ulasansingkat

sekedar ulasan (film) singkat

Category Archives: M

Margin Call

Margin Call (2011)
sut: J.C. Chandor
pen: J.C. Chandor
A.S.

Salah satu nominee skenario asli terbaik Oscar, yang memang merupakan skenario yang luar biasa, yang wajar saja menarik aktor-aktor kawakan meski tidak dibayar mahal untuk ikut terlibat. Rasa hormat saya meningkat dua ratus persen terhadap para aktor kawakan yang bisa saja mendapatkan bayaran lebih mahal di film lain tetapi lebih memilih film ini di atas uang.

Sebenarnya ceritanya sederhana saja. Sebuah firma baru tahu mereka sedang dalam keadaan genting, dan harus mencari kemudian mengeksekusi solusinya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Tetapi cara plotnya terurai, introduksi para karakternya, karakterisasi dari para karakternya, atmosfir drama yang ‘cool’ yang terdapat di sepanjang bagian pertamanya, akting-aktingnya, semuanya sangat keren.

Film ini cukup mirip dengan Michael Clayton (2007) hanya tanpa keintiman terhadap seorang protagonis. Sangat direkomendasikan bagi cinephiles dan pecinta trhiller(?) cerdas.

8.5/10

Margin Call: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

Iklan

Merantau

Merantau (2009)
sut: Gareth Evans
pen: Gareth Evans
Indonesia

Klise, klise, klise. Dari sisi naratif, dari sisi filmmaking, dari sisi aksi. Semua yang terdapat dalam film ini sudah dapat dilihat di banyak film-film yang telah muncul terlebih dahulu (oke, mungkin tidak di sinema Indonesia).

Tapi tidak semua yang klise otomatis buruk. Terkadang kita tidak perlu cerita yang tebal, karakterisasi yang bulat, ataupun sesuatu yang baru. Terkadang kita hanya ingin melihat orang berantem abis-abisan saling pukul sampai bonyok dengan koreografi indah nan liar.

Dan film ini menyadari betul hal tersebut sebagai tujuan utamanya, sehingga tidak repot-repot memberikan kisah yang menggugah maupun pesan yang dalam dengan simbolisasi filosofi macam-macam. Film ini hanya menawarkan dirinya di apa adanya, hanya ingin menghibur, suka tidak suka.

Ceritanya yang sangat sederhana murni hanya sekedar sarana untuk menunjukkan serentetan sekuens aksi silat. Awal-awal durasi yang digunakan sebagai introduksi dan set-up memang cukup menyiksa untuk ditonton, tapi setelah ceritanya naik gigi di sekitar menit 30, film ini sangat menghibur. Adegan aksinya maksud saya. Kalau menilai ceritanya terpisah, dalam skala 1 sampai 10 akan saya beri 4. Tapi di sisi lain karena film ini dengan sukses menghidupkan kembali gairah perfilman genre aksi domestik, mengandung koreografi dan eksekusi silat yang keren, dan terutama karena telah memberikan Indonesia bintang laga baru luar biasa, IKO UWAIS, jadi 10.

7/10

Merantau: rekomendasi bagi penggemar aksi (13+)

Mata Tertutup

Mata Tertutup (2011)
sut: Garin Nugroho
pen: Tri Sasongko
Indonesia

Niat dan ambisi baik di balik film ini tidak akan terlewatkan karena sangat gamblang dan dominan sepanjang film. Meski begitu, saya pribadi merasa film ini sedikit meleset dari apa yang ingin dicapainya. Tidak terlalu jauh, tapi lumayan cukup untuk saya rasa perlu saya tuliskan.

Film ini ingin mengatakan (kurang lebih) hal-hal yang serupa seperti yang dikatakan di salah satu sisi film politik Syriana (2005) maupun Paradise Now (2005). Di film Mata Tertutup ini Garin Nugroho ingin memperlihatkan proses ‘cuci otak’/bujukan/penipuan anak-anak muda dengan memanfaatkan kelabilan usia muda mereka yang secara subtle, tersistemasi, dan terorganisir yang terjadi di luar pengawasan dan kuasa ‘orang tua/dewasa’.

Tapi yang membuat film ini sedikit meleset bagi saya adalah eksekusi yang masih ‘setengah matang’. Saya tahu hal ini bukanlah kesalahan filmmakernya karena film ini dibuat dengan biaya yang sangat murah dan disyut hanya dalam 9 hari sehingga tidak ada waktu untuk mendapatkan ‘matang’-nya. Bukan kesalahan siapa-siapa, tapi hal itu ada dan terasa di beberapa durasi film. Ada satu scene/shot yang cukup dapat mewakili poin ‘meleset’ saya ini. Yaitu di scene karakter Jajang C. Noer saat sedang mencari anaknya berhenti untuk mengambil air wudhu, karakternya yang selama ini keras dan tegar perlahan-lahan ‘kebocoran’ emosinya yang selama ini dibendung, lalu ia terisak sedih. Di sini kita dapat melihat apa yang ingin dituju oleh Garin Nugroho, yang memang merupakan poin naratif yang sudah mulai lumrah di sinema drama, namun tidak ‘dijual’ seperti yang ingin dituju. Jadi, bukan kesalahan fatal, hanya sedikit meleset saja (karena kurang waktu).

Secara keseluruhan, saya sangat salut terhadap film ini. Selain memberikan variasi lain tehadap menu tontonan saat ini, pesan yang ingin disampaikannya sudah terlalu lama tertunda untuk disampaikan pada masyarakat Indonesia dan sekarang akhirnya datang juga. Manfaat positifnya yang secara kongkrit paling tidak agar anak-anak muda lebih waspada terhadap hal-hal seperti ini dan agar para ‘orangtua/dewasa’ dapat melakukan sesuatu; apa itu, saya tidak tahu.

7/10

Mata Tertutup: rekomendasi bagi para cinephiles (BO)

Malaikat Tanpa Sayap

Malaikat Tanpa Sayap (2012)
sut: Rako Prijanto
pen: Anggoro Saronto | Titien Wattimena
Indonesia

Film ini sangat mengingatkan pada sebuah film lain, tapi itu tidak penting.

Sedikit lagi, film ini bisa jadi luar biasa. Apa adanya, film ini bagus banget. Castingnya pada cocok, aktingnya bagus-bagus, di-pace dengan baik, dan ditulis dengan baik pula. Sangat direkomendasikan.

Memang masih ada beberapa flaw, tapi hanya hal yang lumrah dan bisa dilupakan. Namun ada satu hal, yang bagi saya “cop out” banget, yang walaupun saya dapat mengerti karena film ini merupakan “film valentine” dan produsernya pengen penonton yang banyak, tapi menurut saya bila film ini dibawa saja ke arah yang “sudah semestinya itu”, akan membuat film ini memiliki tempat yang sangat spesial dalam sejarah perfilman kita.
Sumpah film ini akan menjadi film yang sangat spesial dan berani, seandainya saja. Apalagi karena “cop out” itu sangat out of the blue dan dengan penjelasan yang super singkat tanpa penekanan dramatis.

Tapi itu hanya opini saya saja. Yang penting saya suka sekali film ini, dan bersyukur sempat nonton selagi masih di bioskop, dan sangat merekomendasikannya. (Sedih rasanya tahu jumlah penonton sebuah film berkualitas kalah dari jumlah penonton Rumah Bekas Kuburan (2012). :|)

8/10

Malaikat Tanpa Sayap: rekomendasi bagi cinephiles dan penonton kasual (BO)

Madame X

Madame X (2010)
sut: Lucky Kuswandi
pen: Lucky Kuswandi
Indonesia

Waw, film tentang bencong yang rada sureal dan kocak ini cukup menghibur. Idenya saja, yaitu tentang superhero bencong salon, sudah menggelikan. Begitu juga cukup banyaknya konteks kata bencong dan banci yang diutarakan dalam film ini, sangat menggelikan. Penampilan para aktor di atas truk waktu adegan penculikan bencong-bencong juga membuat terpingkal-pingkal.

Sayang production value film ini agak kurang. Kelihatan sekali film ini dishot dengan murah dan cepat, meski banyak ‘crane’ (?) shotnya. Dan hal yang menyumbang sangat besar dalam kurangnya production value ini adalah sinematografi yang bisa dibilang kurang dan mudah, terutama shot-shot exteriornya. Tapi hal-hal ini mungkin dapat disalahkan kepada kurangnya budget, bukan orang-orang kreatifnya.

Konsep dan idenya sangat menarik, dan editingnya mengagumkan. Akting-akting yang terdapat di dalamnya juga lumayan ‘serius’ untuk film yang tidak menganggap dirinya serius. Sindiran sosialnya juga cukup terang-terangan, yang meski stance filmmakernya cukup jelas sehingga menimbulkan sedikit rasa tidak nyaman, hal ini tidak terlalu mengganggu kenyamanan nonton secara keseluruhan.

Pada intinya, dengan segala kekurangan teknis dan estetiknya, menurut saya film ini adalah salah satu film berkualitas kita.

7/10

Madame X: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

Murder on the Orient Express

Murder on the Orient Express (1974)
sut: Sidney Lumet
pen: Paul Dehn | Agatha Christie (novel)
Inggris

Film detektif-detektifan. Drama prosedural untuk memecahkan misteri pembunuhan di sebuah kereta, dengan setting tahun 1930an.

Serius, film ini film prosedural untuk mencari seorang pembunuh, oleh detektif Poirot. Jadi film ini dipenuhi eksposisi wawancara dan investigasi. Anda pasti dapat mengetahui sendiri, apakah anda dapat menikmati film yang lambat dan banyak dialog. Bila selera film anda luas dan bervariasi, yaitu anda dapat menikmati berbagai macam jenis film, kemungkinan besar anda dapat menikmati film ini. Tapi bila tidak, sebaiknya tidak usah repot-repot untuk film ini.

Saya hanya bisa mengatakan, bahwa film ini mengandung gaya directorial prosedural khas Sidney Lumet kurang lebih masih mirip dengan 12 Angry Men (1957) dengan rasa claustrophobic-nya, penuh dengan akting-akting yang mengagumkan dari para bintang yang main di dalamnya, serta skenario adaptasi yang memiliki ‘jiwa’-nya sendiri. Rekomendasi bagi para cinephiles dan penikmat misteri serta penggemar novelnya dan Poirot secara umum.

7.5/10

Murder on the Orient Express: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

The Muppets

The Muppets (2011)
sut: James Bobin
pen: ###
A.S.

Saya tidak yakin soal apakah The Muppets pernah populer di sini, tetapi meski anda tidak mengenal mereka, film ini tetap dapat menghibur dan lagu-lagunya enak.

Film ini tidak begitu berbeda dengan beberapa film drama-musikal-komedi keluaran Hollywood lainnya, tetapi dengan film ini (yaitu para karakternya) juga menyadari betul hal tersebut dan bahkan menjadikannya bahan komedi, membuat film ini terasa segar. Dan para karakternya cukup signifikan dan ter-establish, sehingga bahkan penonton yang tidak terlalu mengenal mereka pun dapat ikut merasakan rasa sentimentil yang terdapat di dalam film ini.

7/10

The Muppets: rekomendasi sebagai tontonan keluarga (SU)

Ayneh

The Mirror | Ayneh (1997)
sut: Jafar Panahi
pen: Jafar Panahi
Iran

Film yang sangat brilian. Mengisahkan seorang gadis kecil kelas satu SD yang saat pulang sekolah tidak dijemput oleh ibunya. Ia lalu memutuskan untuk pulang sendiri. Film ini mengikuti perjalanan si gadis kecil mencari rumahnya.

Namun film ini lebih dari itu. Percayalah, film ini sangat brilian. Dengan ceritanya yang sederhana, film ini sangat menggugah dari sisi filmmaking-nya. Sangat direkomendasikan bagi para cinephiles.

7.5/10

Ayneh: rekomendasi bagi para cinephiles (BO)

Moneyball

Moneyball (2011)
sut: Bennett Miller
pen: Steven Zaillian | Aaron Sorkin
A.S.

Film karakter yang luar biasa, dengan drama yang besar, karakterisasi yang kompleks, jalan cerita yang menggugah, dan disertai dengan sinematografi yang dengan indah menangkap hijau rumput lapangan.

Film ini menceritakan kisah seorang manajer (bukan pelatih) dari sebuah klub baseball ‘murah’. Tapi bukan berarti film ini sama seperti kebanyakan film olahraga lainnya. Sekali lagi, film ini merupakan film karakter.

Ditulis oleh dua penulis skenario besar dari Hollywood, disutradarai oleh sutradara film Capote (2006), dan dibintangi oleh salah satu aktor yang sangat selektif dalam memilih materi, hasil filmnya wajar bila sangat memuaskan. Sangat direkomendasikan bagi para cinephiles.

8.5/10

Moneyball: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

Man Bites Dog

Man Bites DogC’est Arrivé près de chez vous (1992)
sut: Rèmy Belvaux | Andrè Bonzel | Benoît Poelvoorde
pen: ####
Belgia

Film ini merupakan mockumentary tentang sekelompok anak muda yang ingin membuat film dokumenter mengenai seorang pembunuh berantai. Hitam-putih, dengan sudut pandang orang kedua, kita akan mengikuti kekerasan-kekerasan yang makin menjadi-jadi sepanjang film yang dieksekusi menjadi black comedy.

Banyak yang mengatakan, The Blair Witch Project (1999) adalah film yang memulai “trend” film-film “found footage” atau “dokumenter-fiksi” atau apalah istilahnya. Tetapi Man Bites Dog telah menggunakan teknik ini di tahun ’92 (secara loose).

Film ini merupakan film yang super “indie”, yang sempat kehabisan dana selama produksi dan harus jalan-berhenti-jalan, lalu akhirnya rangkum setelah satu tahun. Jadi bila anda ingin belajar membuat film indie dengan dana yang sangat tipis, tontonlah film ini dan Following (1998)-nya Nolan.

Film ini tidak direkomendasikan kepada para penikmat sinema mainstream bukan hanya karena violence yang brutal dalam film ini, tetapi “bentuk” (form) dan isi film ini sendiri kemungkinan akan mengalienasi penonton kasual.

Bagi pembaca yang ada di Jakarta yang tertarik untuk menonton film ini, akan ada pemutarannya di Kineforum DKJ TIM hari jumat besok tanggal 13 jam 19.30.

7.5/10

Man Bites Dog: Rekomendasi bagi penikmat film seni, tapi dengan peringatan. (21+)

Catatan: sangat violent