sekali. (tapi tidak berarti film ini harus jadi mesin tolak ukur kadar love cinema seseorang)

Film ini menceritakan seorang anak kecil yang cinta film dan menjalin persahabatan dengan seorang proyeksionis bioskop, dan bagaimana persahabatan tersebut ‘membentuk’ jalan hidupnya hingga sekarang dan masa depan. Sangat direkomendasikan.

(Versi 124 menit; akan diupdate bila telah menemukan director’s cut-nya)

9/10

Nuovo Cinema Paradiso: rekomendasi dengan pujian yang tinggi (13+)

Iklan

The Curious Case of Benjamin Button

The Curious Case of Benjamin Button (2008)
sut: David Fincher
pen: Eric Roth | ###
A.S.

Film ini epik, dan mampu membawa kita dalam sebuah perjalanan berdurasi seumur hidup.

Sayangnya saya bukan seorang pujangga yang mampu merangkai kata-kata indah untuk mengartikulasikan beragam macam emosi yang diproyeksikan di sepanjang durasinya, dan bagaimana perasaan saya ketika shot terakhirnya mulai meredup dan credit muncul di layar. Saya hanya bisa tuliskan, luar biasa.

9.5/10

The Curious Case of Benjamin Button: rekomendasi dengan pujian yang tinggi (13+)

Extremely Loud and Incredibly Close

Extremely Loud and Incredibly Close (2011)
sut: Stephen Daldry
pen: Eric Roth | Jonathan Safran Foer (novel)
A.S.

Disutradari oleh Stephen Daldry, ditulis oleh Eric Roth, dibintangi Tom Hanks dan Sandra Bullock serta Max von Sydow. Masing-masing dari nama-nama tersebut tentunya sudah mampu menarik cinephiles untuk menonton film ini. Kalau komentar dari saya sih: film ini bagus dan memiliki cukup banyak momen-momen emosional yang kuat.

7/10

Extremely Loud and Incredibly Close: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

The Company Men

The Company Men (2010)
sut: John Wells
pen: John Wells
A.S.

Film drama yang berlatar belakang resesi ekonomi 2008 di Amerika Serikat. Kita mengikuti beberapa karakter yang tadinya merupakan ‘petinggi’ di sebuah perusahaan perkapalan besar lalu kena PHK dan harus mencicipi pahitnya hidup tanpa uang dan pekerjaan.

Film ini dibuat dengan cukup baik, hanya saja terasa terlalu ‘formulaic’. Karakter yang diperankan Tommy Lee Jones pada dasarnya merupakan sebuah plot device agar film ini berakhir baik, yang karakternya Chris Cooper merupakan ‘pemicu’ bagi karakternya untuk ‘bergerak’, yang pada akhirnya tanpa kedua karakter ini karakter yang diperankan Ben Affleck hanyalah seorang pecundang yang sebelum ‘keajaiban’ datang harus ‘menunggu’ untuk sementara (sebagian besar durasi cerita) di bawah naungan ‘kebaikan’ karakternya Kevin Costner. Progres naratifnya jadi malah seperti mengkhianati pesan dan hikmah moral yang (mungkin) ingin disampaikan.

Tentu itu hanya satu sudut pandang saja (yang belum tentu benar juga), dan film ini bisa lebih baik bila dilihat dari sudut pandang berbeda. Untung saja film ini tidak mengambil pendekatan yang melodramatis dan sentimental.

6.5/10

The Company Men: buat yang tertarik (13+)

Sex, Lies, and Videotape

Sex, Lies, and Videotape (1989)
sut: Steven Soderbergh
pen: Steven Soderbergh
A.S.

Hebat. Sebuah kisah sederhana yang sangat hebat. Dan meski kisahnya seputar seks tapi tidak memperlihatkan adegan seks sama sekali, adalah keputusan yang sangat jitu agar tidak ‘memurahkan’ kisahnya menjadi hanya sekedar medium soft porn—buat sebagian penonton.

Saya tidak tahu pastinya, tapi sepertinya Steven Soderbergh adalah satu-satunya sutradara debutan yang berhasil menang Palme d’Or (CMIIW).

Sangat direkomendasikan.

8.5/10

Sex, Lies, and Videotape: rekomendasi bagi para cinephiles (17+)

Through a Glass Darkly

Through a Glass Darkly | Såsom i en spegel (1961)
sut: Ingmar Bergman
pen: Ingmar Bergman
Swedia

Film keempat Ingmar Bergman yang saya tonton, dan winning streak-nya masih berlanjut. Film yang sangat luar biasa dalam menguraikan sesuatu yang sangat kompleks menjadi sangat sederhana. Sebenarnya bukan di film ini saja. Hal ini berlaku di semua film-filmnya paling tidak yang sudah saya tonton. Jenius.

Sangat direkomendasikan bagi para cinephiles (yang belum nonton).

9/10

Through a Glass Darkly: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

Barry Lyndon

Barry Lyndon (1975)
sut: Stanley Kubrick
pen: Stanley Kubrick | William Makepeace Thackeray (novel)
Inggris Raya | A.S.

Durasinya 3 jam tapi tidak terasa. Sinematografinya merupakan satu lagi inovasi yang muncul dari filmnya Kubrick. Tata artistiknya, luar biasa. Kualitas kontennya, tidak perlu diragukan. Stanley Kubrick tidak pernah membuat film yang mirip satu sama lain, tapi di setiap keunikan film-filmnya, selalu ada ‘Kubrick’-nya juga.

Ada beberapa film yang sulit dijelaskan dengan kata-kata kenikmatan seperti apa yang kita dapatkan darinya, karena kenikmatan tersebut abstrak dan tidak bisa begitu saja sekedar ‘dibentuk’ untuk dimengerti oleh orang lain melalui serangkaian kata-kata semata, paling tidak oleh saya. Film ini adalah salah satunya.

9/10

Barry Lyndon: rekomendasi dengan pujian yang tinggi (17+)

Margin Call

Margin Call (2011)
sut: J.C. Chandor
pen: J.C. Chandor
A.S.

Salah satu nominee skenario asli terbaik Oscar, yang memang merupakan skenario yang luar biasa, yang wajar saja menarik aktor-aktor kawakan meski tidak dibayar mahal untuk ikut terlibat. Rasa hormat saya meningkat dua ratus persen terhadap para aktor kawakan yang bisa saja mendapatkan bayaran lebih mahal di film lain tetapi lebih memilih film ini di atas uang.

Sebenarnya ceritanya sederhana saja. Sebuah firma baru tahu mereka sedang dalam keadaan genting, dan harus mencari kemudian mengeksekusi solusinya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Tetapi cara plotnya terurai, introduksi para karakternya, karakterisasi dari para karakternya, atmosfir drama yang ‘cool’ yang terdapat di sepanjang bagian pertamanya, akting-aktingnya, semuanya sangat keren.

Film ini cukup mirip dengan Michael Clayton (2007) hanya tanpa keintiman terhadap seorang protagonis. Sangat direkomendasikan bagi cinephiles dan pecinta trhiller(?) cerdas.

8.5/10

Margin Call: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

Persona

Persona (1966)
sut: Ingmar Bergman
pen: Ingmar Bergman
Swedia

HATTRICK!!!!! Baru tiga filmnya yang saya tonton tiga-tiganya masterpiece!

Dari sudut pandang tertentu, film ini bisa dibilang hanya terdiri dari dua wanita yang ‘terlibat percakapan’. Maka tidak untuk semua orang.

Di film ini ada banyak hal-hal inspiratif spesifik tertentu yang bisa kita lihat terdapat di banyak film-film modern, menunjukkan betapa besarnya pengaruh seorang Ingmar Bergman di dunia sinema. Sangat direkomendasikan bagi para cinephiles (yang belum nonton).

Amat sangat direkomendasikan banget sekali. Omong-omong, ternyata Tyler Durden sudah ada sejak 60an, lol.

10/10

Ingmar Bergman: rekomendasi dengan pujian yang tinggi (17+)

The Turin Horse

The Turin Horse | A Torinói ló (2011)
sut: Béla Tarr | Ágnes Hranitzky
pen: Béla Tarr | László Krasznahorkai
Hungaria

Mungkinkah ini yang ada di kepala Nietzsche?

Mungkin anda pernah mendengar/membaca cerita mengenai kejadian mental breakdown yang dialami Friedrich Nietzsche, seorang ahli filsafat asal Jerman. Pada 3 Januari 1889, Nietzsche menyaksikan seekor kuda taksi dicambuk oleh pemiliknya karena tidak mau bergerak. Ia langsung menghentikan aksi tersebut dengan berlari dan memeluk leher kuda itu sambil menangis, lalu ambruk. Setelah hari itu Nietzsche masih hidup selama 10 tahun, dalam keadaan diam dan gila.

Film ini adalah mengenai kuda itu. Bisa dibilang. Kurang lebih.

Mungkin anda pernah mendengar/membaca istilah film seni. Film yang sulit dimengerti, pacing-nya lambat, populer di festival, dan dibenci penonton kasual. Film ini tidak ragu lagi masuk dalam kategori itu.

Béla Tarr bukanlah tipe sutradara yang pemalu, dalam menggunakan durasi untuk membangun mood dan atmosfir. Bila ia memiliki point yang perlu disampaikan dengan memperlihatkan kegiatan yang mundane dalam real-time, akan tetap ia lakukan. Bandingkan saja: film ini terdiri hanya dari 30 shot (30 cuts), sementara film biasa rata-rata 600-700 cuts.

Mungkin anda pernah mendengar/membaca mengenai seorang sutradara film bernama Andrei Tarkovsky. Film-filmnya akan sulit dinikmati penonton kasual atau penonton yang belum pernah mengonsumsi film yang tidak menggunakan struktur naratif Hollywood. Tapi buat yang sudah pernah menonton karya-karya Andrei Tarkovsky dan dapat mengapresiasinya, The Turin Horse kemungkinan besar akan cocok dengan anda.

8.5/10

The Turin Horse: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)