ulasansingkat

sekedar ulasan (film) singkat

Category Archives: J

Jack and Jill

Jack and Jill (2011)
sut: Dennis Dugan
pen: ####
A.S.

Pecahnya rekor jumlah nominasi (update= pemenang) Razzie terbanyak dipecahkan oleh Adam Sandler sebagian besar berkat film ini, jadi saya rasa cukup pantas untuk ditonton ^_^

Dan setelah menontonnya, saya tidak melihat apanya yang amat sangat buruk. Akting Sandler memang buruk, tetapi tidak buruk-buruk amat. Komedinya banyak yang garing, tapi tidak ada yang benar-benar menghina intelejensia kita. Katie Holmes tampil sesuai dengan tuntutan karakternya, dan tidak kurang atau lebih. Dan memang, melihat Al Pacino memerankan karakter yang seperti di film ini SANGAT ANEH rasanya, tapi tidak seburuk itu kok. Secara keseluruhan film ini tidak begitu berbeda dengan film-film Adam Sandler yang lain, film ini biasa saja. Bahkan bila dibandingkan dengan semua film-film komedi konyol yang pernah dibuat, film ini bukanlah yang terburuk sepanjang masa.

Bukan hal yang penting sih, tetapi hanya bikin penasaran saja. Trailernya tidak bohong, film ini memang persis seperti yang dijanjikan. Dan bila anda tertarik setelah melihat trailernya bahwa anda mungkin dapat menikmati film ini, maka film ini bisa menghibur buat anda.

5.5/10

Jack and Jill: buat yang tertarik (BO)

Iklan

Jakarta Maghrib

Jakarta Maghrib (2010)
sut: Salman Aristo
pen: Salman Aristo
Indonesia

Secara teknis, masih terasa seperti student-film. Agak sulit menjelaskannya, tapi akan terasa sendiri saat menontonnya. Namun secara konten, film ini memiliki banyak ide-ide, simbolisasi, dan pesan yang menggugah.

7/10

Jakarta Maghrib: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

The Journals of Knud Rasmussen

The Journals of Knud Rasmussen (2006)
sut: Norman Cohn | Zacharias Kunuk
pen: #######
Kanada | Denmark | Greenland

Berdasarkan jurnal-jurnal yang ditulis oleh Knud Rasmussen, seorang penulis etnografi (cabang antropologi) yang mempelajari budaya Inuit. Di film ini kita diperlihatkan proses seorang shaman hebat Inuit dan putrinya yang cantik nan keras kepala dalam memutuskan untuk mengakhiri ‘ke-shaman-nan’ mereka.

Jujur, film ini sangat slow (tapi bukan dalam tempo atau pace filmnya), dan saya yakin akan membawa kebosanan kepada hampir semua orang. Film ini sepertinya dibuat dengan sangat dekat dengan sumbernya (jurnal-jurnal), sehingga bila anda mengatakan bahwa film ini merupakan film dokumenter, pasti ada yang percaya. Itulah maksud saya film ini sangat slow, karena hampir realistis seperti dokumentasi. Tetapi bila dipikirkan lebih lanjut, di situlah kekuatan terbesarnya! Film fiksi ini bisa dianggap dokumenter. Hal ini mengatakan banyak hal mengenai semua performance para aktornya, dan cara para filmmakernya menyusun gambar.

Bila anda menyempatkan waktu untuk melihat filmografi kedua sutradaranya, anda akan melihat bahwa mereka juga yang membuat film Atanarjuat (2001). Tetapi sekali lagi, mengingat film ini sangat slow, hanya direkomendasikan bagi cinephiles maupun orang-orang yang tertarik untuk tahu lebih banyak mengenai budaya Inuit.

7/10

The Journals of Knud Rasmussen: Rekomendasi bagi para cinephiles (17+)

Johnny English Reborn

Johnny English Reborn (2011)
sut: Oliver Parker
pen: ####
A.S. | Prancis | Inggris

Film ini jauh lebih besar dari yang pertama. Film ini masih memiliki ‘ketololan khas Johnny English’, tetapi tidak dengan kuantitas film pertamanya. Jadi bila hal tersebut yang mungkin membuat anda tidak menyukai film yang pertama, jangan hindari Reborn.

Film ini lebih mengandalkan lelucon sederhana yang sangat efektif hingga mampu menciptakan tawa besar (semoga anda tidak bermasalah dengan slapstick). Film ini juga ditulis dan di-pace dengan baik untuk murni mengantarkan hiburan komedi. Sangat direkomendasikan bagi para pecinta komedi. Nikmati saja.

7.5/10

Johnny English Reborn: Rekomendasi bagi para pecinta komedi (BO)

Jermal

Jermal (2008)
sut: Ravi L. Bharwani | Rayya Makarim | Utawa Tresno
pen: Rayya Makarim | Ravi L. Bharwani | Orlow Seunke
Indonesia

Belum pernah mendengar film ini sebelumnya sebelum beberapa hari yang lalu, se-ignorant itulah saya (yang mengaku cinephile) terhadap dunia perfilman Indonesia. Dan kalau tidak disuruh nonton oleh dosen, mungkin film ini tidak akan tertangkap radar saya sama sekali. Maafkan.

Saya benar-benar terkejut menemukan film Indonesia yang lebih mengutamakan bahasa visual untuk membawakan ceritanya. Skenarionya benar-benar luar biasa dalam menguraikan plot dan membangun karakter-karakternya. Dan keputusan untuk shot on location berhasil menambah keotentikan dan kedalaman terhadap dramanya.

Saya tidak menemukan banyak informasi mengenai para filmmaker-nya, tetapi di IMDb dituliskan co-director sekaligus co-writer Rayya Makarim, bahwa wanita ini lahir di Amerika. Sungguh mengagumkan betapa ia mampu meng-capture “kenormalan” dialog sehari-hari Indonesia. Terutama di scene saat Johar membacakan surat yang ia tulis untuk Jaya.

Memang jelas terlihat di layar, bahwa film ini memiliki perencanaan yang matang yang pasti memakan waktu yang lama sebelum dieksekusi. Sehingga agak sulit melupakan ketiadaan resolusi terhadap character arc dan “status” karakter Gion (si “preman”). Maksud saya apakah ia tetap menjadi bully? Apakah ia tetap menjadi “bos” anak-anak?

Kemudian para karakter anak-anaknya juga tidak ada yang benar-benar memiliki “karakter”, kecuali mungkin karakter Ahab (si “ikan paus”) dan karakter Topan (si kecil yang ngaku 18 tahun). Dan bahkan merekapun masih terasa sebagai plot-device. Saya berharap bahwa sayalah yang membawa mindset naratif yang salah terhadap film ini, dan hal-hal di atas memang dibiarkan terbuka untuk interpretasi. Dan sebenarnya hal-hal tersebut tidak terlalu mengganggu viewing experience-nya, karena kekuatan utama film ini adalah mood dan atmosfirnya.

Secara keseluruhan, film ini diarahkan dengan sangat baik dengan sensibilitas sinema Eropa yang condong terhadap emosi dan interaksi yang realistis, dan menggali sangat dalam ke limpahan emosi internal para karakter di dalam film. Sangat direkomendasikan bagi para cinephiles dan penikmat sinema seni.

8.5/10

Jermal: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)