ulasansingkat

sekedar ulasan (film) singkat

Category Archives: T

Through a Glass Darkly

Through a Glass Darkly | Såsom i en spegel (1961)
sut: Ingmar Bergman
pen: Ingmar Bergman
Swedia

Film keempat Ingmar Bergman yang saya tonton, dan winning streak-nya masih berlanjut. Film yang sangat luar biasa dalam menguraikan sesuatu yang sangat kompleks menjadi sangat sederhana. Sebenarnya bukan di film ini saja. Hal ini berlaku di semua film-filmnya paling tidak yang sudah saya tonton. Jenius.

Sangat direkomendasikan bagi para cinephiles (yang belum nonton).

9/10

Through a Glass Darkly: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

The Turin Horse

The Turin Horse | A Torinói ló (2011)
sut: Béla Tarr | Ágnes Hranitzky
pen: Béla Tarr | László Krasznahorkai
Hungaria

Mungkinkah ini yang ada di kepala Nietzsche?

Mungkin anda pernah mendengar/membaca cerita mengenai kejadian mental breakdown yang dialami Friedrich Nietzsche, seorang ahli filsafat asal Jerman. Pada 3 Januari 1889, Nietzsche menyaksikan seekor kuda taksi dicambuk oleh pemiliknya karena tidak mau bergerak. Ia langsung menghentikan aksi tersebut dengan berlari dan memeluk leher kuda itu sambil menangis, lalu ambruk. Setelah hari itu Nietzsche masih hidup selama 10 tahun, dalam keadaan diam dan gila.

Film ini adalah mengenai kuda itu. Bisa dibilang. Kurang lebih.

Mungkin anda pernah mendengar/membaca istilah film seni. Film yang sulit dimengerti, pacing-nya lambat, populer di festival, dan dibenci penonton kasual. Film ini tidak ragu lagi masuk dalam kategori itu.

Béla Tarr bukanlah tipe sutradara yang pemalu, dalam menggunakan durasi untuk membangun mood dan atmosfir. Bila ia memiliki point yang perlu disampaikan dengan memperlihatkan kegiatan yang mundane dalam real-time, akan tetap ia lakukan. Bandingkan saja: film ini terdiri hanya dari 30 shot (30 cuts), sementara film biasa rata-rata 600-700 cuts.

Mungkin anda pernah mendengar/membaca mengenai seorang sutradara film bernama Andrei Tarkovsky. Film-filmnya akan sulit dinikmati penonton kasual atau penonton yang belum pernah mengonsumsi film yang tidak menggunakan struktur naratif Hollywood. Tapi buat yang sudah pernah menonton karya-karya Andrei Tarkovsky dan dapat mengapresiasinya, The Turin Horse kemungkinan besar akan cocok dengan anda.

8.5/10

The Turin Horse: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

Tucker & Dale vs Evil

Tucker & Dale vs Evil (2010)
sut: Eli Craig
pen: Eli Craig | Morgan Jurgenson
Kanada | A.S.

Film ini bukan parodi film-film slasher remaja biasa. Film ini melangkah jauh melampaui premisnya.

Film ini memainkan kesalahpahaman dengan menjadikan dua karakter yang biasanya akan menjadi antagonis di film-film slasher biasa sebagai protagonisnya. Bahkan posternya pun bisa menyebabkan kesalahpahaman. Dan bagaimana bila para remaja yang pergi berkemah yang menjadi antagonis dan ingin membunuh mereka? Sumpah kocak abis. Tidak kurang lelucon dan darah.

Film ini sangat cerdas dalam memainkan komedi dari kesalahpahaman/prasangka, dan hal terburuk (terkocak) apa yang dapat timbul dari sana. Dan ‘pergerakan’/aliran ceritanya sungguh luar biasa.

Selucu-lucunya film ini, juga tetap memiliki beberapa hal yang pantas untuk diambil hikmahnya. Asal main ambil kesimpulan sendiri dan menghakimi orang lain dapat mengakibatkan kematian yang mengerikan. MUAHAHAHAHA!! *ehem*

8/10

Tucker & Dale vs Evil: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

Take Shelter

Take Shelter (2011)
sut: Jeff Nichols
pen: Jeff Nichols
A.S.

Film ini agak mirip dengan film lain yang dibintangi Michael Shannon juga, Bug (2006). Tidak benar-benar mirip, tapi polanya sama. Yaitu membuat penonton menerka-nerka sepanjang film, apakah kita sedang bersama protagonis yang ‘benar’ atau malah gila, dan jawabannya baru ada di akhir. Tapi menurut saya film ini lebih baik dari Bug.

Cara Jeff Nichols terus-terusan menahan rasa penasaran kita dengan memberikan ‘mimpi-mimpi’ yang menyeramkan, lalu diperbandingkannya dengan ‘kenormalan’ sehari-hari; sangat jitu dalam membuat sulit untuk benar-benar memastikan kebenarannya. Dan juga casting dan akting yang sangat luar biasa dari Michael Shannon menambah kehebatan film ini.

Sangat direkomendasikan bagi penggemar thriller, horor, misteri, dan drama.

7.5/10

Take Shelter: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

Tinker Tailor Soldier Spy

Tinker Tailor Soldier Spy (2011)
sut: Tomas Alfredson
pen: ###
Inggris Raya

Dari novel yang cukup terkenal, dan pernah diadaptasi menjadi miniseri televisi yang populer di Inggris pada akhir 70an, kisah ini sudah sangat terkenal di Inggris. Menceritakan tentang George Smiley yang ingin menemukan mata-mata Rusia yang menyusup ke dalam badan intelijen Inggris.

Kisah ini tidak seperti kisah mata-mata yang lain yang penuh adegan aksi dan kejar-kejaran. Kisah ini lebih ‘pendiam’. Dan realistis. Filmnya sendiri memiliki sinematografi dan atmosfir yang khas. Departemen aktingnya dipenuhi jajaran aktor-aktor kawakan Inggris, bisa dibilang Harry Potter untuk penonton dewasa. Film ini juga disutradarai oleh Tomas Alfredson, yang membuat Let The Right One In (2008), yang menurut saya adalah film vampir terbaik sepanjang masa.

Namun meski memiliki semua hal itu, ternyata saya kurang bisa menikmati film ini. Gaya penyutradaraan Alfredson yang diterapkan ke film ini masih kurang lebih mirip dengan gaya penyutradaraannya di Let the Right One In, yang secara konsep seharusnya sangat pas untuk mengeksekusi kisah ini. Akting-akting dari bintang-bintangnya pun tidak ada yang lemah, bahkan semuanya luar biasa.

Tetapi menurut saya film ini agak kurang dalam hal yang paling vital dalam film, yaitu skenarionya (saya sadar kok skenarionya dapat nominasi Oscar). Cara skenarionya ‘menguraikan’ kisahnya terlalu ‘berani’ dalam ‘menyelubungi’ informasi dari penonton, sehingga selain membuat sulit untuk mengikuti apa yang sedang terjadi dan mau ke mana kisah ini menuju, kita juga sulit untuk peduli pada para karakternya. Dan kekurangan dari skenario ini juga akhirnya berdampak negatif pada pace film secara keseluruhan.

Meski begitu, selagi menontonnya saya tetap dapat merasakan bahwa film ini berkelas tinggi. Jadi mungkin saya harus menontonnya sekali lagi untuk dapat benar-benar meresapi apa yang mungkin terlewatkan di kali pertama. Tapi tetap saja, bagi penonton yang hanya ingin rileks dan mencari hiburan, film ini tidak direkomendasikan.

6.5/10

Tinker Tailor Soldier Spy: … (13+)

This Means War

This Means War (2012)
sut: McG
pen: ####
A.S.

Film ini tidak luar biasa, tapi cukup menghibur buat saya. Dua sahabat yang bersaing untuk mendapatkan hati wanita yang sama, hmm, punya potensi untuk dieksekusi menjadi menarik. Apalagi kalau kedua sahabat itu adalah agen CIA dan menggunakan teknologi-teknologi tinggi agensinya untuk tujuan pribadi mereka itu, hmm, punya potensi untuk menjadi seru sekaligus kocak. Tapi seperti itukah hasil akhirnya? Hmm, tidak juga.

Ketiga bintang utamanya adalah aktor-aktor hebat, dengan karismanya masing-masing, tapi mungkin karena mendapat arahan yang kurang kuat soal konteks sebuah adegan di dalam film secara keseluruhan, ada rasa kurang pas. Dan saya rasa Reese Whiterspoon bukanlah aktris yang tepat untuk memerankan seorang wanita yang dikejar mati-matian oleh dua pria tampan, tapi yang ini mungkin adalah konsep, bahwa yang penting adalah karakter, bukan penampilan yang dapat menaklukkan hati pria.

Dan keseluruhan babak kedua film ini hanyalah elaborasi premisnya semata, tidak lebih, walau tidak membosankan, yang membuat film ini hanya film hiburan semata. Hanya sekedar film buddy-rom-com-aksi sesuai genre-nya.

Pada akhirnya film ini tidak lebih dari apa yang dijanjikan premisnya, dan bila anda tidak apa-apa dengan itu, anda pasti dapat menikmati film ini.

7/10

This Means War: rekomendasi bagi penikmat komedi aksi romantis (13+)

Transformers: Dark of the Moon

Transformers: Dark of the Moon (2011)
sut: Michael Bay
pen: Ehren Kruger
A.S.

Di film ini, Michael Bay telah mendengarkan keluhan penonton dan sudah tidak memberikan plot yang kelewatan serta adegan aksi yang terlalu liar dan sulit diikuti. Di sini adegan aksinya lebih mudah diikuti, sehingga masih ada “sesuatu” yang sampai ke penonton bukan sekedar warna-warni hasil renderan yang berkedip-kedip di layar.

Film ketiga ini juga memiliki plot yang lebih “sederhana” dan antagonis yang lebih “berdimensi” dari sebelum-sebelumnya dan bla bla bla. Saya tidak menyesal tidak menontonnya di bioskop, karena film ini cocok ditonton di tempat yang bisa rileks 100% (selonjoran, tiduran, makan kerupuk, kentut, pause, ke belakang, dll). Karena bila tidak, saya rasa durasinya yang cukup panjang yang sebagian besar hanya berisi mindless action semata akan membuat film ini pengalaman sinema yang menjemukan.

Intinya menurut saya film ini lebih baik daripada dua film pendahulunya. Dan endingnya cukup mengejutkan. Direkomendasikan untuk ditonton di waktu luang untuk rileks. Dan buat para pembenci Michael Bay, saya rasa anda hanya tidak menyukai sensibilitasnya, tetapi itu tidak berarti dia adalah sutradara yang buruk lho.

7.5/10

Transformers 3: rekomendasi bagi penikmat aksi non-stop (13+)

Tetsuo the Iron Man

Tetsuo the Iron Man | Tetsuo (1989)
sut: Shinya Tsukamoto
pen: Shinya Tsukamoto
Jepang

Ceritanya, sederhana saja. Awalnya memang agak sulit dipahami, tetapi kemudian akan jelas sendiri. Yang menarik adalah cara penyampaiannya. Dan yang lebih menarik lagi, adalah bentuk/gaya filmnya.

Sisi eksperimental dari visual dan spesial efeknya disertai musik ‘metal’ (bukan genre metal, tapi metal yang elemen, besi gitu, ^_^) memberikan film ini ‘energi’ yang biasanya hanya dapat ditemukan di film-film sureal ekperimental semacamnya. Kalau mengambil contoh karya-karya sutradara barat, coba bayangkan film-film David Lynch atau Alejandro Jodorowsky namun memiliki semangat punk rock metal. Kalau sutradara timur, mungkin banyak, tapi saat ini saya hanya bisa teringat Takashi Miike. Intinya, film ini tipe film yang semacam itu, yang aura kejeniusan ada terpancar dari ‘chaos’ di sepanjang durasinya.

8/10

Tetsuo: rekomendasi bagi para cinephiles (17+)

Tigerland

Tigerland (2000)
sut: Joel Schumacher
pen: Ross Klavan | Michael McGruther
A.S.

Entah mengapa film luar biasa ini kurang populer bahkan di negara asalnya sendiri. Di trivia IMDb pun tertulis bahwa film ini hanya diputar di 5 layar. Apa-apaan?

Film ini luar biasa super yang mana sulit dipercaya disutradarai oleh Joel Schumacher. Film ini menggunakan gaya cinema verite yang didukung oleh sinematografi “16mm buruk”, memberikan atmosfir kelam dan menyeramkan mewakili ketakutan para karakter di dalam film untuk merangkul datangnya perang.

Akting yang terdapat di dalam film sangatlah luar biasa tanpa satupun penampilan yang lemah, padahal kebanyakan diperankan oleh aktor-aktor yang tidak terkenal (paling tidak untuk masa itu).

Selain itu skenario film ini kaya dengan development karakter padahal ceritanya bergerak maju hampir seluruhnya oleh dialog. Skenario film ini merupakan satu contoh penulisan dialog yang luar biasa tanpa perlu tampil cool dan bertele-tele, seperti misalnya dialog di film-film Quentin Tarantino (hanya sebagai perbandingan; ia adalah salah satu sutradara favorit saya).

Sangat direkomendasikan, bila anda ingin melihat film perang yang dibentuk dengan baik dan “kaya karakter”.

9/10

Tigerland: Rekomendasi dengan pujian yang tinggi (17+)

Ten

Ten (2002)
sut: Abbas Kiarostami
pen: Abbas Kiarostami
Iran

Waw. Para cinephiles harus bersyukur ada seorang filmmaker yang membuat film-film seni berkualitas dan sekaligus memberikan sebuah variasi rasa terhadap dunia sinema, memperkaya dunia kita. Namanya adalah Abbas Kiarostami.

Film ini menceritakan percakapan seorang wanita di atas mobil, dalam sepuluh “moment”. Seluruhnya, setiap kali, hanya terdapat dua orang, di atas mobil, bicara. Dan bicara. Dan gestur-gestur. Dua shot cut-to-cut antar pengemudi dan penumpang. Dan terus bicara.

Tapi jangan salah sangka dulu. Memang konsepnya kedengaran “sok”, seperti seorang sutradara “sok seniman-yang-bikin-pilem-seni”, padahal sama sekali tidak perduli dengan penontonnya. Tidak. Film ini jauh dari hal itu. Film ini sangat dalam dalam studi karakternya, studi kultural menyangkut kehidupan wanita di Iran, dan seperti biasanya, mengandung kehebatan Abbas Kiarostami dalam membaurkan fiksi dan kenyataan.

Sangat direkomendasikan kepada para pecinta sinema seni, pecinta sastra studi karakter, dan anda yang ingin sekedar melihat kultur Iran dari sebuah sudut pandang yang unik.

Seorang sutradara favorit saya pribadi, Michael Haneke, pernah mengatakan, “My favourite film-maker of the decade is Abbas Kiarostami. He achieves a simplicity that’s so difficult to attain.”

9.5/10

Judul: Rekomendasi bagi para cinephiles (BO)