ulasansingkat

sekedar ulasan (film) singkat

Category Archives: R

The Raid

The Raid (2011)
sut: Gareth Evans
pen: Gareth Evans
Indonesia

Heeeeaaaaaagghhhh rrraaaaaaaaahhhhhhh hrrrraaaaaaaaa grhaaaaaaaaaaeeeeeaaaaaaa gwrstyyaaaarrrrrrggghhhhch mmbbbbeeeeeeeekkkkk mhuuurrrraaaagggghhtttxxrzz!!!!! lol.

Sangat menyenangkan dan menghibur. Film ini penuh klise dan percakapan yang terlalu ‘menjelaskan’. Tapi adegan berantemnya keren abis. Ganas. Suaranya mantap. Darahnya mantap. Mad Dog-nya mantap.

Cari hiburan dari adegan aksinya saja. Jangan mengharapkan apa-apa dari plot maupun karakter, karena anda akan kecewa. Film ini murni serangkaian sekuens aksi.

Gareth Evans adalah sutradara yang jago dalam muncul dengan premis yang sangat menarik, tapi tidak terlalu niat untuk mengembangkannya menjadi sebuah cerita ‘bagus’. Premis film Merantau secara keseluruhan. Premis film The Raid secara keseluruhan. Juga premis adegan berantem klimaks yang prosesnya tidak konvensional (jagoan terpaksa main keroyokan). Mungkin bila ia bekerja sama dengan penulis yang handal, Salman Aristo misalnya, cerita yang timbul dari premis-premis tersebut bisa lebih menggugah.

Namun secara keseluruhan, film ini sangat menghibur. Saya agak malu sebenarnya memberi nilai sangat tinggi untuk film ini setelah membaca review Roger Ebert dan setuju dengan semua poinnya.
Tapi saya harus jujur, film ini ada ‘greget’-nya, lol.

8/10

The Raid: rekomendasi bagi penikmat film aksi (13+)

Iklan

Republik Twitter

Republik Twitter (2012)
sut: Kuntz Agus
pen: E.S. Ito
Indonesia

Sebelumnya memang sudah pernah dengar kalo ada film yang judulnya Republik Twitter akan rilis, tapi pengetahuan saya terhadap film ini hanya sebatas itu saja. Nonton di hari rilisnya juga cuma kebetulan. Maka setelah nonton dan cari tahu sebentar, lalu menemukan bahwa film ini bukan adaptasi dari mana-mana dan merupakan sebuah skenario orisinal, lumayan mengejutkan buat saya.

Karena ceritanya ‘berisi’, tidak ada momen-momen yang membuat cringe yang biasanya banyak terdapat di film-film kita, karakter-karakternya pada padat, dan memiliki banyak one-liners yang dekat dengan kultur pop saat ini.

Memang terdapat karakter-karakter sekunder yang hanya sebatas plot-device dan sub plot yang memiliki resolusi yang agak malas. Juga kisah romansa film ini kurang ‘dapet’ karena cinta antara kedua tokoh cowok cewek utamanya sangat terbatas dengan apa yang para filmmakernya sempat sajikan saja dan tidak terasa lebih dalam dari permukaannya. Tapi tema mengenai ‘pemanfaatan’ jejaring sosial (dalam hal ini twitter) yang terdapat di dalam film ini yang ‘dibungkus’ oleh kisah romansa-nya adalah hal yang menahan interest saya. Apalagi di pemutaran yang saya kunjungi, para penontonnya cukup enjoy dan terlibat. Mereka tertawa di setiap one-liners yang diutarakan. Pokoknya reaksi mereka selaras dengan momen yang sedang terjadi dalam film. Karena itu saya meramalkan film ini akan laris sesuai target penontonnya.

Ngomongin soal filmmaking-nya, sangat profesional di setiap bidang. Di bidang sinematografi, keren, tidak terlalu show-offs, namun tetap memberikan mood. Di bidang-bidang lainnya pun tampak ditangani oleh orang-orang handal yang sudah cukup nyaman dengan bidangnya masing-masing. Namun ada satu hal yang kurang yang cukup menonjol di bagian tata suara. Sempat muncul editing suara yang masih kasar sekali sehingga cukup mengherankan kenapa bisa terlewatkan hingga sampai ke hasil akhirnya, padahal sepertinya hanya hal yang bisa ‘diurus’ dengan mudah. (Yaitu di scene Sukmo dan Andre ngobrol di mobil dan Andre mengeluh soal Nadya yang twitter-an melulu). Hal ini bukan mengeluhkan hal yang sepele, karena kompetensi seseorang dapat dipertanyakan mengapa hal ini bisa terlewatkan. Dan saya yakin ini bukan kesalahaan tata suara bioskopnya. Untuk amannya akan saya pastikan lagi dengan menyewa dvd-nya nanti, tapi bila ada yang bisa mengkonfirmasikan hal ini, akan sangat dihargai karena menyangkut kredibilitas penata suara filmnya dan kredibilitas pendengaran saya ^_^

Pada intinya, suka.

7/10

Republik Twitter: rekomendasi bagi penikmat sinema kita (BO)

Real Steel

Real Steel (2011)
sut: Shawn Levy
pen: John Gatins | Dan Gilroy (story) | Jeremy Leven (story)
A.S.

Sepertinya, meski bila anda tidak tahu apa-apa mengenai film ini dan mendapat persepsi yang salah dari posternya sehingga mengira ini adalah film aksi semacam Transformers (2007), anda tetap dapat terhibur.

Film “keluarga” ini sangat solid dalam karakterisasi dan karakter arc-nya. Tidak memberikan sesuatu yang baru, tetapi mendaur kisah dan karakter-karakternya sehingga terasa fresh.

Menurut saya Shawn Levy yang terkenal membuat film-film komedi keluarga, sangat mengejutkan saat mampu mengeluarkan drama dan emosi dalam hampir setiap adegan aksi di film ini. Dan salah satu faktornya adalah karena mungkin ia dengan sadar menghindari gimmick populer adegan aksi seperti editing super cepat dengan kamera handheld. Adegan aksinya ditampilkan dengan rapi sehingga mudah untuk diikuti, dan memberi kesempatan untuk membiarkan dramanya tersampaikan. Memang ada yang saya rasa lebih bisa dramatis lagi, tetapi selebihnya sudah sangat mengagumkan.

Dan desain robot-robotnya juga sangat menarik. Terutama desain robot protagonis yang “wajah”-nya sederhana dan sama sekali tanpa ekspresi, namun mampu menimbulkan simpati pada penonton.

Bila dibandingkan dengan Wall-E (2008) (yang merupakan sebuah film yang luar biasa), yang memiliki artificial inteligence serta suara, wajah, dan gestur yang ekspresif, sangatlah kontras dengan robot yang di permukaannya “robot (blank)” banget ini dalam hal emosi yang mereka pancarkan. Robot utama dalam film Real Steel ini adalah karakter yang sangat unik menurut saya, apalagi namanya mengingatkan pada salah satu ikon manga dari Jepang.

Dan saya pribadi sangat menyukai bagaimana cara para filmmakernya “menangani” karakter ini, dalam hal screentime dan mengarahkan fokus penonton pada “karakter”nya. Saya ingin menjelaskan maksud saya, tetapi tidak ingin anda jadi terlalu fokus padanya, padahal hanya hal yang menarik bagi saya pribadi. Maafkan bila ulasan ini jadi terlalu condong ke karakter robot yang sebenarnya hanya pendukung di film, tetapi karakter inilah yang paling berkesan bagi saya.

Dan soal efek CGI dan animatronics-nya, kadang-kadang memang sempat terlihat “kepalsuannya”, tetapi robot-robot di film ini memiliki “massa” dan menempati ruang, terlebih lagi dengan gerakan-gerakan yang realistis banget (karena menggunakan teknik motion-capture oleh petinju profesional di bawah pengawasan Sugar Ray Leonard). Sangat direkomendasikan.

8/10

Real Steel: Rekomendasi bagi cinephiles dan penonton kasual (BO)

Rise of the Planet of the Apes

Rise of the Planet of the Apes (2011)
sut: Rupert Wyatt
pen: Rick Jaffa | Amanda Silver | #
A.S.

Memang plotnya sudah sering kita lihat dalam berbagai variasi di film-film serupa yang menceritakan awal punahnya peradaban manusia. Berawal dari sebuah virus atau polusi atau teknologi baru/a.i.. Tetapi dengan eksekusi cemerlang dan ‘aksi’ karakter yang menarik simpati, film ini berhasil menjadi film yang ‘lebih’ dalam segala hal.

Saya merasa amat malu karena telah ‘meremehkan’-nya sehingga tidak menonton film ini lebih awal. Dan bila anda juga belum menontonnya, saya rekomendasikan segeralah sebelum filmnya turun.

7.5/10

Rise of the Planet of the Apes: Rekomendasi bagi para cinephiles. (13+)

Ronin

Ronin (1998)
sut: John Frankenheimer
pen: J. D. Zeik (story) | J. D. Zeik | David Mamet (as Richard Weisz)
A.S.

Mau lihat adegan kejar-kejaran mobil tradisional tanpa CGI dan seratus persen stunt-work yang mampu memompa adrenalin penonton yang sedang duduk, dan membuat mereka seram akan betapa berbahayanya peristiwa yang sedang mereka saksikan? Cek lagi judul post ini.

Sialan! Film ini keren abis dengan chase scenes yang setara dengan Mad Max 2: The Road Warrior (1981) dan Ben Hur (1959). Bila anda menyukai film-film tersebut, anda akan menyukai film ini. Adegan-adegan stunt-nya sangat menegangkan, bahkan tanpa perlu menggunakan gimmick kamera handheld dan editing super cepat.

Saat anda menonton film ini, lupakan soal karakterisasi yang minim dan jalan cerita yang “film aksi banget”. Saya rasa motivasi utama film ini adalah membawa konsep “Ronin” ke film aksi modern, dan sebagai kesempatan untuk membuat adegan kebut-kebutan epik di Paris. Sangat direkomendasikan.

8/10

Ronin: Rekomendasi bagi para pecinta film aksi (13+)