ulasansingkat

sekedar ulasan (film) singkat

Monthly Archives: Desember 2011

The Seventh Continent

The Seventh Continent | Der Siebente Kontinent (1989)
sut: Michael Haneke
pen: Michael Haneke | Johanna Teicht
Austria

Baca pos ini lebih lanjut

All the President’s Men

All the President’s Men (1976)
sut: Alan J. Pakula
pen: William Goldman
A.S.

All the President’s Men menceritakan investigasi dan pengungkapan skandal ‘Watergate’ oleh 2 jurnalis muda, Carl Bernstein dan Bob Woodward.

All the President’s Men akan menarik bagi anda yang tertarik mengenai skandal ‘Watergate’ maupun sekedar tertarik dengan film-film bertopik politik dan investigatif prosedural dalam eksekusinya. Di film ini anda akan menemukan teknik filmmaking yang rendah diri dengan membiarkan cerita maju ke depan, tetapi jika anda dapat melihat ke baliknya, anda akan terpukau oleh kecerdasan di belakang layar.

Sangat direkomendasikan kepada para penikmat sinema secara umum, terutama yang lebih memilih film-film yang ‘realistis’ atau yang diangkat dari kisah nyata.

9/10

All the President’s Men: Rekomendasi dengan pujian yang tinggi. (13+)

Memories of Murder

Memories of MurderSalinui Chueok (2003)
sut: Bong Joon-ho
pen: Bong Joon-ho | Shim Sung-bo | Kim Kwang-rim (stage play)
Korea Selatan

Karena Sherlock Holmes 2 (2011), saya dalam mood menonton film-film investigasi lagi, mulai dari film investigasi terfavorit saya pribadi, Memories of Murder.

Memories of Murder adalah film yang sangat dahsyat dari segala sisi filmmaking, dan wajib ditonton bagi para penikmat sinema. Film ini adalah jenis film drama prosedural polisi, mengikuti 3 orang polisi yang berusaha memecahkan sebuah kasus pembunuhan berantai di sebuah kota kecil di Korea Selatan, dan tidak ragu melakukan apa pun untuk itu.

Memories of Murder adalah kocak, tegang, sedih, dramatis, dan misterius dalam satu paket. Tontonlah film ini lebih dari sekali. Tontonan pertama hanya untuk menikmati cerita yang memikat, bertemu dengan karakter-karakter yang unik, dan menikmati pemandangan alam pedesaan Korea Selatan yang difotografi dengan indah. Dan untuk tontonan kedua dan seterusnya, silahkan terpukau oleh teknik filmmaking yang sangat cerdas.

10/10

Memories of Murder: Rekomendasi dengan pujian yang tinggi. (17+)

Sherlock Holmes: A Game of Shadows

Sherlock Holmes: A Game of Shadows (2011)
sut: Guy Ritchie
pen: Michele Mulroney | Kieran Mulroney | #
A.S.

Setelah menonton film pertamanya, bagi penggemar novelnya termasuk saya pribadi, memang agak sulit menerima Sherlock Holmes versi Guy Ritchie ini. Beda banget. Tapi setelah menonton sekuelnya, dan sangat terhibur, sekarang saya bisa dengan ikhlas menerima versi ini sebagai versi dunia alternatif (kerennya: alternate universe) dari detektif nomor satu itu. Namun saya juga dapat memahami bila ada yang tetap menolak versi ini.

Atmosfir film ini sangat ringan untuk dunia yang tidak jauh dari misteri dan kriminalitas, berkat interpretasi baru, yang memang bertujuan untuk menggaet dunia hip modern saat ini.

Film ini enak untuk dinikmati, dan memiliki banyak ide-ide cerdas untuk lebih mengeksplorasi apa yang telah para filmmakernya lakukan sebelumnya untuk menerjemahkan ‘otak/cara pikir’ karakter Sherlock Holmes ke bahasa gambar.

Ada rasa kecewa terhadap bagaimana mereka mengeksekusi karakter Professor Moriarty (kesannya tidak jenius-jenius amat, dan seperti bukan orang yang memiliki ‘otak’ yang setara dengan Holmes) dan karakter Mycroft Holmes (malah sekedar menjadi karakter comic-relief dan tidak penting-penting amat dan tidak ada petunjuk kalau ia memiliki ‘otak’ yang setara atau lebih hebat dari adiknya).

Secara keseluruhan, saya cukup terhibur oleh film kedua ini, dan tertarik untuk menyaksikan bagian ketiganya. Hanya saja, semoga versi ini berhenti di sana untuk memberi jalan bagi film feature Sherlock Holmes yang lebih dekat pada canon-nya.

Direkomendasikan bagi para cinephiles dan penonton kasual.

7.5/10

Sherly (^_^) 2: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

Garuda di Dadaku 2

Garuda di Dadaku 2 (2011)
sut: Rudi Soedjarwo
pen: Salman Aristo
Indonesia

Sinematografinya sangat bagus. Shot-shotnya indah dan sinematik. Aktingnya pada bagus-bagus. Musiknya mantap dan mendukung atmosfir gambar. Drama plot dan jalan ceritanya cukup menarik.

Dua hal yang menurut saya masih kurang, salah satunya adalah selain karakter Bayu si protagonis, tidak ada lagi karakter yang didevelop sehingga hampir semua karakternya hanya menjadi ‘alat/pion’ cerita. Serasa seperti film Harry Potter gitu. Begini, skenarionya sangat bagus, dengan adegan-adegan, jalan cerita, drama, dan ide yang semuanya sangat cerdas. Yang kurang bagi saya adalah karakterisasi. Sebenarnya film ini banyak memiliki karakter-karakter yang berpotensi menjadi ‘bulat’ bila di-‘perlakukan’ dengan lebih baik, seperti Pak Pelatih, Yusuf si anak Makassar, Rama yang jadi kapten, bapaknya Anya, pacar mamanya Bayu, si Effendi yang jadi cadangan terus, dll. Bila para insan di balik layar punya/mau meluangkan sedikit lebih banyak waktu lagi, dengan mengerjakan satu draft lagi yang khusus meng-‘tweak’ sisi karakterisasi dari skenarionya, saya yakin film ini akan menjadi lebih luar biasa lagi. Ini menurut saya saja, sih. Memang gampang mengkritik. Melakukannya susah. Bagi saya, penulis skenario film terbaik Indonesia saat ini adalah Salman Aristo.

Hal yang kedua yang menurut saya kurang adalah adegan/sekuens pertandingannya sendiri. Dengan sinematografi yang indah, editing yang tajam, dan musik yang menderu selayaknya film Hollywood, namun kita malah sulit mengikuti permainan bolanya sendiri. Menurut tebakan saya, anak-anak itu hanya disuruh bermain seperti biasa (dengan beberapa instruksi tertentu tentunya), yang baru kemudian diedit agar sesuai dengan cerita. Singkatnya, tidak dikoreografi. Sehingga hanya terdapat sedikit drama di sana. Tidak maksimal.

Hanya dua hal itu saja, sih. Secara keseluruhan, film ini sangat bagus, menghibur dan memuaskan. Dan yang paling penting sangat sinematik. Sangat direkomendasikan bagi para penggemar drama + olahraga. Tidak aneh bila Rudi Soedjarwo bangga terhadap film ini.

7/10

Garuda di Dadaku 2: rekomendasi bagi para cinephiles (BO)

Hafalan Shalat Delisa

Hafalan Shalat Delisa (2011)
sut: Sony Gaokasak
pen: Armantono | Tere Liye (novel)
Indonesia

Film ini memperlihatkan kehidupan seorang gadis kecil sebelum dan setelah bencana Tsunami di Aceh Desember 2004 silam. Film ini berhasil menggenggam beat-beat momen tertentu sepanjang durasinya, tapi meleset di sisanya. Film ini punya banyak masalah, tapi saya rasa bisa cukup menghibur untuk demografi penonton tertentu, yang menikmati film-film semacamnya. Setelah menonton trailernya dan anda merasa tertarik menontonnya, mungkin film ini memang untuk anda. Saya sendiri, sedikit terhibur, tapi merasa sangat bosan, ingin filmnya cepat-cepat selesai saja.

6/10

Hafalan Shalat Delisa: rekomendasi bagi para penikmat film semacamnya (BO)

Mi4

Mission: Impossible – Ghost Protocol (2011)
sut: Brad Bird
pen: Josh Appelbaum | André Nemec | #
A.S.

Film aksi yang sangat menghibur dan menyenangkan. Plotnya yang lumayan kompleks butuh konsentrasi lebih untuk dapat mengikutinya. Tapi diberikan dengan cerdas sehingga membawa kesenangan tersendiri bagi penonton yang berhasil mengikuti dengan tepat; dan secara bersamaan tidak meninggalkan penonton yang ‘ketinggalan’ sehingga mereka tetap masih dapat menikmati filmnya.

Karakter-karakter di dalam film ini mendapat perhatian yang pantas dalam hal ‘jatah dalam cerita’ membuat kita dapat peduli kepada mereka semua. Film ini memang rada ‘dingin’ karena misi di dalam ceritanya tidak ada yang personal bagi para karakternya (kecuali karakter-nya Paula Patton, yang menurut saya agak ‘miss’ eksekusinya) dan mereka terlibat hanya karena misi tersebut merupakan ‘tugas’ mereka, membuat kita kurang peduli apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun plot, karakter-karakter, dan eksekusinya menambahkan kekuatan besar bagi nilai hiburan film ini.

Direkomendasikan bagi para pecinta film aksi dan para penonton kasual. Saya pribadi merasa film ini film Mission Impossible yang paling bagus dan menghibur. Satu hal yang ingin saya keluhkan, musik filmnya sepertinya kurang diperhatikan.

8/10

MI-4: rekomendasi bagi para penikmat film aksi (BO)

Code Unknown: Incomplete Tales of Several Journeys

Code Unknown: Incomplete Tales of Several Journeys |
Code Inconnu: Récit Incomplet de Divers Voyages (2000)
sut: Michael Haneke
pen: Michael Haneke
Prancis | Jerman | Rumania

Sedikit tapi banyak. Frase tersebut memang seperti tidak masuk akal, tapi dapat dilabelkan kepada semua karya film feature dari sutradara Michael Haneke.

Film ini membawa kita masuk ke tengah-tengah kehidupan beberapa karakter yang saling bersinggungan satu sama lain secara “kebetulan”, dan menunjukkan pada kita banyak hal yang patut direnungkan, serta sebagai cermin untuk melihat diri kita sendiri sebagai seorang manusia. Sangat direkomendasikan bagi anda para penikmat sinema seni.

Tidak satu moment pun sepanjang durasi film ini yang terasa lambat, tapi bisa dimengerti bila penonton umum akan menemukan film ini bertempo lambat. Jadi bila pilihan tontonan anda lebih condong kepada jalur film mainstream, anda mungkin tidak akan dapat menikmati film ini.

9/10

Code Unknown: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

The Bridge on the River Kwai

The Bridge on the River Kwai (1957)
sut: David Lean
pen: Michael Wilson | Carl Foreman | Pierre Boulle (novel)
Inggris | A.S.

Film epik dari sutradara epik David Lean. Film ini sangat memukau dalam segala hal dan wajib tonton bagi para cinephile. Satu hal yang paling menonjol dalam film ini adalah para karakternya dan interaksi mereka satu sama lain. Karakter-karakternya yang sangat ‘hidup’-lah yang membuat film ini sangat ‘hidup’. Dan endingnya, wah, benar-benar hebat.

Oiya, film ini epik, dan durasinya juga epik ^_^ jadi usahakan tonton di waktu yang tepat sehingga anda dapat menyelesaikannya in one sitting.

9/10

The Bridge on the River Kwai: rekomendasi dengan pujian yang tinggi (13+)

Tetsuo the Iron Man

Tetsuo the Iron Man | Tetsuo (1989)
sut: Shinya Tsukamoto
pen: Shinya Tsukamoto
Jepang

Ceritanya, sederhana saja. Awalnya memang agak sulit dipahami, tetapi kemudian akan jelas sendiri. Yang menarik adalah cara penyampaiannya. Dan yang lebih menarik lagi, adalah bentuk/gaya filmnya.

Sisi eksperimental dari visual dan spesial efeknya disertai musik ‘metal’ (bukan genre metal, tapi metal yang elemen, besi gitu, ^_^) memberikan film ini ‘energi’ yang biasanya hanya dapat ditemukan di film-film sureal ekperimental semacamnya. Kalau mengambil contoh karya-karya sutradara barat, coba bayangkan film-film David Lynch atau Alejandro Jodorowsky namun memiliki semangat punk rock metal. Kalau sutradara timur, mungkin banyak, tapi saat ini saya hanya bisa teringat Takashi Miike. Intinya, film ini tipe film yang semacam itu, yang aura kejeniusan ada terpancar dari ‘chaos’ di sepanjang durasinya.

8/10

Tetsuo: rekomendasi bagi para cinephiles (17+)