ulasansingkat

sekedar ulasan (film) singkat

Category Archives: I

Incendies

Incendies (2010)
sut: Denis Villeneuve
pen: Denis Villeneuve | Wajdi Mouawad (cerita)
Kanada

Film yang sungguh luar biasa.

Melalui surat wasiat ibu mereka, dua anak kembar diminta menepati ‘janji’ ibu mereka dengan mencari ayah yang mereka pikir telah tiada dan seorang saudara yang mereka tidak pernah tahu mereka miliki.

Apa yang akan anda saksikan kemudian takkan pernah terlupakan.

Buat cinephiles, film ini wajib tonton. Anda tidak akan menyesal.

9/10

Incendies: rekomendasi dengan pujian yang tinggi (17+)

Iklan

In a Better World

In a Better World | Hævnen (2010)
sut: Susanne Bier
pen: Anders Thomas Jensen | ##
Denmark | Swedia

Film berbahasa asing terbaik Oscar 2010. Pemainnya pada bagus, tidak terkecuali para aktor ciliknya.

Film ini berpusat pada pertemanan ‘kontras’ antar 2 anak dengan sifat yang bertolak belakang, dan hubungan mereka terhadap orang tua mereka masing-masing. Tapi film ini adalah drama dewasa. Disajikan secara dewasa, dan meminta setiap aspek dramanya dicerna secara dewasa.

Sangat direkomendasikan.

8/10

In a Better World: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

—–

Catatan: di scene kamp ‘rumah sakit’ di Afrika (?), luka-luka mengerikan para pasiennya diperlihatkan (luka menganga)

The Ides of March

The Ides of March (2011)
sut: George Clooney
pen: ###
A.S.

Kita semua telah merasa bahwa dunia politik itu adalah dunia yang kotor, dimana tidak ada yang benar-benar suci, manipulasi dan itikad tidak baik beredar di mana-mana, kelicikan, kemunafikan, dan segala kekotoran hati berkumpul. Film ini memainkan aspek tersebut, tidak dengan berapi-api–yang menurut saya adalah hal yang bagus.

Film ini memperlihatkan dunia politik dalam backdrop balapan kampanye dua calon presiden. (Film ini condong hanya pada satu calon, tapi backdrop-nya tetap dua). Film ini memberikan intrik-intrik kisahnya dengan sangat down-to-earth tanpa membesar-besarkan, mempresentasikannya dengan ‘dingin’ dan ‘lurus’. Sangat rasional dan realistis, tapi bukannya tanpa emosi sama sekali.

Sangat direkomendasikan bagi yang suka film-film ‘dingin’, prosedural, ‘lurus’ seperti Zodiac (2007), All The President’s Men (1976), JFK (1991), Recount (2008) (ftv), dan yang semacamnya.

Yang tertarik pada bidang sastra, setelah mendengar frase ‘The Ides of March’ pasti akan kepikiran kisah pembunuhan terhadap Julius Caesar. Anda tidak akan melihatnya dalam film ini, namun menurut saya itulah titik puncak dari film ini. Tontonlah untuk mengambil kesimpulan sendiri.

8/10

The Ides of March: rekomendasi bagi para cinephiles (17+)

The Iron Lady

The Iron Lady (2011)
sut: Phyllida Lloyd
pen: Abi Morgan
Inggris Raya

Menarik, mudah dinikmati, dan keputusan atas bentuk naratifnya membuatnya cukup menghibur dan informatif untuk penonton yang tidak mengenal Margaret Thatcher (termasuk saya) sama sekali.

Film ini mendapatkan mixed reviews karena banyak kritik yang menyayangkan hasil eksekusi film ini yang melewatkan banyak kejadian bersejarah hanya dengan montase atau berlalu begitu saja. Kalau menurut saya, film ini baik-baik saja. Mungkin karena saya tidak tahu sejarah. Dan mungkin karena ketidaktahuan itu pula saya lalu tidak membawa ekspektasi apa-apa, dan tidak menunggu bagaimana para filmmakernya akan mengeksekusi momen sejarah yang akan datang berikutnya di setiap momen sejarah yang baru terjadi di layar, entah hal ini kerugian atau keuntungan.

Dari pengamatan saya, film ini lebih kepada eksplorasi/eksploitasi karakter Margaret Thatcher. Meski begitu saya menganggapnya sangat tidak etis untuk menyuapi penonton pendapat mereka (para filmmakernya) mengenai apa yang ada di dalam kepala Margaret Thatcher seolah-olah karakternya itu merupakan fiksi mereka dan bukan manusia nyata yang tidak mungkin bisa mereka ketahui secara benar apa yang ada dipikirannya dan membawa pendapat mereka itu ke dalam film ini. Tapi pada akhirnya film ini tidak bermaksud mendiskreditkan secara tidak adil dan penampilan Meryl Streep sebagai sang perdana menteri menjadikannya film yang cukup menghibur sekaligus informatif untuk dapat direkomendasikan.

7/10

The Iron Lady: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

Immortals

Immortals (2011)
sut: Tarsem Singh
pen: Charles Parlapanides | Vlas Parlapanides
A.S.

Saya menonton film ini lebih karena penasaran ingin melihat penampilan Henry Cavill, yang akan menjadi pemeran Superman berikutnya. Dan sekarang, saya jadi khawatir. Tidak ada emosi yang saya dapatkan dari penampilannya di film ini. Ia memang bisa berekspresi dengan wajah dan tubuhnya, tapi tak ada emosi yang memancar. Tak ada yang spesial. Dan kemungkinan besar itu lebih kepada kesalahan sutradaranya.

Lalu saya teringat, Brandon Routh, pemeran Superman sebelumnya, mampu mengeluarkan emosi yang meluap-luap di bawah arahan Bryan Singer. Jadi semoga Cavill nantinya akan mampu memberikan penampilan cemerlang, saat berada di bawah arahan sutradara…eh, sebentar, *cek imdb*, wuoh! Makin khawatir! ——

Immortals adalah film sci-fi ‘generic’, yang tokoh utamanya awalnya biasa saja (atau berderajat rendah), yang lalu akhirnya berhasil naik ke puncak setelah melalui beberapa hambatan. Serius, film ini generic banget.

Meski banyak adegan yang ‘besar’, skala filmnya sendiri sangat sempit. Tidak epik sama sekali. Masih epikan karya Tarsem Singh sebelumnya, The Fall (2006). Dan ini menurut saya lebih kepada kekurangan di bagian skenario. Kita tidak diberikan backstory yang cukup untuk dapat beridentifikasi kepada dan terutama karakter utamanya. Karakter-karakter yang lain hanya ada untuk ‘ada’, tanpa arc maupun motivasi yang jelas. Hal ini mempengaruhi kisah (yang generic) dan penceritaannya, membuatnya membosankan.

Bila anda ingin menontonnya, jangan harapkan film yang selevel dengan film-film The Lord of the Rings.

6.5/10

Immortals: bila anda tertarik (13+)