ulasansingkat

sekedar ulasan (film) singkat

The Hunger Games

The Hunger Games (2012)
sut: Gary Ross
pen: Gary Ross | Suzanne Collins | Billy Ray
A.S.

Saya ingin merengek sebentar soal penerapan teknik handheld gaya dokumenter. Buat yang tidak peduli, langkahi saja tiga paragraf di bawah ini.

Saya tidak tahu istilah tepatnya, tapi teknik kamera handheld gaya dokumenter sepertinya sudah mulai lumrah di film-film keluaran studio besar. Lionsgate bukan studio besar, tapi bukan lagi independen. Pendekatan semacam ini sangat cocok untuk film-film independen yang skala ceritanya kecil dan sederhana, bisa dibilang new new wave. Namun saat diterapkan ke film ‘besar’ malah akan mengesankan ‘murah’ dan ‘malas’. Agak masuk akal memang, bahwa pendekatan ini dipilih untuk menekankan atmosfir post-apocalyptic dan mood yang bleak. Tetapi karena pendekatan ini, hal yang dicapai jadi berbanding terbalik dengan pemanfaatan efektifitas production value yang tinggi dari tata artistiknya yang malah jadi sangat minimal. Dan tentunya untuk mencapai atmosfir post-apocalyptic dan mood yang bleak tidak harus hanya dengan pendekatan ini saja. Battle Royale (2000) bisa. Sejujurnya, pendekatan ini sebenarnya tidak begitu mengganggu, tetapi keberadaannya di film ‘besar’ ini mulai menggelitik rasa muak saya untuk ‘asal pakai’ dari pendekatan/teknik ini.

Tidak semua film aksi harus dibeginikan. Teknik ini memang sangat efektif untuk menaikkan tensi, tapi bisa sangat menurunkan drama. Teknik ini cocok di film-film Bourne karena karakter Bourne memang ‘bergerak’ sangat cepat dan unpredictable. Tenik ini cocok di film The Hurt Locker (2008) karena hampir semua drama di film itu timbul dari ‘tensi’ (meski penggunaannya rada lebay). Teknik ini cocok di film genre drama misalnya A Separation (2011) karena film itu punya banyak ‘waktu’ untuk memaksimalkan setiap beat naratifnya untuk mencapai drama yang tinggi.

Sedangkan di film The Hunger Games ini, karena merupakan adaptasi dari materi yang sudah ada sebelumnya, film ini jadi punya batasan ‘waktu’ untuk mencapai setiap plot point-nya sehingga ‘waktu’ yang diperlukan untuk pendekatan ini dalam mencapai drama yang tinggi jadi kurang. Kecuali filmmakernya memutuskan untuk membuat adaptasi yang sangat loose seperti The Shining (1980) atau film-film Bourne dengan tidak terikat keharusan mencapai setiap plot-point dalam waktu yang ‘sudah tertentukan’, yang dalam kasus ini tidak. Menurut saya sebuah keputusan yang salah dari Gary Ross, karena jelas terlihat ia lebih condong membidik ke unsur drama dari kisah ini dan bukan adegan aksinya. Konsekuensinya adalah tidak maksimalnya production value dan dramanya jadi bisa dibilang downplayed, kalau tidak hilang.

Ceritanya sendiri bagus, dan merupakan pondasi yang baik untuk memulai trilogi epik. Tapi dilihat dari sudut manapun, film pertamanya ini tidak bisa dipungkiri sangat mengingatkan terhadap film Battle Royale, film favorit nomor satunya Quentin Tarantino. Hanya saja, bila daya pikat dari film Battle Royale (saya belum membaca komik/novelnya) adalah progres dari ‘permainannya’ yang berdarah-darah dan karakter-karakter yang unik-unik, daya pikat dari The Hunger Games adalah karakter Katniss Everdeen, motivasinya untuk bertahan hidup, dan cinta segitiga remaja yang terbentuk karena dirinya.

Saya suka sekali castingnya. Saya belum membaca bukunya, dan kalau iya saya mungkin akan berpendapat lain, tapi saya suka sekali castingnya. Jennifer Lawrence sangat luar biasa. Ia mampu memproyeksikan karakternya dengan tangguh sekaligus feminin dengan cara yang sangat nyata. Dirinyalah yang memikul film ini naik gunung kesuksesan. Pace filmnya baik, meski set-up-nya lumayan terasa terulur-ulur. Durasinya yang 2½ jam tidak terlalu terasa. Pokoknya secara keseluruhan film yang bagus. Direkomendasikan buat penikmat aksi-drama-romantis.

7.5/10

The Hunger Games: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: