ulasansingkat

sekedar ulasan (film) singkat

The King’s Speech

The King’s Speech (2010)
sut: Tom Hooper
pen: David Seidler
Inggris Raya

Film yang baik memberikan ceritanya dengan baik, berhasil menangkap poin-poin dramanya dengan baik, terus berhasil mengikat perhatian penonton dengan ketertarikan mereka pada tokoh protagonisnya, memiliki development karakter, dan menyampaikan sesuatu yang melampaui cerita yang disampaikan. Dan di film ini tidak ada tokoh antagonis yang benar-benar ‘antagonis’ membuatnya sangat ringan. Skenario yang luar biasa.

Film ini memiliki semua itu, sehingga sangat direkomendasikan.

Beralih ke hal yang lain, saya menonton kembali dan mengulas film ini karena Oscar sudah dekat, dan kontroversi yang membayangi kemenangan film ini kemarin banyak diungkit-ungkit lagi. Dan saya juga ingin ikutan mengutarakan opini. Sebagai film terbaik, kalau dipikir-pikir sih cukup pantas. Penuh dengan akting-akting yang luar biasa, tata artistik yang baik, editing dan tata suara yang menarik, musik yang mendukung visual, sinematografi yang mantap, production value yang tinggi untuk sebuah film drama-kostum dengan biaya yang tidak tinggi, penyutradaraan yang kompeten dan menggugah (banyaknya penggunaan shot dengan wide lens memperbesar atmosfir ‘royalitas’ serta pemilihan komposisi shot yang agak di luar kebiasaan mengajak penonton ‘mengenali’ situasi emosional karakter secara visual), dan terutama skenario yang jenius.

Sebuah film terbaik tentu sangat wajar, malah bisa dibilang aneh bila tidak, untuk sutradaranya juga mendapatkan penghargaan sutradara terbaik sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang ada di dalam (termasuk di luar bila signifikan) frame. Namun untuk kasus ini, menurut saya kurang benar. Saya tulis ‘kurang’ bukan ‘tidak’ karena sebenarnya bagi saya kemenangan Tom Hooper bukan masalah.

Yang membuatnya ‘kurang benar’ adalah penyutradaraan dalam film ini sangat kental rasa ‘televisinya’, yang sudah saya rasakan bahkan sebelum mengetahui latar belakang Tom Hooper (yang sudah banyak) di televisi. Film ini tidak lebih sinematik dibandingkan penyutradaraan yang terdapat di film-film para nominee yang lain. Lihatlah siapa saja yang jadi nominasi. Empat sutradara yang paling luar biasa di antara generasi muda Hollywood saat ini; David Fincher, Darren Aronofsky, Coen bersaudara. Saya tahu yang dinilai bukanlah keseluruhan body-of-work nya, tapi karya mereka masing-masing untuk tahun itu, dan mereka hanya punya masing-masing satu film yang dinominasikan, dan di dalamnya juga ada filmnya Tom Hooper, jadi ia juga punya hak untuk menang tidak peduli karya-karya sebelumnya. Dan ini bukan berarti saya memandang derajat sutradara televisi lebih rendah dari film, melainkan pendekatan penyutradaraan untuk kedua ‘window’ ini sangatlah berbeda (tempat dan ‘proses’ nontonnya beda, sehingga harus ‘ditangani’ dengan berbeda).

Jadi apa yang ingin saya katakan dengan poin ini? Karena Tom Hooper punya latar belakang televisi dia tidak pantas mendapatkan penghargaan sutradara (FILM) terbaik? Tidak kawan. Yang ingin saya katakan adalah The King’s Speech yang meski tidak memiliki flaws penyutradaraan yang berarti, bukanlah sebuah film yang diarahkan dengan ‘kematangan sinematik’ dalam hal penyutradaraan. Saya ulangi lagi bila anda lewatkan, kemenangan Tom Hooper bukanlah masalah bagi saya, karena penyutradaraannya di film ini sangat kompeten dan menggugah. Usaha kerasnya telah membuahkan sebuah film yang sangat baik. Tapi kemudian, bila disejajarkan misalnya dengan The Social Network (2010) atau Black Swan (2010) dalam hal penyutradaraan, terlihat sekali beda ‘kematangan sinematik’ penyutradaraan dalam kedua film itu oleh sutradaranya masing-masing. Ini tidak berarti bagi saya tidak ada sutradara televisi yang pantas untuk menang sutradara film terbaik. Salah satu sutradara favorit saya pribadi adalah Michael Haneke, yang latar belakangnya di televisi sangat ekstensif sebelum transisi ke film, namun film-filmnya sangat sinematik (sinematik tidak harus punya ‘shot sinematik keren ala Hollywood’). Film debutnya saja, meski secara teknis terlihat ‘televisi’, namun sangat sinematik secara konten dan eksekusi. Ini ulasannya. Sedangkan dalam The King’s Speech, memang banyak ‘shot-shot sinematik’-nya, terutama di menit-menit awal dan akhir durasinya, tapi hanya berperan sebagai ‘riasan’. Bila dibandingkan openingnya saja, Black Swan atau bahkan The Social Network, sangat terasa perbedaan sinematiknya.

Jadi kesimpulannya, bagi saya pribadi, Darren Aronofsky-lah, atau paling tidak Fincher, yang lebih cocok mendapatkan penghargaan sutradara terbaik tahun itu. Di lain sisi, sekarang Tom Hooper telah menjadi sutradara yang karya-karya berikutnya akan sangat saya nantikan, dan semoga dia hanya akan terus menjadi lebih baik lagi. Oke, opini selesai. Maaf sudah parno dan bertele-tele.

8.5/10

The King’s Speech: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: