ulasansingkat

sekedar ulasan (film) singkat

Dilema

Dilema (2012)
sut: ####
pen: #####
Indonesia

Update: Di tontonan kedua saya, rasa tersiksa yang timbul dari pacing penguraian plot dan transisi antar cerita tidak terasa lagi, meski tetap flawed IMO. Saya tidak akan menarik poin-poin lain yang sudah saya tuliskan sebelumnya di bawah ini, tapi sekarang saya hanya ingin menambahkan, bahwa kesan buruknya secara keseluruhan ternyata tidak separah yang saya ingat dan pengalaman nonton kali kedua ini jauh lebih baik dari yang pertama.

Secara keseluruhan, film ini… enggak bagus, menurut saya.
Pacing
-nya tidak enak. Kita pindah-pindah dari satu cerita tanpa clifhanger karakterisasi maupun dramatisasi plot yang menarik ke cerita lain yang sama dull-nya, membuat kita tidak peduli terhadap sesuatu hal pun. Tidak, malah lebih parah dari sekedar bikin tidak peduli, pacing-nya sangat menyiksa untuk ‘ditunggui’, terutama di 60 menit pertama.

Struktur naratif yang dalam bidang skenario disebut ‘naik-turun/high and low points’ sangat jarang terdapat dalam film ini. Terutama di 60 menit pertama, struktur ini hampir ‘datar’ melulu. (Coba bayangkan bentuk soundwave audio, atau alat pengukur gempa, atau alat tes kebohongan, atau mesin pengukur detak jantung, beeeeepp!!!).

Dalam hal akting, yang paling berkesan positif buat saya pribadi adalah akting dari Roy Marten. Dengan penampilannya sebagai manula yang sedang sakit, tetap ada sense seorang-pria-powerful-yang-memiliki-kekuasaan-yang-sangat-besar-dan-tidak-takut-pada-apapun yang merembes keluar; seorang pria berprinsip yang sanggup melakukan apa saja yang menurutnya harus dilakukan. Terutama di saat ia marah, wah ekspresi yang terdapat di wajahnya seperti binatang buas.

Dan akting yang paling berkesan negatif buat saya pribadi adalah akting dari Jajang C. Noer. Saya sadar beliau adalah aktor kawakan Indonesia, seorang A-listers, dengan pengalaman dan prestasi segudang. Tetapi di film ini, dirinya menonjol sendiri sebagai salah casting, menurut saya. Delivery dialognya tidak natural, seakan-akan belum hafal betul, dan setiap kata diutarakan sembari mengingat-ingat kata berikutnya yang masih dalam satu kalimat. Make-up dan kostumnya juga kurang mendukung. Ia sama sekali tidak tampak sebagai seorang wanita mandiri dan tegar, yang berhasil mendapatkan kepercayaan seorang bos mafia besar untuk menjadi tangan kanannya. Mungkin bila rambutnya disanggul ketat untuk memberikan kesan karakternya kaku dan keras, dengan kostum yang mencitrakan mandiri dan wibawa seperti misalnya kostum karakter Meryl Streep di film The Devil Wears Prada (2006), dapat lebih menambah dimensi pada karakternya. Dan dari foto ini, Jajang C. Noer seharusnya bisa kok dibuat tampil lebih ‘misterius’, ‘mengancam’, dan sebagainya.

Film ini memiliki banyak karakter yang beragam dan tidak ada yang mirip satu sama lain. Dan garis penghubung antar karakter-karakter itu bisa dibilang (loosely) berpusat pada karakternya Roy Marten. Karakter ini memang diperankan dengan baik, namun sayang ditulis dengan buruk. Karakter ini terkesan one-dimensional. Dia adalah seorang bos mafia besar yang ‘punya sebuah tujuan’ (saya tulis cryptic karena bisa jadi spoiler). Itu saja. Tidak lebih. Oke, memang karakter ini diberi depth di akhir-akhir cerita, saat ia menelepon dan mendapat kabar buruk sehingga dari reaksinya kita bisa melihat sisi dirinya yang lain. Tapi sudah sangat telat dan tidak cukup untuk bisa melepaskan karakter ini dari label one dimensional yang nempel padanya di sebagian besar screentime-nya. Bila dibandingkan dengan karakter Don Corleone (yang mungkin sudah anda duga username saya merupakan homage padanya) dari film The Godfather (1972), bagaikan langit dan bumi. Don Corleone adalah karakter yang sangat kompleks. Don Corleone adalah karakter ‘bulat’ dan ‘hidup’. Memang tidak adil membandingkan film ini dengan The Godfather, tapi paling tidak kita jadi bisa mengevaluasi sudah sedekat mana kita dengan yang the greats.

Nah, kalau karakter yang menjadi pasak utama cerita saja begitu, apalagi karakter-karakter lainnya. Hampir semua karakter-karakter yang ada di dalam film ini selain tidak memiliki character arcs, juga tidak memiliki pengembangan karakter, sama sekali! Karakter mereka ‘begitu’ karena plot mengharuskan karakter mereka ‘begitu’. Bukan plot yang ‘begitu’ karena karakter mereka ‘begitu’. Moga2 anda mengerti maksud saya.

Karakter yang memiliki character arc di film ini hanya karakter yang diperankan Pevita Pearce dan karakter yang diperankan Winky Wiryawan. Tapi untuk karakternya Winky, arc-nya itu pun dengan tiba-tiba, dan dengan motivasi yang tidak jelas. Untuk karakter yang diperankan Slamet Rahardjo, karakternya datang ke tempat itu hanya untuk satu tujuan, dan karakternya tidak menjalani arc dalam mencapai tujuan itu, jadi tidak termasuk. Karakter yang paling menarik malah karakter yang diperankan Abimana Aryasatya. Hanya dengan screentime yang sebentar, karakter ini mencuri perhatian.

Sedangkan karakter yang paling hancur, atau lebih tepatnya secara tidak sengaja dihancurkan, adalah karakter yang diperankan Pevita Pearce. Saya tidak akan terlalu dalam karena tidak ingin menjadi spoiler: kisahnya adalah apa yang disebut dalam bidang skenario sebagai loser story. Bukan berarti karakternya adalah pecundang. Kisahnya mungkin adalah sarana para filmmakernya untuk mengangkat tema konsekuensi terburuk dari ‘kegalauan/kelabilan’ generasi muda, yang masih mencari jati diri dan berangkat dari latar belakang broken home. Tapi sayang sekali, arc karakternya tanggung, dan diakhir arc itu ia tidak mendapatkan ‘hikmah/pelajaran/pencerahan’ dari apa yang telah ia lalui, sehingga menjadi loser story.

Saya akan berhenti di sini dan menyimpulkannya saja: secara keseluruhan, film ini memiliki production value yang sangat tinggi. Film ini dicasting, dikemas, dan dieksekusi secara teknis dengan sangat baik, dan ‘dibentuk (di-mold)’ dengan baik pula. Kekurangan paling besar film ini bagi saya adalah di bagian naratif-nya. Ide-ide, konsep, dan premisnya memang sangat potensial, dan ‘ambisi’-nya sangat besar, tapi skenarionya masih bisa lebih baik lagi, menurut saya. Semoga hal ini hanya dikarenakan theatrical cut-nya merupakan hasil ‘pemangkasan’ dari versi yang sebenarnya yang 150 menit itu. Bisa dimengerti bila theatrical cut-nya dipotong menjadi 100 menit untuk akomodasi jumlah pemutaran dalam sehari, dan mungkin saja di cut yang 150 menit itu memiliki lebih banyak development character yang bisa lebih mengangkat film ini, seperti kasus The Kingdom of Heaven (2005)-nya Ridley Scott.

Pada akhirnya, tidak dapat disangkal bahwa film ini memiliki sesuatu yang cukup ‘dalam’ yang ingin disampaikan, dibalik kemasannya yang rapi dan glamor. Dan karena itu, juga ditambah production value yang tinggi dan banyaknya akting-akting yang bagus, saya berharap anda tetap tertarik untuk menontonnya. Segala kritikan negatif yang saya tulis diatas saya harap hanya menjadi peringatan agar anda tahu apa yang akan anda hadapi, bukan untuk mempengaruhi anda untuk tidak menontonnya, karena siapa tahu anda bisa lebih mengapresiasi film ini lebih daripada saya. Dan maaf bila sebagian besar poin-poin di atas sulit dimengerti buat yang belum nonton filmnya ^^

Disclaimer: Saya tidak bermaksud terkesan jadi sok profesor penulisan skenario, hanya sekedar ingin mengutarakan opini atas dasar sepengetahuan saya saja sebagai seorang cinephile yang mencintai medium film, seperti yang tertulis di halaman about kami. Saya menulis ulasan ini tanpa adanya agenda ingin menjatuhkan, atau pengen eksis sebagai kritikus film. Ulasan ini hanya untuk ‘iseng’ karena senang ngomong soal film, yang meski demikian, tetap diharapkan dapat bermanfaat juga buat orang lain.

5.5/10

Dilema: buat yang tertarik (17+)

————————————-

6.5/10

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: