ulasansingkat

sekedar ulasan (film) singkat

Category Archives: 8 / 10

Sex, Lies, and Videotape

Sex, Lies, and Videotape (1989)
sut: Steven Soderbergh
pen: Steven Soderbergh
A.S.

Hebat. Sebuah kisah sederhana yang sangat hebat. Dan meski kisahnya seputar seks tapi tidak memperlihatkan adegan seks sama sekali, adalah keputusan yang sangat jitu agar tidak ‘memurahkan’ kisahnya menjadi hanya sekedar medium soft porn—buat sebagian penonton.

Saya tidak tahu pastinya, tapi sepertinya Steven Soderbergh adalah satu-satunya sutradara debutan yang berhasil menang Palme d’Or (CMIIW).

Sangat direkomendasikan.

8.5/10

Sex, Lies, and Videotape: rekomendasi bagi para cinephiles (17+)

Iklan

Aguirre: The Wrath of God

Aguirre: The Wrath of God | Aguirre, der Zorn Gottes (1972)
sut: Werner Herzog
pen: Werner Herzog
Jerman

Menceritakan sebuah ekspedisi tentara Spanyol dalam mencari El Dorado di tengah Amazon, tahun 1500an. Drama di dalam film ini memiliki unsur-unsur konvensional namun sama sekali tidak terasa begitu. Entah mungkin karena cara penyampaiannya atau cara syutingnya, unsur-unsur dramanya sangat tipis tetapi ada ‘sesuatu’ di baliknya.

Film ini agak ‘aneh’. Para karakternya tidak berdimensi, dan kita tidak peduli pada mereka bahkan saat ada yang mati sekalipun. Juga film ini sama sekali tidak berusaha untuk membuat kita untuk bertanya-tanya apakah mereka akan berhasil atau tidak. Tetapi anehnya kita tetap dapat terpikat terhadap ‘sesuatu (entah apa)’ untuk terus menonton hingga akhir. Mungkin karena karisma Klaus Kinski sebagai Aguirre, atau mungkin karena tone filmnya yang bagai mimpi. Film ini sangat hebat dalam memberikan fenomena kegilaan di tengah hutan, dan bagian mana dari film ini yang menginspirasi Apocalypse Now baru jelas setelah menontonnya.

Film ini menyampaikan ceritanya dengan straightforward, bahkan seperti tidak niat untuk menggarisbawahi setiap drama yang terdapat di dalamnya. Seperti cerita yang diceritakan oleh seseorang yang telah menceritakan cerita yang sedang ia ceritakan ratusan kali sebelumnya hingga ia sudah tidak menggebu-gebu dan lost interest untuk pendengarnya merasakan hal yang sama yang ia rasakan saat ia masih interested. Tapi caranya bercerita tetap menarik!

Kadang serasa menonton sebuah film dokumenter. Kadang malah sureal. Aneh, dalam arti positif.

8.5/10

Aguirre: The Wrath of God: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

The Art of Stanley Kubrick: From Short Films to Strangelove

The Art of Stanley Kubrick: From Short Films to Strangelove (2006)
sut: David Naylor
pen: Robert Fleck
A.S.

Persis seperti judulnya, film dokumenter berdurasi 14 menit ini membahas karir Stanley Kubrick dari awal mulai hingga pertengahan karirnya, Dr. Strangelove (1964), dengan narasi dan talking heads dan arsip gambar.

Film ini cukup luar biasa dalam memberikan banyak informasi hanya dalam waktu singkat. Diedit dengan sangat baik.

Vodpod videos no longer available.

http://video.google.com/videoplay?docid=-8760987016088557545&hl=en

8/10

The Art of Stanley Kubrick: From Short Films to Strangelove: rekomendasi bagi para cinephiles (BO)

Margin Call

Margin Call (2011)
sut: J.C. Chandor
pen: J.C. Chandor
A.S.

Salah satu nominee skenario asli terbaik Oscar, yang memang merupakan skenario yang luar biasa, yang wajar saja menarik aktor-aktor kawakan meski tidak dibayar mahal untuk ikut terlibat. Rasa hormat saya meningkat dua ratus persen terhadap para aktor kawakan yang bisa saja mendapatkan bayaran lebih mahal di film lain tetapi lebih memilih film ini di atas uang.

Sebenarnya ceritanya sederhana saja. Sebuah firma baru tahu mereka sedang dalam keadaan genting, dan harus mencari kemudian mengeksekusi solusinya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Tetapi cara plotnya terurai, introduksi para karakternya, karakterisasi dari para karakternya, atmosfir drama yang ‘cool’ yang terdapat di sepanjang bagian pertamanya, akting-aktingnya, semuanya sangat keren.

Film ini cukup mirip dengan Michael Clayton (2007) hanya tanpa keintiman terhadap seorang protagonis. Sangat direkomendasikan bagi cinephiles dan pecinta trhiller(?) cerdas.

8.5/10

Margin Call: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

The Turin Horse

The Turin Horse | A Torinói ló (2011)
sut: Béla Tarr | Ágnes Hranitzky
pen: Béla Tarr | László Krasznahorkai
Hungaria

Mungkinkah ini yang ada di kepala Nietzsche?

Mungkin anda pernah mendengar/membaca cerita mengenai kejadian mental breakdown yang dialami Friedrich Nietzsche, seorang ahli filsafat asal Jerman. Pada 3 Januari 1889, Nietzsche menyaksikan seekor kuda taksi dicambuk oleh pemiliknya karena tidak mau bergerak. Ia langsung menghentikan aksi tersebut dengan berlari dan memeluk leher kuda itu sambil menangis, lalu ambruk. Setelah hari itu Nietzsche masih hidup selama 10 tahun, dalam keadaan diam dan gila.

Film ini adalah mengenai kuda itu. Bisa dibilang. Kurang lebih.

Mungkin anda pernah mendengar/membaca istilah film seni. Film yang sulit dimengerti, pacing-nya lambat, populer di festival, dan dibenci penonton kasual. Film ini tidak ragu lagi masuk dalam kategori itu.

Béla Tarr bukanlah tipe sutradara yang pemalu, dalam menggunakan durasi untuk membangun mood dan atmosfir. Bila ia memiliki point yang perlu disampaikan dengan memperlihatkan kegiatan yang mundane dalam real-time, akan tetap ia lakukan. Bandingkan saja: film ini terdiri hanya dari 30 shot (30 cuts), sementara film biasa rata-rata 600-700 cuts.

Mungkin anda pernah mendengar/membaca mengenai seorang sutradara film bernama Andrei Tarkovsky. Film-filmnya akan sulit dinikmati penonton kasual atau penonton yang belum pernah mengonsumsi film yang tidak menggunakan struktur naratif Hollywood. Tapi buat yang sudah pernah menonton karya-karya Andrei Tarkovsky dan dapat mengapresiasinya, The Turin Horse kemungkinan besar akan cocok dengan anda.

8.5/10

The Turin Horse: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

The Raid

The Raid (2011)
sut: Gareth Evans
pen: Gareth Evans
Indonesia

Heeeeaaaaaagghhhh rrraaaaaaaaahhhhhhh hrrrraaaaaaaaa grhaaaaaaaaaaeeeeeaaaaaaa gwrstyyaaaarrrrrrggghhhhch mmbbbbeeeeeeeekkkkk mhuuurrrraaaagggghhtttxxrzz!!!!! lol.

Sangat menyenangkan dan menghibur. Film ini penuh klise dan percakapan yang terlalu ‘menjelaskan’. Tapi adegan berantemnya keren abis. Ganas. Suaranya mantap. Darahnya mantap. Mad Dog-nya mantap.

Cari hiburan dari adegan aksinya saja. Jangan mengharapkan apa-apa dari plot maupun karakter, karena anda akan kecewa. Film ini murni serangkaian sekuens aksi.

Gareth Evans adalah sutradara yang jago dalam muncul dengan premis yang sangat menarik, tapi tidak terlalu niat untuk mengembangkannya menjadi sebuah cerita ‘bagus’. Premis film Merantau secara keseluruhan. Premis film The Raid secara keseluruhan. Juga premis adegan berantem klimaks yang prosesnya tidak konvensional (jagoan terpaksa main keroyokan). Mungkin bila ia bekerja sama dengan penulis yang handal, Salman Aristo misalnya, cerita yang timbul dari premis-premis tersebut bisa lebih menggugah.

Namun secara keseluruhan, film ini sangat menghibur. Saya agak malu sebenarnya memberi nilai sangat tinggi untuk film ini setelah membaca review Roger Ebert dan setuju dengan semua poinnya.
Tapi saya harus jujur, film ini ada ‘greget’-nya, lol.

8/10

The Raid: rekomendasi bagi penikmat film aksi (13+)

In a Better World

In a Better World | Hævnen (2010)
sut: Susanne Bier
pen: Anders Thomas Jensen | ##
Denmark | Swedia

Film berbahasa asing terbaik Oscar 2010. Pemainnya pada bagus, tidak terkecuali para aktor ciliknya.

Film ini berpusat pada pertemanan ‘kontras’ antar 2 anak dengan sifat yang bertolak belakang, dan hubungan mereka terhadap orang tua mereka masing-masing. Tapi film ini adalah drama dewasa. Disajikan secara dewasa, dan meminta setiap aspek dramanya dicerna secara dewasa.

Sangat direkomendasikan.

8/10

In a Better World: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

—–

Catatan: di scene kamp ‘rumah sakit’ di Afrika (?), luka-luka mengerikan para pasiennya diperlihatkan (luka menganga)

The Cook, The Thief, His Wife, and Her Lover

The Cook The Thief His Wife and Her Lover (1989)
sut: Peter Greenaway
pen: Peter Greenaway
Prancis | Inggris Raya

Baca pos ini lebih lanjut

Four Lions

Four Lions (2010)
sut: Christopher Morris
pen: ####
Inggris

Asli orisinal dan luar biasa. Menceritakan 5 muslim Inggris yang merencanakan bom-bunuh-diri. Tetapi mereka bukanlah tipe orang yang bisa anda sebut kompeten, atau cerdas. Komedinya sebagian besar memang datang dari hal ini, tetapi mereka bukan sekedar karakter-karakter ‘bodoh’ klise semata. Masing-masing dari mereka sangat unik dan menarik, berkat paduan istimewa dari skenario, pengarahan, dan akting.

Sumpah, sepanjang film ini dapat membuat tertawa keras terbahak-bahak. Saya menonton film ini lumayan larut malam, dan harus terus-terusan mengingatkan diri untuk tidak tertawa terlalu keras. Tetapi saat komedi berikutnya muncul lagi, jadi lupa lagi. Menurut saya komedinya jenius. Komedinya datang beruntun seperti senapan mesin. Punchline demi punchline datang saling susul. One-liners-nya juga sangat cerdas dan banyak dan sering datang tiba-tiba. Dan film ini cukup punya sesuatu yang ingin disampaikan di balik komedi konyolnya, dan saya pikir lumayan dalam.

Tetapi harus saya tuliskan, bahwa komedinya memang ‘Inggris banget’. Bagi yang tidak familiar dengan kultur dan ‘cara bicara’ orang Inggris, kemungkinan besar komedinya akan ‘lewat’ dan malah bikin bingung karena sebagian besar tidak visual. Saya sendiri bukan orang Inggris (tentu saja, duh!) dan belum pernah ke sana, tetapi saya sudah lumayan cukup banyak menonton film-film mereka (paling tidak yang bisa memberikan gambaran kondisi kultur Inggris kontemporer), sehingga kurang lebih dapat menikmati film ini.

Jadi meski saya pribadi sangat menyukai film ini, tetap tidak direkomendasikan untuk ‘kita’ (orang Indonesia). Tentu saja film ini tidak bermaksud jadi eksklusif, hanya target penontonnya agak spesifik. Sebagai perbandingan, beberapa hal kultural di film Sang Penari (2011) tentu tidak akan bisa dimengerti sepenuhnya oleh orang Inggris, kecuali mungkin oleh Gareth Evans atau yang sudah familiar dengan beberapa budaya kita.

8.5/10

Four Lions: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

The Help

The Help (2011)
sut: Tate Taylor
pen: Tate Taylor
A.S.

Film ini bagus sekali. Kalau film ini yang menang film terbaik di Oscar kemarin dan bukan The Artist (2011), tidak masalah buat saya. Kekuatan terbesar dari film ini ada di skenario dan performances-nya. Saya heran mengapa film ini tidak dapat nominasi skenario adaptasi terbaik. Tapi saya cuma orang aneh di internet dan yang memilih nominasi adalah penulis-penulis yang punya kredibilitas, jadi lupakan saja yang barusan.

Film ini dapat tiga nominasi akting dan satu menang (yang memang sangat pantas), tetapi juga dari keseluruhan departemen aktingnya tidak satupun yang lemah. Film ini dapat menarik kita ke dalam dunianya dan menghanyutkan kita ke dalam kehidupan masing-masing karakternya. Dan bersamaan dengan subject-matter-nya yang berat, film ini juga masih sempat memberikan momen-momen lucu yang dapat membuat tertawa.

Salah bila saya menyudahi ulasan ini tanpa memberi penghargaan terhadap sutradaranya, karena dialah yang mengumpulkan para aktris-aktris ini, kemudian mengeluarkan penampilan yang luar biasa dari mereka semua. Ngomong-ngomong, saat nama Tate Taylor muncul sebagai penulis dan sutradara, tadinya saya pikir cewek karena namanya, dan setelah cari tahu sebentar, ternyata cowok—gagah lagi. Mungkinkah dia akan menjadi Clooney atau Eastwood yang baru: punya tampang dan otak?

Sangat direkomendasikan bagi para cinephiles dan penikmat drama/sejarah(?).

8.5/10

The Help: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)