ulasansingkat

sekedar ulasan (film) singkat

Category Archives: 6 / 10

The Company Men

The Company Men (2010)
sut: John Wells
pen: John Wells
A.S.

Film drama yang berlatar belakang resesi ekonomi 2008 di Amerika Serikat. Kita mengikuti beberapa karakter yang tadinya merupakan ‘petinggi’ di sebuah perusahaan perkapalan besar lalu kena PHK dan harus mencicipi pahitnya hidup tanpa uang dan pekerjaan.

Film ini dibuat dengan cukup baik, hanya saja terasa terlalu ‘formulaic’. Karakter yang diperankan Tommy Lee Jones pada dasarnya merupakan sebuah plot device agar film ini berakhir baik, yang karakternya Chris Cooper merupakan ‘pemicu’ bagi karakternya untuk ‘bergerak’, yang pada akhirnya tanpa kedua karakter ini karakter yang diperankan Ben Affleck hanyalah seorang pecundang yang sebelum ‘keajaiban’ datang harus ‘menunggu’ untuk sementara (sebagian besar durasi cerita) di bawah naungan ‘kebaikan’ karakternya Kevin Costner. Progres naratifnya jadi malah seperti mengkhianati pesan dan hikmah moral yang (mungkin) ingin disampaikan.

Tentu itu hanya satu sudut pandang saja (yang belum tentu benar juga), dan film ini bisa lebih baik bila dilihat dari sudut pandang berbeda. Untung saja film ini tidak mengambil pendekatan yang melodramatis dan sentimental.

6.5/10

The Company Men: buat yang tertarik (13+)

Iklan

Stanley Kubrick’s Boxes

Stanley Kubrick’s Boxes (2008)
sut: Jon Ronson
Inggris Raya

Tahukah anda bahwa setiap sebelum memulai produksi sebuah film, Stanley Kubrick akan melakukan riset yang luar biasa detil yang bahkan memakan waktu bertahun-tahun lamanya? Dan ternyata seluruh hasil riset tersebut disimpan dan di-arsipkan dalam kotak-kotak yang jumlahnya ratusan di dalam Kubrick Estate?

Nah, film dokumenter televisi ini mencoba memeriksa isi dari kotak-kotak tersebut, yang diharapkan mungkin dapat memberi lebih banyak insight mengenai cara kerja dan cara pikir sang jenius pemiliknya. Tapi film ini masih di permukaannya. Setelah memeriksa kotak-kotak tersebut selama 5 tahun, film ini malah hanya memberikan sedikit informasi yang hanya menguatkan pandangan soal Kubrick adalah seorang perfeksionis dan lain-lain yang sudah diketahui secara luas. Informasi-informasi yang hanya bersifat trivial.

Jangan salah, bagi penggemar berat dan para cinephiles, bahkan hal-hal yang trivial pun cukup berharga untuk diketahui. Tapi setelah mendapat akses untuk membuka kotak-kotak tersebut selama 5 tahun, cukup mengecewakan melihat kualitas dan kuantitas informasi yang diberikan.

Tapi film ini tetap cukup pantas ditonton. Film ini membahas banyak hal-hal trivial menarik yang dapat menimbulkan senyum di wajah anda. Misalnya fakta bahwa saking perfeksionisnya Kubrick, ia bahkan meminta agar kotak-kotak penyimpanan tersebut dibuat custom: dengan tutup yang rapat tapi mudah dibuka, terbuat dari bahan khusus, dan sebagainya. Contoh lain, Kubrick ternyata juga menyimpan, dan mengarsip sesuai negara dan kota (!), setiap surat-surat penggemar yang ia terima. Ia juga bahkan menandai, apakah isi surat tersebut positif atau negatif, atau crank (sinting). Direkomendasikan bila anda ingin mendengar cerita-cerita semacam ini.

6/10

Stanley Kubrick’s Boxes: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

Hi5teria

Hi5teria (2012)
sut: #####
pen: ######
Indonesia

Omnibus 5 film horor, dan tidak ada yang benar-benar luar biasa. Kecuali mungkin film ‘Loket’ yang disutradarai dengan sangat baik.

Memang sih terdapat beberapa momen-momen yang menarik. Dan saya bisa mengerti bila ada yang bisa menyukai film ini. Namun bila anda mencari film yang nakutin, bukan sekedar ngagetin, saya rasa film ini akan mengecewakan.

6/10

Hi5teria: … (13+)

Hugo

Hugo (2011)
sut: Martin Scorsese
pen: John Logan
A.S.

Film fantasi dongeng anak-anak ini oleh Martin Scorsese, lho! Yang pertama buat dia. Selain itu film ini juga sebenarnya adalah syair pujian/ode untuk masa awal-awal sejarah sinema dimulai, secara spesifik untuk George Méliès. Dan di film ini juga Scorsese dapat mengekspresikan rasa cintanya yang sangat besar pada sinema di luar medium film-film dokumenter. Tetapi saya sulit untuk menikmatinya.

Saya sangat ingin dan telah berusaha untuk bisa menyukai film ini. Film ini dibuat oleh orang yang tidak diragukan lagi kecintaan dan pengetahuannya yang sangat luas terhadap dunia sinema. Film ini secara internasional diklaim sebagai film yang luar biasa. Tapi saya tidak ingin membohongi diri sendiri dan lalu ikut arus: saya tidak suka ceritanya.

Paling tidak kisah karakter protagonisnya, Hugo. Di sepertiga akhir durasinya film ini baru mulai menarik ketika cerita beralih menjadi mengenai George Méliès. Tapi di dua-per-tiga awal durasinya film ini tidak ‘ke mana-mana’.

Tapi saya tetap salut terhadap film ini karena memperkenalkan penonton awam kepada sejarah awal sinema, terutama terhadap George Méliès. Semua klip-klip film yang dimasukkan adalah dari film-film pionir yang sangat penting dalam sejarah sinema. Dan disajikan dalam film dengan teknologi tinggi dan 3d lagi! Oiya, film ini juga 3d pertama buat Scorsese. Film ini dikomposisi dan di-staging dengan konsep 3d dari sananya, bukan post-convert. Saya memang cuma menonton yang 2d-nya, tapi dari shot-shotnya saya lumayan bisa membayangkan 3d-nya pasti luar biasa. James Cameron saja bilang film ini penerapan 3d terbaik yang pernah ia lihat: youtu.be/DFJZ1HKybZA

Jadi kesimpulannya, secara teknis dan ambisi, film ini luar biasa. Tapi secara naratif, saya pribadi kurang suka. Tapi direkomendasikan bagi para cinephiles dan penikmat cerita fantasi.

6.5/10

Hugo: rekomendasi bagi para cinephiles (BO)

——————–

Disclaimer: mungkin anda heran, kenapa saya memberi film ini rating yang lebih rendah dari misalnya film This Means War. Itu karena saya menilai setiap film atas dasar merit-nya sendiri. This Means War tidak berusaha menjadi lebih daripada kapasitas genre-nya saja. Kita bisa melihat seberapa jauh pencapaian yang ingin diraih oleh sebuah film setelah menontonnya dan bila berhasil atau bahkan melebihi, kita akan menemukan sebuah film greats yang dapat menawan dan artistik sekaligus.

Tinker Tailor Soldier Spy

Tinker Tailor Soldier Spy (2011)
sut: Tomas Alfredson
pen: ###
Inggris Raya

Dari novel yang cukup terkenal, dan pernah diadaptasi menjadi miniseri televisi yang populer di Inggris pada akhir 70an, kisah ini sudah sangat terkenal di Inggris. Menceritakan tentang George Smiley yang ingin menemukan mata-mata Rusia yang menyusup ke dalam badan intelijen Inggris.

Kisah ini tidak seperti kisah mata-mata yang lain yang penuh adegan aksi dan kejar-kejaran. Kisah ini lebih ‘pendiam’. Dan realistis. Filmnya sendiri memiliki sinematografi dan atmosfir yang khas. Departemen aktingnya dipenuhi jajaran aktor-aktor kawakan Inggris, bisa dibilang Harry Potter untuk penonton dewasa. Film ini juga disutradarai oleh Tomas Alfredson, yang membuat Let The Right One In (2008), yang menurut saya adalah film vampir terbaik sepanjang masa.

Namun meski memiliki semua hal itu, ternyata saya kurang bisa menikmati film ini. Gaya penyutradaraan Alfredson yang diterapkan ke film ini masih kurang lebih mirip dengan gaya penyutradaraannya di Let the Right One In, yang secara konsep seharusnya sangat pas untuk mengeksekusi kisah ini. Akting-akting dari bintang-bintangnya pun tidak ada yang lemah, bahkan semuanya luar biasa.

Tetapi menurut saya film ini agak kurang dalam hal yang paling vital dalam film, yaitu skenarionya (saya sadar kok skenarionya dapat nominasi Oscar). Cara skenarionya ‘menguraikan’ kisahnya terlalu ‘berani’ dalam ‘menyelubungi’ informasi dari penonton, sehingga selain membuat sulit untuk mengikuti apa yang sedang terjadi dan mau ke mana kisah ini menuju, kita juga sulit untuk peduli pada para karakternya. Dan kekurangan dari skenario ini juga akhirnya berdampak negatif pada pace film secara keseluruhan.

Meski begitu, selagi menontonnya saya tetap dapat merasakan bahwa film ini berkelas tinggi. Jadi mungkin saya harus menontonnya sekali lagi untuk dapat benar-benar meresapi apa yang mungkin terlewatkan di kali pertama. Tapi tetap saja, bagi penonton yang hanya ingin rileks dan mencari hiburan, film ini tidak direkomendasikan.

6.5/10

Tinker Tailor Soldier Spy: … (13+)

Lucky Luke

Lucky Luke (2009)
sut: James Huth
pen: #####
Perancis

Film komedi yang sangat menarik. Di Perancis memang orang-orangnya jago sekali membuat film komedi sureal konyol namun bisa artistik. Memainkan kisah Lucky Luke yang bersetting di Amerika tapi menggunakan bahasa Perancis saja sudah sureal lebih dari komiknya karena ini live-action. Film ini sangat bertolak belakang dengan film-film western spageti.

Struktur naratif film ini tetap masih berada di wilayah konvensional dan leluconnya tidak banyak, tetapi dengan komedi ala Perancisnya ada rasa segar yang orisinal (atau terasa orisnial mungkin hanya karena saya yang masih kurang nonton komedi Prancis). Juga dengan penyutradaraan dan penampilan yang baik dari para aktornya terutama Jean Dujardin, menjadikan dunia dalam film ini mudah dinikmati. Film yang cukup menarik, direkomendasikan untuk anda tonton bila berkesempatan.

6.5/10

Lucky Luke: rekomendasi bagi penikmat komedi dan western (13+)

Hafalan Shalat Delisa

Hafalan Shalat Delisa (2011)
sut: Sony Gaokasak
pen: Armantono | Tere Liye (novel)
Indonesia

Film ini memperlihatkan kehidupan seorang gadis kecil sebelum dan setelah bencana Tsunami di Aceh Desember 2004 silam. Film ini berhasil menggenggam beat-beat momen tertentu sepanjang durasinya, tapi meleset di sisanya. Film ini punya banyak masalah, tapi saya rasa bisa cukup menghibur untuk demografi penonton tertentu, yang menikmati film-film semacamnya. Setelah menonton trailernya dan anda merasa tertarik menontonnya, mungkin film ini memang untuk anda. Saya sendiri, sedikit terhibur, tapi merasa sangat bosan, ingin filmnya cepat-cepat selesai saja.

6/10

Hafalan Shalat Delisa: rekomendasi bagi para penikmat film semacamnya (BO)

Immortals

Immortals (2011)
sut: Tarsem Singh
pen: Charles Parlapanides | Vlas Parlapanides
A.S.

Saya menonton film ini lebih karena penasaran ingin melihat penampilan Henry Cavill, yang akan menjadi pemeran Superman berikutnya. Dan sekarang, saya jadi khawatir. Tidak ada emosi yang saya dapatkan dari penampilannya di film ini. Ia memang bisa berekspresi dengan wajah dan tubuhnya, tapi tak ada emosi yang memancar. Tak ada yang spesial. Dan kemungkinan besar itu lebih kepada kesalahan sutradaranya.

Lalu saya teringat, Brandon Routh, pemeran Superman sebelumnya, mampu mengeluarkan emosi yang meluap-luap di bawah arahan Bryan Singer. Jadi semoga Cavill nantinya akan mampu memberikan penampilan cemerlang, saat berada di bawah arahan sutradara…eh, sebentar, *cek imdb*, wuoh! Makin khawatir! ——

Immortals adalah film sci-fi ‘generic’, yang tokoh utamanya awalnya biasa saja (atau berderajat rendah), yang lalu akhirnya berhasil naik ke puncak setelah melalui beberapa hambatan. Serius, film ini generic banget.

Meski banyak adegan yang ‘besar’, skala filmnya sendiri sangat sempit. Tidak epik sama sekali. Masih epikan karya Tarsem Singh sebelumnya, The Fall (2006). Dan ini menurut saya lebih kepada kekurangan di bagian skenario. Kita tidak diberikan backstory yang cukup untuk dapat beridentifikasi kepada dan terutama karakter utamanya. Karakter-karakter yang lain hanya ada untuk ‘ada’, tanpa arc maupun motivasi yang jelas. Hal ini mempengaruhi kisah (yang generic) dan penceritaannya, membuatnya membosankan.

Bila anda ingin menontonnya, jangan harapkan film yang selevel dengan film-film The Lord of the Rings.

6.5/10

Immortals: bila anda tertarik (13+)

Breaking Dawn part 1

The Twilight Saga: Breaking Dawn – part 1 (2011)
sut: Bill Condon
pen: Stephenie Meyer (novel) | Melissa Rosenberg
A.S.

Baca pos ini lebih lanjut

The Dinner Game + Dinner For Schmucks

The Dinner Game | Le Dîner de Cons (1998)
sut: Francis Veber
pen: Francis Veber
Perancis

Baca pos ini lebih lanjut