ulasansingkat

sekedar ulasan (film) singkat

Setannya Kok Masih Ada

Sut: Muchyar Syamas
Indonesia

Mengeksploitasi tubuh perempuan seperti menjadi sebuah klise memang dalam sebuah film bergenre horor, komedi, atau mixed horor komedi khususnya dalam film Indonesia. Begitu pula yang terlihat dalam film yang diproduksi oleh keluarga Punjabi alias MVP Pictures ini.

Setelah saya menonton film ini, plotnya seperti sedikit mengingatkan saya kepada film kartun yang menceritakan tentang sekelompok remaja pemburu hantu yang dibantu oleh seekor anjing yang akan rela melakukan apa saja demi sebuah kue kering (baca: Scooby Doo). Meskipun memang tidak presisi dan tidak ada karakter anjing yang dapat berbicara pula di sini, hanya saja ada kemiripan dalam permainan unsur antisipasi dan surprisenya dalam sebuah struktur dramatik . Terutama dengan kemunculan dan sebab munculnya karakter “yang berwajib” di akhir.

Namun untuk sebuah komedi, pendekatan film ini tidak melulu slapstick, melainkan juga membangun sebuah situasi komikal dan juga membuat kelucuan melalui permainan dialog-dialog sederhana yang khususnya cocok untuk dinikmati penonton dengan SES C-D-E.

Plotnya cukup jelas dan tidak terlalu memaksakan visual yang dicapai sehingga terasa mengalir, meskipun dari segi orisinalitas karya sudah ada yang serupa seperti yang saya utarakan di atas.

6/10

Iklan

…Dalam Botol

Sut: Khir Rahman
Pen: Raja Azmi
Malaysia

Membuat film yang bertemakan queer di sebuah negara yang mayoritas Islam pastinya sulit dan cenderung menuai kontroversi. Bila dilihat dari sisi tersebut, patut diacungkan jempol untuk keberanian pembuat film ini. Di situlah nilai plusnya.

Film yang semula berjudul ‘Anu Dalam Botol’ mengangkat issue yang sesungguhnya dapat dieksplorasi lebih mendalam, ketimbang membuatnya menjadi seperti drama keluarga dan percintaan belaka.

Namun, film berbahasa Malaysia ini cukup tidak pretensius dalam pengadeganannya dan juga ada beberapa shot yang terindikasi menentang konsep patriarki yang sampai sekarang masih sangat dominan di mana pun, walau pejuang feminisme dan aktivis LGBT terus memperjuangkan kesetaraan gender tersebut.

Secara struktur dramatik, mungkin karena kecenderungan konfliknya lebih kepada konflik batin sehingga terkesan agak lambat. Oleh karena itu menurut saya ada baiknya menonton film ini harus dengan keadaan ruangan yang nyaman atau lebih baik lagi bila ada pemutaran di ruang semacam bioskop agar bisa berkonsentrasi dan tidak mengantuk. Jangan lupa, pastikan ada subtitle bila anda tidak mengerti bahasa Malaysia.

7/10