ulasansingkat

sekedar ulasan (film) singkat

Category Archives: 7 / 10

Extremely Loud and Incredibly Close

Extremely Loud and Incredibly Close (2011)
sut: Stephen Daldry
pen: Eric Roth | Jonathan Safran Foer (novel)
A.S.

Disutradari oleh Stephen Daldry, ditulis oleh Eric Roth, dibintangi Tom Hanks dan Sandra Bullock serta Max von Sydow. Masing-masing dari nama-nama tersebut tentunya sudah mampu menarik cinephiles untuk menonton film ini. Kalau komentar dari saya sih: film ini bagus dan memiliki cukup banyak momen-momen emosional yang kuat.

7/10

Extremely Loud and Incredibly Close: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

Stanley Kubrick: A Life in Pictures

Stanley Kubrick: A Life in Pictures (2001)
sut: Jan Harlan
A.S.

Buat yang ingin mengenal Stanley Kubrick sedikit lebih dekat, melihat klip-klip yang belum pernah dilihat sebelumnya, film dokumenter ini cukup baik dalam mengantarkan hal-hal berkenaan karir dan kehidupan sang sutradara legendaris.

7.5/10

Stanley Kubrick: A Life in Pictures: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

Bridesmaid

Bridesmaid (2011)
sut: Paul Feig
pen: Kristen Wiig | Annie Mumolo
A.S.

Film ini sangat lucu, dan skenarionya memang pantas dapat nominasi Oscar untuk penulisan skenario asli terbaik. Skenarionya tidak jauh dari ‘resep’ Hollywood untuk film sejenisnya, tetapi ada sesuatu yang segar di dalamnya. Ada sesuatu yang berbeda.

Dan cukup mengejutkan mengetahui bahwa ini adalah skenario pertama dari kedua penulisnya, dan katanya mereka bahkan membeli dulu buku ‘how-to’ soal penulisan skenario.

Sering disebut-sebut sebagai The Hangover (2009) versi cewek, tetapi selain satu scene komedi jorok (berkenaan dengan muntah dan berak), menurut saya tipe komedinya berbeda.

Sangat direkomendasikan buat yang doyan komedi, terutama komedi kontemporer keluaran Hollywood.

7.5/10

Bridesmaid: rekomendasi bagi pecinta komedi (17+)

Batman: Under the Red Hood

Batman: Under the Red Hood (2010)
sut: Brandon Vietti
pen: Judd Winick
A.S.

Film ini merupakan kisah origin dari Red Hood. Bagi yang sebelumnya tidak tahu siapa dia, film ini akan menjadi perkenalan yang paling pantas untuk karakter ini.

Meski sebuah film kartun film ini kurang cocok untuk anak-anak di bawah sepuluh tahun. Karena film ini mengandung kekerasan termasuk pembunuhan berdarah dingin yang tidak ‘dilembutkan’ sama sekali–untungnya. Ceritanya sendiri sangat menarik karena sangat personal bagi Batman dan disusun dan di-pace dengan sangat baik. Adegan aksinya juga sangat luar biasa. Semuanya dipikirkan, dikoreografi, dan ditampilkan dengan cermat, sangat keren.

7.5/10

Batman: Under the Red Hood: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

The Hunger Games

The Hunger Games (2012)
sut: Gary Ross
pen: Gary Ross | Suzanne Collins | Billy Ray
A.S.

Baca pos ini lebih lanjut

Merantau

Merantau (2009)
sut: Gareth Evans
pen: Gareth Evans
Indonesia

Klise, klise, klise. Dari sisi naratif, dari sisi filmmaking, dari sisi aksi. Semua yang terdapat dalam film ini sudah dapat dilihat di banyak film-film yang telah muncul terlebih dahulu (oke, mungkin tidak di sinema Indonesia).

Tapi tidak semua yang klise otomatis buruk. Terkadang kita tidak perlu cerita yang tebal, karakterisasi yang bulat, ataupun sesuatu yang baru. Terkadang kita hanya ingin melihat orang berantem abis-abisan saling pukul sampai bonyok dengan koreografi indah nan liar.

Dan film ini menyadari betul hal tersebut sebagai tujuan utamanya, sehingga tidak repot-repot memberikan kisah yang menggugah maupun pesan yang dalam dengan simbolisasi filosofi macam-macam. Film ini hanya menawarkan dirinya di apa adanya, hanya ingin menghibur, suka tidak suka.

Ceritanya yang sangat sederhana murni hanya sekedar sarana untuk menunjukkan serentetan sekuens aksi silat. Awal-awal durasi yang digunakan sebagai introduksi dan set-up memang cukup menyiksa untuk ditonton, tapi setelah ceritanya naik gigi di sekitar menit 30, film ini sangat menghibur. Adegan aksinya maksud saya. Kalau menilai ceritanya terpisah, dalam skala 1 sampai 10 akan saya beri 4. Tapi di sisi lain karena film ini dengan sukses menghidupkan kembali gairah perfilman genre aksi domestik, mengandung koreografi dan eksekusi silat yang keren, dan terutama karena telah memberikan Indonesia bintang laga baru luar biasa, IKO UWAIS, jadi 10.

7/10

Merantau: rekomendasi bagi penggemar aksi (13+)

We Need to Talk About Kevin

We Need to Talk About Kevin (2011)
sut: Lynne Ramsay
pen: Lynne Ramsay | Rory Kinnear | Lionel Shriver (novel)
A.S.

Cara film ini menunjukkan masa lalu diparalelkan dengan masa kini membuat penonton kurang lebih memiliki gambaran apa yang telah terjadi bahkan sejak di awal-awal durasi. Jadi kita hanya akan menunggu apakah tebakan kita itu benar, dan jadi penasaran ingin melihat bagaimana kejadiannya. Dan saya yakin tebakan hampir semua orang benar, jadi tidak perlu menonton film ini sambil menunggu twist/pay-off. Nikmati saja ceritanya sebagai sebuah karakter studi dan kisah drama dengan POV yang konsisten.

Sebuah film yang solid. Akting Tilda Swinton sangat bagus. Ketiga aktor karakter Kevin juga bagus semua. Tiga aktor yang berbeda memerankan karakter yang sama (usia berbeda), dan berhasil memberikan aura yang sama di setiap screentime mereka. Hebat sekali.

Film ini bukanlah film horor, tapi bisa dimengerti bila ada yang memandangnya seperti itu. Film ini mengunci kita untuk terus menonton agar tahu bagaimana ceritanya terurai dengan suspense ketakutan karena kita sudah punya bayangan sendiri kira-kira apa yang akan terjadi. Sebenarnya tidak ada horor sepanjang film, dan kita hanya menakuti diri sendiri, tapi…

7.5/10

We Need to Talk About Kevin: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

9808

9808 Antologi 10 Tahun Reformasi Indonesia (2008)
sut: ##########
pen: ##########
Indonesia

Film ini bukan seperti film yang saya bayangkan akan saya tonton. Saya pikir film ini akan lebih menganalisa perubahan-perubahan yang terjadi selama 10 tahun setelah kejadian 1998 lewat cerita fiksi. Apa perbedaan yang fundamental di tahun 1998 dengan 2008 dalam konteks kejadian itu. Bagaimana kita melihat kejadian 1998 dengan kacamata 10 tahun lebih tua. Apa pengaruh kejadian itu untuk hari ini dan masa depan. Dan sebagainya.

Film ini memang masih menyentuh wilayah-wilayah tersebut, tapi tidak dalam volume atau cara yang saya pikir akan saya dapatkan. Kebanyakan film ini hanya membagi cerita beberapa individu tertentu yang kita (saya) tidak kenal, tidak signifikan dalam ‘gambar besar’-nya, dan tidak memberikan insight yang berarti terhadap peristiwa 1998, terutama bagi yang kurang tahu soal kejadiannya. Misalnya filmnya Ifa Isfansyah. Filmnya merupakan film pendek yang baik, tetapi dalam konteks 9808 = WTF?!

Di dalam omnibus ini banyak film-film yang asyik yang buat cinephiles akan menyenangkan. Dan soal konteks, masih bisa dibilang nyambung ke kejadian 1998 lah. Soal harapan saya mengenai kontennya, mungkin saya harus cari tahu dulu ya, biar pas nonton tidak terheran-heran dan tertipu oleh diri sendiri.

7/10

9808: … (BO)

Jakarta Maghrib

Jakarta Maghrib (2010)
sut: Salman Aristo
pen: Salman Aristo
Indonesia

Secara teknis, masih terasa seperti student-film. Agak sulit menjelaskannya, tapi akan terasa sendiri saat menontonnya. Namun secara konten, film ini memiliki banyak ide-ide, simbolisasi, dan pesan yang menggugah.

7/10

Jakarta Maghrib: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

Mata Tertutup

Mata Tertutup (2011)
sut: Garin Nugroho
pen: Tri Sasongko
Indonesia

Niat dan ambisi baik di balik film ini tidak akan terlewatkan karena sangat gamblang dan dominan sepanjang film. Meski begitu, saya pribadi merasa film ini sedikit meleset dari apa yang ingin dicapainya. Tidak terlalu jauh, tapi lumayan cukup untuk saya rasa perlu saya tuliskan.

Film ini ingin mengatakan (kurang lebih) hal-hal yang serupa seperti yang dikatakan di salah satu sisi film politik Syriana (2005) maupun Paradise Now (2005). Di film Mata Tertutup ini Garin Nugroho ingin memperlihatkan proses ‘cuci otak’/bujukan/penipuan anak-anak muda dengan memanfaatkan kelabilan usia muda mereka yang secara subtle, tersistemasi, dan terorganisir yang terjadi di luar pengawasan dan kuasa ‘orang tua/dewasa’.

Tapi yang membuat film ini sedikit meleset bagi saya adalah eksekusi yang masih ‘setengah matang’. Saya tahu hal ini bukanlah kesalahan filmmakernya karena film ini dibuat dengan biaya yang sangat murah dan disyut hanya dalam 9 hari sehingga tidak ada waktu untuk mendapatkan ‘matang’-nya. Bukan kesalahan siapa-siapa, tapi hal itu ada dan terasa di beberapa durasi film. Ada satu scene/shot yang cukup dapat mewakili poin ‘meleset’ saya ini. Yaitu di scene karakter Jajang C. Noer saat sedang mencari anaknya berhenti untuk mengambil air wudhu, karakternya yang selama ini keras dan tegar perlahan-lahan ‘kebocoran’ emosinya yang selama ini dibendung, lalu ia terisak sedih. Di sini kita dapat melihat apa yang ingin dituju oleh Garin Nugroho, yang memang merupakan poin naratif yang sudah mulai lumrah di sinema drama, namun tidak ‘dijual’ seperti yang ingin dituju. Jadi, bukan kesalahan fatal, hanya sedikit meleset saja (karena kurang waktu).

Secara keseluruhan, saya sangat salut terhadap film ini. Selain memberikan variasi lain tehadap menu tontonan saat ini, pesan yang ingin disampaikannya sudah terlalu lama tertunda untuk disampaikan pada masyarakat Indonesia dan sekarang akhirnya datang juga. Manfaat positifnya yang secara kongkrit paling tidak agar anak-anak muda lebih waspada terhadap hal-hal seperti ini dan agar para ‘orangtua/dewasa’ dapat melakukan sesuatu; apa itu, saya tidak tahu.

7/10

Mata Tertutup: rekomendasi bagi para cinephiles (BO)