ulasansingkat

sekedar ulasan (film) singkat

Monthly Archives: Februari 2012

OSS 117: Cairo, Nest of Spies

OSS 117: Cairo, Nest of Spies | OSS 117: Le Caire, Nid d’espions (2006)
sut: Michel Hazanavicius
pen: ####
Perancis

OSS 117: Cairo adalah sebuah film komedi mengenai seorang agen rahasia 117 dari Prancis, yang ditugaskan menginvestigasi kasus pembunuhan agen rahasia lain di Kairo. Komedi dalam film ini datang dari situasi dan kebodohan karakter OSS 117, meski ia tidak sebodoh karakter Johnny English atau inspektur Clouseau (tapi lebih bebal).

Film ini sangat cerdas dalam menangani hampir semua leluconnya, tetapi hal yang paling mengagumkan adalah penampilan sang karakter utamanya. Berkat akting yang solid dari Jean Dujardin, OSS 117 menjadi seorang karakter yang menarik meski naskah film ini sepertinya tidak mengembangkan karakternya dengan lebih baik. Sedikit dipoles lagi mungkin bisa menjadi film yang lebih luar biasa, tapi OSS 117 ini sendiri tetap dapat direkomendasikan dengan pujian kepada setiap penggemar komedi maupun pada penonton umum.

Terdapat beberapa lelucon yang memang meledek beberapa aspek dari agama Islam, tetapi bukan jenis yang menghina dengan kasar dan akan membuat naik darah, lagipula dimainkan dengan nada yang tidak terlalu menyinggung dan gak penting.

7.5/10

OSS 117: Cairo, Nest of Spies: Rekomendasi dengan pujian tinggi, bagi pecinta komedi (17+).

OSS 117: Lost in Rio

OSS 117: Lost in Rio | OSS117: Rio ne Répond Plus (2009)
sut: Michel Hazanavicius
pen: ###
Perancis

Film komedi ini membuat tertawa terbahak-bahak mulai dari awal hingga akhir. Film sekuel ini tidak mendapatkan sorakan seperti yang diberikan pada film pertamanya, mungkin karena film ini lebih membesar-besarkan ke-eksentrik-an karakter OSS satu-tujuh-belas soal ke-rasis-san dan ke-bebal-annya yang kali ini diarahkan pada Israel, Mossad, Yahudi, Nazi, Cina, dan sedikit pada generasi hippi, kaum gay, Amerika, Jerman, Muslim, dan bahkan negaranya sendiri juga dalam satu paket. Berani banget enggak?

Tetapi lelucon-lelucon yang terdapat di dalamnya, apalagi lelucon berulang soal OSS 117 yang tidak pernah kena tembakan meski dihujani tembakan bertubi-tubi dan lelucon adegan ‘kejar-kejaran’ di rumah sakit, amat sangat lucu membuat terbahak-bahak sampai sulit bernafas. Sambil menuliskan ulasan ini pun saya masih senyum-senyum kayak orang gila.

Tapi sudah banyak film komedi yang saya pikir sangat lucu malah dianggap garing oleh orang lain, jadi anggap saja selera komedi saya agak di luar jalur mainstream, dan jangan mudah percaya rekomendasi saya soal komedi. Rekomendasi buat yang bisa ketawa bahkan untuk film komedi ‘garing’.

8/10

OSS 117: Lost in Rio: rekomendasi bagi para penikmat komedi (17+)

Lucky Luke

Lucky Luke (2009)
sut: James Huth
pen: #####
Perancis

Film komedi yang sangat menarik. Di Perancis memang orang-orangnya jago sekali membuat film komedi sureal konyol namun bisa artistik. Memainkan kisah Lucky Luke yang bersetting di Amerika tapi menggunakan bahasa Perancis saja sudah sureal lebih dari komiknya karena ini live-action. Film ini sangat bertolak belakang dengan film-film western spageti.

Struktur naratif film ini tetap masih berada di wilayah konvensional dan leluconnya tidak banyak, tetapi dengan komedi ala Perancisnya ada rasa segar yang orisinal (atau terasa orisnial mungkin hanya karena saya yang masih kurang nonton komedi Prancis). Juga dengan penyutradaraan dan penampilan yang baik dari para aktornya terutama Jean Dujardin, menjadikan dunia dalam film ini mudah dinikmati. Film yang cukup menarik, direkomendasikan untuk anda tonton bila berkesempatan.

6.5/10

Lucky Luke: rekomendasi bagi penikmat komedi dan western (13+)

Batman: Year One

Batman: Year One (2011)
sut: Sam Liu | Lauren Montgomery
pen: Tab Murphy
A.S.

Seperti judulnya, film ini menceritakan tahun pertama hidupnya legenda Batman, bahkan sampai memberikan keterangan tanggal dan bulannya. Film ini merupakan adaptasi langsung dari komik dengan judul yang sama. Saya belum membaca komik tersebut, jadi tidak tahu apakah detail kemunculan Batman dibeberkan secara utuh, tetapi dalam film animasi berdurasi 60an menit ini, tidak detil.

Kita tidak diberitahu bagaimana Bruce Wayne mendapatkan kostumnya, gadget2nya, apakah ia telah punya bat-cave, dan segala macam detil-detil logistik dan administratif lainnya. Ia tiba-tiba saja sudah jadi Batman. Tapi mungkin semua itu dinilai tidak perlu untuk dijabarkan secara detil, karena film ini sangat berfokus hanya pada kisah awal Batman, dan lebih bersandar kepada sudut pandang Kapten Gordon.

Dan bila melihat judulnya kembali (yang sangat keren menurut saya), film ini memang tidak bermaksud untuk menjadi cerita origin, tapi tahun pertama. Untuk versi cerita origin Batman yang terbaik, tetap masih Batman Begins (2005). Komik yang mendasari film animasi ini sempat direncanakan untuk diadaptasi jadi live-action, dengan sutradara Darren Aronofsky, tapi dibatalkan untuk membuat versi Nolan, yang memang merupakan kisah yang lebih kompleks dan dalam. Namun sebagai sebuah film animasi, kisah Year One ini tetap sangat direkomendasikan kepada setiap penggemar maupun orang-orang yang tertarik pada karakter Batman.

7/10

Batman: Year One: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

Dilema

Dilema (2012)
sut: ####
pen: #####
Indonesia

Baca pos ini lebih lanjut

The Artist

The Artist (2011)
sut: Michel Hazanavicius
pen: Michel Hazanavicius
Perancis

Saya sengaja menghindarkan diri dari segala hal film ini, termasuk tidak membaca ulasan-ulasannya, mengecek ratingnya di imdb, metacritic, dan rotten tomatoes, bahkan tidak menonton trailernya sama sekali. Karena khusus film-film yang saya rasa punya potensi untuk menjadi film yang greats (atas dasar buzz/rekomendasi), saya ingin tonton dalam keadaan ‘perawan’ (‘perjaka’ dalam kasus saya). Saya ingin merasakan pengalaman sinema yang murni, yang dari ‘tidak tahu’ menjadi ‘tahu’ saat sedang menonton, karena sebagai cinephile, tidak peduli akan berapa kali saya menonton sebuah film, kesan tontonan pertamanya tidak akan pernah hilang. Saya pernah dengan bodohnya men-spoil diri sendiri terhadap film The Usual Suspects (1995) sebelum menontonnya, yang meski tetap bisa saya nikmati dan apresiasi, saya tahu tidak akan berkesan sama seperti bila saya tidak tahu endingnya. Saya pastikan hal seperti ini tidak akan terjadi lagi.

Bukankah saat pertama kali menonton Sunrise: A Song of Two Humans, City Lights, The Godfather, Pulp Fiction, Fargo, City of God, A Separation, Taste of Cherry, Schindler’s List, Das Boot, Gandhi, Spirited Away, 2001, Singin’ in the Rain, Picnic At Hanging Rock, Taxi Driver, The Lives of Others, Memories of Murder, The White Ribbon, Scent of a Woman, The Readers, dan film-film greats yang lainnya, adalah pengalaman sinema yang luar biasa? (Argh, saya rela amnesia biar bisa menonton film-film tersebut untuk pertama kali lagi). Tentu anda tidak ingin pertama kali menonton film-film tersebut sudah spoiled bukan? Oke, berikut ulasan yang (semoga) bebas spoiler:

Tidak seperti ekspektasi saya, tapi tetap merupakan sebuah film yang solid. The Artist adalah film bisu dengan beberapa ‘sentuhan’ modern. Sebagai favorit utama calon pemenang film terbaik di oscar nanti, saya rasa film ini memang berpeluang besar melawan film-film solid lainnya karena ‘timing’ keunikannya sangat tepat dalam membawa ‘angin segar’ kembali ke dunia sinema, terutama karena ‘kepopuleran’ The Tree of Life (2011) sudah mulai menurun. Dan mungkin film ini dapat menghidupkan kembali seni film bisu sebagaimana Moulin Rouge (2001) terhadap film musikal.

Saya punya beberapa issue dengan film ini, tapi bukan sebagai sebuah film bisu maupun struktur naratifnya, tapi lebih kepada motivasi di balik beberapa aksi kedua karakter utamanya yang seperti tidak dipikirkan lebih dalam; kalaupun dipikirkan dengan dalam, tidak benar-benar sampai ke penonton. Di luar itu, sebuah film bisu modern yang bagus. ‘Dunianya’ sangat hidup.

Tidak direkomendasikan ke semua orang, karena merupakan sebuah film bisu tanpa dialog, hitam putih, ‘kotak’ lagi. Dan calon penonton yang niat nonton film ini pasti akan/sudah menontonnya tanpa perlu rekomendasi dari saya. Jadi saya merekomendasikan film ini buat yang penasaran, cobalah. Memang film ini bukan film bisu terbaik sepanjang masa, tapi mungkin dapat membuat anak-anak muda untuk tertarik dan mulai menonton karya-karya masterpiece di awal-awal sejarah sinema, oleh para pionir sinema.

8.5/10

The Artist: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

Malaikat Tanpa Sayap

Malaikat Tanpa Sayap (2012)
sut: Rako Prijanto
pen: Anggoro Saronto | Titien Wattimena
Indonesia

Film ini sangat mengingatkan pada sebuah film lain, tapi itu tidak penting.

Sedikit lagi, film ini bisa jadi luar biasa. Apa adanya, film ini bagus banget. Castingnya pada cocok, aktingnya bagus-bagus, di-pace dengan baik, dan ditulis dengan baik pula. Sangat direkomendasikan.

Memang masih ada beberapa flaw, tapi hanya hal yang lumrah dan bisa dilupakan. Namun ada satu hal, yang bagi saya “cop out” banget, yang walaupun saya dapat mengerti karena film ini merupakan “film valentine” dan produsernya pengen penonton yang banyak, tapi menurut saya bila film ini dibawa saja ke arah yang “sudah semestinya itu”, akan membuat film ini memiliki tempat yang sangat spesial dalam sejarah perfilman kita.
Sumpah film ini akan menjadi film yang sangat spesial dan berani, seandainya saja. Apalagi karena “cop out” itu sangat out of the blue dan dengan penjelasan yang super singkat tanpa penekanan dramatis.

Tapi itu hanya opini saya saja. Yang penting saya suka sekali film ini, dan bersyukur sempat nonton selagi masih di bioskop, dan sangat merekomendasikannya. (Sedih rasanya tahu jumlah penonton sebuah film berkualitas kalah dari jumlah penonton Rumah Bekas Kuburan (2012). :|)

8/10

Malaikat Tanpa Sayap: rekomendasi bagi cinephiles dan penonton kasual (BO)

The King’s Speech

The King’s Speech (2010)
sut: Tom Hooper
pen: David Seidler
Inggris Raya

Film yang baik memberikan ceritanya dengan baik, berhasil menangkap poin-poin dramanya dengan baik, terus berhasil mengikat perhatian penonton dengan ketertarikan mereka pada tokoh protagonisnya, memiliki development karakter, dan menyampaikan sesuatu yang melampaui cerita yang disampaikan. Dan di film ini tidak ada tokoh antagonis yang benar-benar ‘antagonis’ membuatnya sangat ringan. Skenario yang luar biasa.

Film ini memiliki semua itu, sehingga sangat direkomendasikan.

Baca pos ini lebih lanjut

Ghost Rider: Spirit of Vengeance

Ghost Rider: Spirit of Vengeance (2012)
sut: Neveldine/Taylor
pen: ###
A.S.

(yang 2d)

Sangkanya, dengan sutradara Crank (2006) kita akan mendapatkan film aksi ber-pace tinggi dengan banyak momen-momen ‘keren’. Apalagi setelah melihat di-balik-layar-nya di youtube yang keren abis. Tapi film ini lumayan membosankan. Bahkan adegan aksinya juga membosankan, serius! Kecuali mungkin yang di klimaks.
Jadi kalau bingung mau nonton apa minggu ini dan cuma bisa nonton satu film saja, film ini tunggu dvdnya saja (rental atau bajakan, bukan beli). Lebih baik nonton Malaikat Tanpa Sayap (2012), serius!

5.5/10

Ghost Rider 2: buat yang tertarik (13+)

Kita Versus Korupsi

youtu.be/niSz4XkYzyM

Sebagai sebuah omnibus 4 film yang mengandung pesan anti korupsi, yang visi besarnya adalah cegah korupsi mulai dari diri sendiri, film ini patut ditonton oleh ORANG INDONESIA.

Sebagai sebuah film, kumpulan 4 film fiksi pendek, yang dikonsep lalu dieksekusi secara profesional, film ini layak ditonton oleh para pecinta sinema. Sebagai film yang non-komersil, semoga film ini dapat kesempatan untuk dieksebisikan ke seluruh penjuru nusantara dengan mudah.

Pendapat saya:

* Rumah Perkara (7/10)
* ____Aku Padamu (7/10)
* Selamat Siang, Risa! (8/10)
* Psssttt… Jangan Bilang Siapa-Siapa (8/10)

7.5/10