ulasansingkat

sekedar ulasan (film) singkat

Hollywood di Indonesia (esei)

Hollywood di Indonesia

 

Sering kita mendengar bahwa film-film Indonesia akhirnya sudah bisa menjadi tuan rumah di negara sendiri. Film-film karya anak bangsa sudah bisa bersaing dengan film-film impor (Hollywood). Bila melihat statistik, hal ini memang benar berlaku bagi film-film tertentu. Tetapi berlakukah bagi seluruh film-film Indonesia secara umum?

Beberapa waktu lalu terjadi sebuah kejadian yang patut diambil hikmahnya. Yaitu saat film-film impor (terutama Hollywood) berhenti tayang di layar bioskop tanah air. Saat itu film-film Indonesia 100% mengisi setiap layar yang tersedia. Banyak yang berpendapat bahwa saat itu merupakan kesempatan emas bagi film-film Indonesia yang tayang untuk mendapatkan penonton yang biasanya akan disedot oleh film-film impor.

Namun apa yang terjadi? Bioskop sepi.

Fenomena ini mematahkan argumen bahwa film Indonesia sepi penonton karena jumlah layar didominasi oleh film-film impor. Saat film-film Indonesia mendapatkan kesempatan eksebisi yang seluas-luasnya tanpa harus bersaing dengan “Big Brother” sekalipun, ternyata tetap saja tidak terdapat lonjakan jumlah penonton yang signifikan.

Lalu hikmah apa yang bisa kita ambil dari hal ini? Penonton sekarang sudah pintar membedakan film mana yang berkualitas dan yang mana yang tidak. Atau paling tidak mampu memilih film mana yang mampu menghibur tanpa harus merendahkan intelejensia mereka. Sebaiknya sekarang para insan perfilman kita berhenti untuk mengeluhkan hal-hal yang di luar kuasa kita, dan mulai fokus kepada hal-hal yang berada di dalam jangkauan, yaitu untuk memberikan film-film berkualitas yang selalu dinantikan penonton Indonesia, yang masih sulit mereka dapatkan.

Satu contoh yang menarik, yaitu saat Avatar (2009)-nya James Cameron beredar di Indonesia. Sementara Sang Pemimpi (2009) mulai diputar pada saat yang bersamaan. Saat sebuah film berkualitas Indonesia berhadapan dengan sebuah film raksasa dari Hollywood, mampukah film kita bersaing? Mampu!

Sang Pemimpi (2009) mampu menarik penonton berjumlah 1.742.242 orang . Meski angka ini merupakan penurunan yang besar dari jumlah penonton film pendahulunya Laskar Pelangi yang mampu menarik sekitar 4 juta 600 ribuan penonton, tetapi tetap saja berada di atas rata-rata jumlah penonton film Indonesia “biasa” yang hanya sekitar 300-400 ribuan penonton. Dan ini saat film tersebut sedang bersaing dengan Avatar (2009), yang merupakan film paling laris sepanjang masa lho! Di seluruh negara wilayah Asia Tenggara, Avatar selalu merajai jumlah penonton menenggelamkan film-film lokal, kecuali di Indonesia .

Hal ini seharusnya menjadi kebanggaan tersendiri bagi kita. Dan untuk situasi-situasi semacam inilah kita bisa dengan lantang mengatakan bahwa film Indonesia telah menjadi tuan rumah di rumah sendiri.

Tapi kemudian, tampaknya masih banyak insan perfilman kita yang terheran-heran tidak habis pikir atas perbedaan besar yang fundamental yang ditimbulkan oleh Hollywood yang sangat mempengaruhi bentuk industri/dunia perfilman internasional termasuk di negara kita sendiri. Sebaiknya kita harus ingat, bahwa Hollywood bukan sekedar mesin industri semata. Hollywood dipenuhi orang-orang profesional dengan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi, yang SELALU memikirkan kepuasan penontonnya. Yang sebenarnya memang ujung-ujungnya termotivasi laba.

Orang-orang sering meneriaki Hollywood atas film-film remaja bodoh, atau remake-remake yang jauh di bawah kualitas film aslinya, film-film yang membawa/menularkan kebodohan bagi generasi muda, dan termasuk sekuel-sekuel yang jelas-jelas hanya ingin cari uang. Tapi Hollywood sebenarnya juga punya sisi positif.

Mereka berhasil menelurkan formula yang bisa dinikmati oleh berbagai negara, bangsa, suku, bahasa, gender, dan usia, dan mampu merealisasikannya. Mereka menjual hiburan bagi dunia (tolong dicatat di sini saya berbicara secara luas).

Dan saya sebagai seorang cinephile, terkadang ingin menonton sebuah film yang murni untuk tujuan hiburan semata, tidak perlu berpikir tapi sekaligus tidak membodohi. Dan terkadang, Hollywood bisa memberikan apa yang saya cari.

Dengan segala kekurangannya, tidak bisa dipungkiri Hollywood merupakan satu entiti yang sangat penting bagi dunia perfilman—bukan hanya Amerika, tapi juga internasional. Kita hanya bisa berharap, meski kita tahu bahwa mereka tidak akan berhenti menelurkan film-film yang bobrok. Yang bisa kita lakukan secara real saat ini adalah membeli tiket film yang berkualitas dan menghindari yang buruk, agar mereka tahu, kita tidak akan selalu menelan setiap film yang mereka sodorkan begitu saja tanpa syarat kualitas.

Tapi film adalah produk yang sangat aneh, dimana kita beli dulu (tanpa tahu apakah kita akan menyukai produknya atau tidak), baru dikonsumsi. Jadi bagaimana kita bisa tahu? Ehem *malu-malu*, baca resensi, ulasan, review yang anda percaya memiliki selera yang sama dengan anda, atau mampu merekomendasikan judul-judul yang dapat membantu meningkatkan selera film anda.

Itu bagi penonton. Tapi bagaimana dengan para insan perfilman kita? Suka tidak suka, mereka harus menerima kenyataan bahwa mereka hidup di dunia yang dirajai oleh Hollywood.

Di film dokumenternya, 10 on 10 (2004), Abbas Kiarostami mengatakan (terjemahan bebas saya), “…menurut saya, kekuatan sinema Amerika bahkan lebih besar dari kekuatan militer mereka. Dalam jangka panjang, kehadiran sinema Amerika di seluruh dunia dapat menciptakan lebih banyak masalah daripada kehadiran militer mereka (…in my opinion, the power of American cinema is even greater than America’s military might. In the long run, the presents of American cinema across the globe, could create more problems than it’s military presents).”

Kemudian, Abbas Kiarostami juga mengatakan, “…jika kau ingin menjadi filmmaker sukses, saya sarankan sebagai sesama filmmaker, agar jangan pernah lupakan formula sinema Amerika (…if you want to be a succesful filmmakers, I suggest as another filmmaker, that you never forget the formula of American cinema).” Sejujurnya, saya tidak bisa menangkap maksud Kiarostami yang sebenarnya melalui kutipan ini. Apakah ia menyarankan untuk mengadopsi formula Hollywood? Ataukah ia mengimplikasikan agar kita menolak/melawan formula Hollywood? Bila anda ingin mendengarkan konteksnya secara keseluruhan, silahkan klik.

Jadi bagaimana dengan para insan perfilman kita? Apakah sebaiknya mereka mengadopsi saja formula film-film Hollywood, karena sudah terbukti bahwa penonton kita cukup compatible dengan formula tersebut? Entahlah. Sudah merupakan tugas mereka sendiri untuk mencari tahu jawabannya. Tapi satu hal yang pasti, film yang berkualitas rendah, tidak akan pernah sejajar dengan film yang berkualitas lebih tinggi. Saya akan menutup esai ini dengan 3 hal yang saya percaya harus dimiliki oleh setiap sutradara film: buatlah film yang KAMU (si sutradara) ingin tonton, punya VISI yang jelas, dan punya sesuatu yang ingin DISAMPAIKAN.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: