ulasansingkat

sekedar ulasan (film) singkat

Category Archives: A

Aguirre: The Wrath of God

Aguirre: The Wrath of God | Aguirre, der Zorn Gottes (1972)
sut: Werner Herzog
pen: Werner Herzog
Jerman

Menceritakan sebuah ekspedisi tentara Spanyol dalam mencari El Dorado di tengah Amazon, tahun 1500an. Drama di dalam film ini memiliki unsur-unsur konvensional namun sama sekali tidak terasa begitu. Entah mungkin karena cara penyampaiannya atau cara syutingnya, unsur-unsur dramanya sangat tipis tetapi ada ‘sesuatu’ di baliknya.

Film ini agak ‘aneh’. Para karakternya tidak berdimensi, dan kita tidak peduli pada mereka bahkan saat ada yang mati sekalipun. Juga film ini sama sekali tidak berusaha untuk membuat kita untuk bertanya-tanya apakah mereka akan berhasil atau tidak. Tetapi anehnya kita tetap dapat terpikat terhadap ‘sesuatu (entah apa)’ untuk terus menonton hingga akhir. Mungkin karena karisma Klaus Kinski sebagai Aguirre, atau mungkin karena tone filmnya yang bagai mimpi. Film ini sangat hebat dalam memberikan fenomena kegilaan di tengah hutan, dan bagian mana dari film ini yang menginspirasi Apocalypse Now baru jelas setelah menontonnya.

Film ini menyampaikan ceritanya dengan straightforward, bahkan seperti tidak niat untuk menggarisbawahi setiap drama yang terdapat di dalamnya. Seperti cerita yang diceritakan oleh seseorang yang telah menceritakan cerita yang sedang ia ceritakan ratusan kali sebelumnya hingga ia sudah tidak menggebu-gebu dan lost interest untuk pendengarnya merasakan hal yang sama yang ia rasakan saat ia masih interested. Tapi caranya bercerita tetap menarik!

Kadang serasa menonton sebuah film dokumenter. Kadang malah sureal. Aneh, dalam arti positif.

8.5/10

Aguirre: The Wrath of God: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

The Art of Stanley Kubrick: From Short Films to Strangelove

The Art of Stanley Kubrick: From Short Films to Strangelove (2006)
sut: David Naylor
pen: Robert Fleck
A.S.

Persis seperti judulnya, film dokumenter berdurasi 14 menit ini membahas karir Stanley Kubrick dari awal mulai hingga pertengahan karirnya, Dr. Strangelove (1964), dengan narasi dan talking heads dan arsip gambar.

Film ini cukup luar biasa dalam memberikan banyak informasi hanya dalam waktu singkat. Diedit dengan sangat baik.

Vodpod videos no longer available.

http://video.google.com/videoplay?docid=-8760987016088557545&hl=en

8/10

The Art of Stanley Kubrick: From Short Films to Strangelove: rekomendasi bagi para cinephiles (BO)

The Artist

The Artist (2011)
sut: Michel Hazanavicius
pen: Michel Hazanavicius
Perancis

Saya sengaja menghindarkan diri dari segala hal film ini, termasuk tidak membaca ulasan-ulasannya, mengecek ratingnya di imdb, metacritic, dan rotten tomatoes, bahkan tidak menonton trailernya sama sekali. Karena khusus film-film yang saya rasa punya potensi untuk menjadi film yang greats (atas dasar buzz/rekomendasi), saya ingin tonton dalam keadaan ‘perawan’ (‘perjaka’ dalam kasus saya). Saya ingin merasakan pengalaman sinema yang murni, yang dari ‘tidak tahu’ menjadi ‘tahu’ saat sedang menonton, karena sebagai cinephile, tidak peduli akan berapa kali saya menonton sebuah film, kesan tontonan pertamanya tidak akan pernah hilang. Saya pernah dengan bodohnya men-spoil diri sendiri terhadap film The Usual Suspects (1995) sebelum menontonnya, yang meski tetap bisa saya nikmati dan apresiasi, saya tahu tidak akan berkesan sama seperti bila saya tidak tahu endingnya. Saya pastikan hal seperti ini tidak akan terjadi lagi.

Bukankah saat pertama kali menonton Sunrise: A Song of Two Humans, City Lights, The Godfather, Pulp Fiction, Fargo, City of God, A Separation, Taste of Cherry, Schindler’s List, Das Boot, Gandhi, Spirited Away, 2001, Singin’ in the Rain, Picnic At Hanging Rock, Taxi Driver, The Lives of Others, Memories of Murder, The White Ribbon, Scent of a Woman, The Readers, dan film-film greats yang lainnya, adalah pengalaman sinema yang luar biasa? (Argh, saya rela amnesia biar bisa menonton film-film tersebut untuk pertama kali lagi). Tentu anda tidak ingin pertama kali menonton film-film tersebut sudah spoiled bukan? Oke, berikut ulasan yang (semoga) bebas spoiler:

Tidak seperti ekspektasi saya, tapi tetap merupakan sebuah film yang solid. The Artist adalah film bisu dengan beberapa ‘sentuhan’ modern. Sebagai favorit utama calon pemenang film terbaik di oscar nanti, saya rasa film ini memang berpeluang besar melawan film-film solid lainnya karena ‘timing’ keunikannya sangat tepat dalam membawa ‘angin segar’ kembali ke dunia sinema, terutama karena ‘kepopuleran’ The Tree of Life (2011) sudah mulai menurun. Dan mungkin film ini dapat menghidupkan kembali seni film bisu sebagaimana Moulin Rouge (2001) terhadap film musikal.

Saya punya beberapa issue dengan film ini, tapi bukan sebagai sebuah film bisu maupun struktur naratifnya, tapi lebih kepada motivasi di balik beberapa aksi kedua karakter utamanya yang seperti tidak dipikirkan lebih dalam; kalaupun dipikirkan dengan dalam, tidak benar-benar sampai ke penonton. Di luar itu, sebuah film bisu modern yang bagus. ‘Dunianya’ sangat hidup.

Tidak direkomendasikan ke semua orang, karena merupakan sebuah film bisu tanpa dialog, hitam putih, ‘kotak’ lagi. Dan calon penonton yang niat nonton film ini pasti akan/sudah menontonnya tanpa perlu rekomendasi dari saya. Jadi saya merekomendasikan film ini buat yang penasaran, cobalah. Memang film ini bukan film bisu terbaik sepanjang masa, tapi mungkin dapat membuat anak-anak muda untuk tertarik dan mulai menonton karya-karya masterpiece di awal-awal sejarah sinema, oleh para pionir sinema.

8.5/10

The Artist: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

Abduction

Abduction (2011)
sut: John Singleton
pen: Shawn Christensen
A.S.

Film aksi thriller yang cukup menarik dan menghibur. Taylor Lautner ternyata cukup pantas untuk menjadi seorang bintang laga, meski wajahnya cukup “manis”. Tapi kemudian, siapa sangka Matt Damon saat main di Good Will Hunting (1997) atau The Talented Mr. Ripley (1999) bakal menjadi aktor paling cocok memerankan Jason Bourne?

Direkomendasikan bagi para penikmat aksi.

7/10

Abduction: rekomendasi bagi penikmat sinema aksi (13+)

A History of Violence

A History of Violence (2005)
sut: David Cronenberg
pen: Josh Olson
A.S.

Film ini bagus seperti yang dikatakan orang-orang, sebagian besar karena cerita adaptasinya, lalu Viggo Mortensen. Tapi astaga, betapa film ini ingin sekali jadi artistik, namun hanya dengan usaha setengah-setengah. Dari shot pertama yang sangat indah dan keren kita langsung dibawa ke seharian keluarga Stall, yang dieksekusi dengan malas dengan chemistry yang buruk antar para aktornya sehingga WTF gitu…

Jadi beginilah pandangan saya terhadap film ini: ada scene yang digarap dengan serius sehingga bagus, dan ada scene yang digarap dengan setengah hati/malas sehingga kedodoran. Penilaian secara keseluruhan, film ini bagus. Direkomendasikan untuk dicek bila anda tertarik.

7/10

A History of Violence: rekomendasi bagi para cinephiles (17+)

Jodái-e Náder az Simin

10/10

All the President’s Men

All the President’s Men (1976)
sut: Alan J. Pakula
pen: William Goldman
A.S.

All the President’s Men menceritakan investigasi dan pengungkapan skandal ‘Watergate’ oleh 2 jurnalis muda, Carl Bernstein dan Bob Woodward.

All the President’s Men akan menarik bagi anda yang tertarik mengenai skandal ‘Watergate’ maupun sekedar tertarik dengan film-film bertopik politik dan investigatif prosedural dalam eksekusinya. Di film ini anda akan menemukan teknik filmmaking yang rendah diri dengan membiarkan cerita maju ke depan, tetapi jika anda dapat melihat ke baliknya, anda akan terpukau oleh kecerdasan di belakang layar.

Sangat direkomendasikan kepada para penikmat sinema secara umum, terutama yang lebih memilih film-film yang ‘realistis’ atau yang diangkat dari kisah nyata.

9/10

All the President’s Men: Rekomendasi dengan pujian yang tinggi. (13+)

Arisan 2

Arisan 2 (2011)
sut: Nia Dinata
pen: Nia Dinata
Indonesia

Hampir semua review yang saya baca untuk film ini, positif. Ini salah satunya, silahkan baca.

Saya tidak akan (baca: bisa) membantah atau mendebat tulisan-tulisan tersebut. Saya hanya merasa perlu mengatakan, bahwa film ini tidak sebegitu amat, bagi saya pribadi.

Secara naratif film ini ‘lari’ kemana-mana, terasa tanpa fokus. Banyaknya eksposisi dan adegan-adegan yang tidak jelas dan seperti tidak memiliki fungsi bagi keseluruhan film, dan terutama karena penuh dengan karakter-karakter ‘datar’ yang tidak berdimensi, membuat sulit sekali untuk beridentifikasi terhadap siapa pun.

Namun saya juga tidak menutup kemungkinan bahwa sebenarnya sayalah yang tidak mampu ‘melihat’ lebih dalam. Mungkin bukan selera saya saja.

Dan oiya, rating-rating di blog ini bukan seperti nilai di sekolah. Rating 5 itu artinya film yang average (menurut penulisnya).

5.5/10

Arisan 2: … (13+)

Arlington Road

Arlington Road (1999)
sut: Mark Pellington
pen: Ehren Kruger
A.S.

Film thriller ini lumayan menarik. Tema utamanya adalah terorisme terselubung. Film ini mulai dengan tempo yang lambat, tapi kemudian jalan ceritanya akan mengikat anda untuk terus mengikutinya hingga konklusi cerita yang tak terduga-duga.

Film ini menceritakan seorang profesor universitas yang mencurigai tetangganya sebagai seorang teroris, setelah menemukan kejanggalan pada masa lalu si tetangga.

Kekuatan terbesar dari film ini adalah skenarionya. Babak pertama-nya lumayan lambat tapi sudah cukup efisien untuk memperkenalkan para karakter dan setting ceritanya. Babak kedua-nya cukup solid untuk menggenggam perhatian anda dan membuat anda terus bertanya-tanya bagaimana mereka akan mengakhiri kisah ini. Kemudian babak ketiga-nya bertempo tinggi namun butuh suspension of disbelieve yang banyak (jangan dipikirkan terlalu dalam, nikmati saja).

Dengan beberapa kekurangan yang saya yakin bisa terlupakan oleh para penonton kasual, film ini film yang cukup menghibur dan cerdas, dan direkomendasikan bagi para penikmat thriller dan misteri.

7/10

Arlington Road: Rekomendasi bagi para cinephiles (BO)

The Adventures of Tintin

The Adventures of Tintin: The Secret of the Unicorn (2011)
sut: Steven Spielberg
pen: ####
A.S.

Film terbaru Steven Spielberg. Memiliki tanda tangan directorial-nya yang biasa meski merupakan taman bermain baru baginya. Janusz Kaminski tetap masih terlibat. Ia juga masih membawa Michael Kahn yang mau tidak mau harus mengedit secara digital (^^) dan John Williams yang masih saja produktif. Tim tua ini masih terus kreatif. Benar-benar luar biasa.

Di film ini Spielberg benar-benar memanfaatkan kamera virtual menghasilkan camerawork luar biasa melebihi film-filmnya yang terdahulu. Teknologi luar biasa yang diterapkan ke film ini sangat mengagumkan dan melipatgandakan kenikmatan menonton.

Namun ceritanya sendiri, rasanya “biasa” sekali. Tidak ada yang luar biasa. Penonton hanya mengikuti petualangan Tintin berjalan dari satu “poin cerita” ke “poin cerita” berikut. Tetapi mungkin petualangan Tintin memang begitu? Saya sendiri kurang akrab dengan dunia Tintin.

Pun, menilai film ini sebagai sebuah film misteri petulangan semata; film ini memiliki “rasa” Indiana Jones, dan dapat dinikmati bahkan oleh orang-orang yang tidak familiar dengan dunia Tintin.

7.5/10

The Adventures of Tintin: Rekomendasi bagi para cinephiles (BO)