ulasansingkat

sekedar ulasan (film) singkat

Category Archives: H

Hi5teria

Hi5teria (2012)
sut: #####
pen: ######
Indonesia

Omnibus 5 film horor, dan tidak ada yang benar-benar luar biasa. Kecuali mungkin film ‘Loket’ yang disutradarai dengan sangat baik.

Memang sih terdapat beberapa momen-momen yang menarik. Dan saya bisa mengerti bila ada yang bisa menyukai film ini. Namun bila anda mencari film yang nakutin, bukan sekedar ngagetin, saya rasa film ini akan mengecewakan.

6/10

Hi5teria: … (13+)

Iklan

The Hunger Games

The Hunger Games (2012)
sut: Gary Ross
pen: Gary Ross | Suzanne Collins | Billy Ray
A.S.

Baca pos ini lebih lanjut

The Help

The Help (2011)
sut: Tate Taylor
pen: Tate Taylor
A.S.

Film ini bagus sekali. Kalau film ini yang menang film terbaik di Oscar kemarin dan bukan The Artist (2011), tidak masalah buat saya. Kekuatan terbesar dari film ini ada di skenario dan performances-nya. Saya heran mengapa film ini tidak dapat nominasi skenario adaptasi terbaik. Tapi saya cuma orang aneh di internet dan yang memilih nominasi adalah penulis-penulis yang punya kredibilitas, jadi lupakan saja yang barusan.

Film ini dapat tiga nominasi akting dan satu menang (yang memang sangat pantas), tetapi juga dari keseluruhan departemen aktingnya tidak satupun yang lemah. Film ini dapat menarik kita ke dalam dunianya dan menghanyutkan kita ke dalam kehidupan masing-masing karakternya. Dan bersamaan dengan subject-matter-nya yang berat, film ini juga masih sempat memberikan momen-momen lucu yang dapat membuat tertawa.

Salah bila saya menyudahi ulasan ini tanpa memberi penghargaan terhadap sutradaranya, karena dialah yang mengumpulkan para aktris-aktris ini, kemudian mengeluarkan penampilan yang luar biasa dari mereka semua. Ngomong-ngomong, saat nama Tate Taylor muncul sebagai penulis dan sutradara, tadinya saya pikir cewek karena namanya, dan setelah cari tahu sebentar, ternyata cowok—gagah lagi. Mungkinkah dia akan menjadi Clooney atau Eastwood yang baru: punya tampang dan otak?

Sangat direkomendasikan bagi para cinephiles dan penikmat drama/sejarah(?).

8.5/10

The Help: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

Hugo

Hugo (2011)
sut: Martin Scorsese
pen: John Logan
A.S.

Film fantasi dongeng anak-anak ini oleh Martin Scorsese, lho! Yang pertama buat dia. Selain itu film ini juga sebenarnya adalah syair pujian/ode untuk masa awal-awal sejarah sinema dimulai, secara spesifik untuk George Méliès. Dan di film ini juga Scorsese dapat mengekspresikan rasa cintanya yang sangat besar pada sinema di luar medium film-film dokumenter. Tetapi saya sulit untuk menikmatinya.

Saya sangat ingin dan telah berusaha untuk bisa menyukai film ini. Film ini dibuat oleh orang yang tidak diragukan lagi kecintaan dan pengetahuannya yang sangat luas terhadap dunia sinema. Film ini secara internasional diklaim sebagai film yang luar biasa. Tapi saya tidak ingin membohongi diri sendiri dan lalu ikut arus: saya tidak suka ceritanya.

Paling tidak kisah karakter protagonisnya, Hugo. Di sepertiga akhir durasinya film ini baru mulai menarik ketika cerita beralih menjadi mengenai George Méliès. Tapi di dua-per-tiga awal durasinya film ini tidak ‘ke mana-mana’.

Tapi saya tetap salut terhadap film ini karena memperkenalkan penonton awam kepada sejarah awal sinema, terutama terhadap George Méliès. Semua klip-klip film yang dimasukkan adalah dari film-film pionir yang sangat penting dalam sejarah sinema. Dan disajikan dalam film dengan teknologi tinggi dan 3d lagi! Oiya, film ini juga 3d pertama buat Scorsese. Film ini dikomposisi dan di-staging dengan konsep 3d dari sananya, bukan post-convert. Saya memang cuma menonton yang 2d-nya, tapi dari shot-shotnya saya lumayan bisa membayangkan 3d-nya pasti luar biasa. James Cameron saja bilang film ini penerapan 3d terbaik yang pernah ia lihat: youtu.be/DFJZ1HKybZA

Jadi kesimpulannya, secara teknis dan ambisi, film ini luar biasa. Tapi secara naratif, saya pribadi kurang suka. Tapi direkomendasikan bagi para cinephiles dan penikmat cerita fantasi.

6.5/10

Hugo: rekomendasi bagi para cinephiles (BO)

——————–

Disclaimer: mungkin anda heran, kenapa saya memberi film ini rating yang lebih rendah dari misalnya film This Means War. Itu karena saya menilai setiap film atas dasar merit-nya sendiri. This Means War tidak berusaha menjadi lebih daripada kapasitas genre-nya saja. Kita bisa melihat seberapa jauh pencapaian yang ingin diraih oleh sebuah film setelah menontonnya dan bila berhasil atau bahkan melebihi, kita akan menemukan sebuah film greats yang dapat menawan dan artistik sekaligus.

Haywire

Haywire (2011)
sut: Steven Soderbergh
pen: Lem Dobbs
A.S.

Saya suka sekali terhadap gaya visual Steven Soderbergh, dan di film ini pertama kalinya kita dapat melihatnya ‘menangani’ adegan aksi. Dan jumlahnya tidak hanya dua-tiga, tapi banyak, dan semuanya sangat mengagumkan, sangat realistis, keren abis, top notch. Soderbergh jagonya membuat film dengan murah namun berkualitas tinggi.

Tapi seperti biasa, gaya visualnya terkadang (jarang) jadi asyik sendiri sehingga meninggalkan penonton. Kita jadi sempat bingung terhadap adegan yang jadi eksesif tanpa pay-offs yang memuaskan. Tapi ini hanya sedikit sekali, karena film ini asli keren. Dan Steven Soderbergh telah berhasil ‘menemukan’ bintang aksi wanita baru yang dapat selevel atau bahkan melebihi Angelina Jolie. Sangat direkomendasikan.

8.5/10

Haywire: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

Hafalan Shalat Delisa

Hafalan Shalat Delisa (2011)
sut: Sony Gaokasak
pen: Armantono | Tere Liye (novel)
Indonesia

Film ini memperlihatkan kehidupan seorang gadis kecil sebelum dan setelah bencana Tsunami di Aceh Desember 2004 silam. Film ini berhasil menggenggam beat-beat momen tertentu sepanjang durasinya, tapi meleset di sisanya. Film ini punya banyak masalah, tapi saya rasa bisa cukup menghibur untuk demografi penonton tertentu, yang menikmati film-film semacamnya. Setelah menonton trailernya dan anda merasa tertarik menontonnya, mungkin film ini memang untuk anda. Saya sendiri, sedikit terhibur, tapi merasa sangat bosan, ingin filmnya cepat-cepat selesai saja.

6/10

Hafalan Shalat Delisa: rekomendasi bagi para penikmat film semacamnya (BO)

Hukkle

Hukkle (2002)
sut: György Pálfi
pen: György Pálfi
Hongaria

Film dari Hongaria yang satu ini tidak perlu anda tonton dengan subtitle, karena film ini 100% bahasa visual! Luar biasa. Gambarnya luar biasa. Suara-nya luar biasa. Masterpiece.

Tanpa perlu bergantung pada dialog sepatah kata pun, György Pálfi mampu mengantarkan sebuah kisah yang kompleks. Saya tidak akan mengaku berhasil mengerti film ini secara utuh karena mungkin terdapat beberapa hal spesifik yang bersifat kultural, tetapi dari sedikit yang saya tangkap saja, film ini sudah sangat mengagumkan and it blew my mind!

Mungkin anda telah menyadari bahwa ulasan-ulasan saya kebanyakan sangat subyektif dan ratingnya berdasarkan perasaan saya tepat setelah menonton film yang bersangkutan, jadi tidak tertutup kemungkinan perasaan saya terhadap sebuah film dapat berubah seiring waktu.

Namun untuk film yang satu ini, saya telah jatuh cinta pada pandangan pertama dan yakin perasaan itu takkan hilang. Malah, sekarang saya akan menontonnya sekali lagi.

10/10

Hukkle: Rekomendasi dengan pujian yang tinggi (13+)

Catatan: jangan khawatir soal adegan yang menyangkut seekor kucing, hal tesebut hanya trik.

Heima

Sut : Dean Deblois
Iceland
2007

Bagi penggemar band Sigur Ros, film Heima merupakan film wajib untuk ditonton. Film Heima atau bila diterjemahkan ke bahasa memiliki arti Rumah ini, menceritakan band sigur ros yang mengadakan konser gratis di tanah kelahirannya, Islandia setelah melakukan serangkaian tour mancanegara pada tahun 2006.

Film ini pun terlihat semakin apik dengan konsep sinematografi yang benar-benar total. Menontonnya seolah memberikan kenyamanan tersendiri bagi penikmat band Sigur Ros.

Sesi wawancaranya tidak banyak memakan durasi sehingga penonton dijamin tidak akan merasa bosan karena selebihnya yang ditampilkan pada film dokumenter ini merupakan aksi reaksi Sigur Ros terhadap keramaian, serta performing mereka di tempat-tempat yang tidak biasa untuk menggelar konser musik. Dan beberapa klip yang menampilkan keadaan alam di Islandia yang membuat saya pribadi bermimpi untuk menghabiskan masa tua di sana.

Jadi bagi penggemar band Sigur Ros wajib hukumnya untuk menonton film dokumenter satu ini. Bagi yang tidak mengetahui band ini, film dokumenter ini dapat menjadi referensi film dokumenter yang tidak konvensional.

Trully Amazing

(8/10)