ulasansingkat

sekedar ulasan (film) singkat

Sang Penari

Director : Ifa Isfansyah

Penulis : Salman Aristo, Ifa Isfansyah, Shanty Harmayn

IND (2011)

Film adaptasi dari trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jentera Bianglala karya Ahmad Tohari  sebelumnya juga pernah difilmkan pada tahun 1983 dengan judul Darah dan Mahkota Ronggeng. Namun di sini penulis tidak ingin membandingkan dua film, melainkan coba fokus pada  film Sang Penari.

Setelah di awal menonton dengan penuh ketergangguan, saya hanya mampu mempertanyakan kenapa pengenalan karakternya terlalu lamban, sehingga menjadi bosan. Namun perlahan, film ini mampu merasuki saya untuk kemudian fokus pada cerita terhadap baik dan buruk mitologi ronggeng. Lupakan aspek sinematografi yang memang bagus, namun kembali ke cerita.

Mengenai Srintil, tokoh protagonis wanita yang sangat terobsesi menjadi seorang ronggeng. Dengan misi cita cita yang dianggap layak diperjuangkan serta niat memperbaiki nama keluarga, tokoh ini bisa dikatakan berhasil menarik simpati. Begitu juga dengan Rasus. Dari awal saya menangkap dialah pahlawan sesungguhnya dalam film ini. Dilematis yang ia rasakan membuatnya tidak perlu untuk analisa secara lebih

Film ini sendiri tidak mempertunjukkan siapa tokoh antagonis sebenarnya, melainkan keadaan yang patut dipersalahkan dalam hubungan cinta antara dua tokoh. Mau menyalahkan Nyai atau Dukun Ronggeng? tidak juga. Mau menyalahkan kang Bakar yang membawa perubahan sudut pandang, tidak juga. Ini murni keadaan. Salahkan obsesi, salahkan keputusasaan. Di sana titik antagonis berada. Di sanalah ketergangguan berasal.

Memang seiring berjalannya waktu mereka hidup di era hitam dan putih. Pergolakan politik yang sengit, namun film ini berhasil membuat saya berfikir bahwa pergolakan yang terjadi pada saat itu menjadi abu-abu. Ketidak-mengertian penduduk Dukuh Paruk membuat mereka di cap sebagai penduduk yang harus ditangkap karena diduga menganut paham yang bertentangan dengan idealisme negara.

Di sisi lain, film ini seolah menyentil bahwa kemiskinan, ketidaktahuan merupakan  lubang kelam sejarah Indonesia. Dimana, terlihat pada cerita tahun 1965. Pada tahun tersebut terjadi fase perubahan untuk mensejahterakan rakyat, pembangunan mengalami perubahan, namun sayangnya tidak pada sumber daya manusia. Ini terlihat seperti hal yang sia-sia, karena apa gunanya pembangunan dengan embel embel kesejahteraan tidak diselaraskan dengan memajukan sumber daya manusia(?).

Secara keseluruhan, film ini merupakan film yang sangat layak untuk ditonton. Menyajikan unsur yang kaya pengetahuan akan kebudayaan, serta kesenian dan  juga sisi kemanusiaan yang sangat berarti untuk dipahami. Dan yang lebih adil lagi, film ini menggunakan open ending, sehingga penonton merasa bebas untuk menyimpulkan. Jadi tidak perlu ragu untuk membeli karcis film. Lakukan dan nikmati film ini.

7,5/10

Sang Penari: Rekomendasi bagi cinephiles (17+)

Iklan

One response to “Sang Penari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: