ulasansingkat

sekedar ulasan (film) singkat

Monthly Archives: November 2011

Funny Games

Funny Games (1997)
sut: Michael Haneke
pen: Michael Haneke
Austria

Funny Games adalah film yang akan membuat anda terus memikirkannya hingga berhari-hari setelah menontonnya (ya, sedikit hiperbola). Film ini tidak bisa direkomendasikan ke sembarang orang, bukan hanya karena kontennya yang penuh violence (kekerasan/kekejaman), tetapi juga karena gaya atau tempo filmnya yang lambat dengan banyak build-up (tidak ragu-ragu dalam menggunakan durasi untuk membangun emosi/tensi/ketegangan).

Film ini jelas masuk ke dalam kategori film seni. Dan bagi anda yang tidak menyukai film yang bertempo lambat dan ‘sok seni’, silahkan lewatkan saja. Namun bagi anda yang punya ‘tulang seni’, film ini patut untuk ditonton dan akan membuat anda lebih menghargai satu bahasa sinema yang unik. Apalagi jika anda adalah seorang insan perfilman dan akademisi, film ini wajib tonton!

Film ini adalah film Michael Haneke pertama yang saya tonton, yang secara instan menjadikannya sebagai salah satu sutradara favorit saya pribadi. Saya telah menonton seluruh filmografinya, dan saya bisa mengatakan, bahwa Michael Haneke adalah satu-satunya sutradara (yang sudah saya tonton keseluruhan filmografinya) yang belum pernah membuat film yang ‘buruk’ atau miss.

9.5/10

Funny Games: Rekomendasi bagi penikmat film seni, tapi dengan peringatan. (21+)

Catatan: violence yang terdapat dalam film ini kebanyakan terjadi offscreen, tetapi tetap sangat brutal dan mengganggu.

Iklan

Hollywood di Indonesia (esei)

Hollywood di Indonesia

 

Sering kita mendengar bahwa film-film Indonesia akhirnya sudah bisa menjadi tuan rumah di negara sendiri. Film-film karya anak bangsa sudah bisa bersaing dengan film-film impor (Hollywood). Bila melihat statistik, hal ini memang benar berlaku bagi film-film tertentu. Tetapi berlakukah bagi seluruh film-film Indonesia secara umum?

Beberapa waktu lalu terjadi sebuah kejadian yang patut diambil hikmahnya. Yaitu saat film-film impor (terutama Hollywood) berhenti tayang di layar bioskop tanah air. Saat itu film-film Indonesia 100% mengisi setiap layar yang tersedia. Banyak yang berpendapat bahwa saat itu merupakan kesempatan emas bagi film-film Indonesia yang tayang untuk mendapatkan penonton yang biasanya akan disedot oleh film-film impor.

Namun apa yang terjadi? Bioskop sepi.

Baca pos ini lebih lanjut

Drive

Drive (2011)
sut: Nicolas Winding Refn
pen: Hossein Amini | James Sallis (book)
A.S.

Film ini cukup populer, dan mendapatkan banyak pujian dari berbagai kalangan, dan terutama membawakan penghargaan Best Director festival Cannes 2011 untuk sutradara Nicolas Winding Refn.

Film ini memang Eropa banget dalam style-nya, 99% berkat sensibilitas sutradaranya. Saya bisa melihat mengapa film ini bisa disukai banyak orang, dan kurang lebih sebagian besar karena akting, tempo cerita, dan penyutradaraan (temasuk pemilihan musik).

Namun saya tidak akan membohongi perasaan saya sendiri dan lalu mengikuti arus. Dari penilaian subyektif saya pribadi, atau lebih tepatnya keasyikan saya menontonnya, ada sedikit rasa kecewa. Dan ini mungkin karena ekspektasi saya yang terlalu tinggi.

Dari buzz yang sangat positif di Cannes, lalu sutradaranya mendapatkan Best Director, lalu banyak kritik film yang menyatakan film ini calon film terbaik untuk tahun 2011, dan sebagainya. Setelah menonton film ini rasanya tidak sebegitu amat.

Apalagi dengan akting yang kurang sregg dari Ryan Gosling. Dari beberapa filmnya yang sudah saya tonton, ia adalah aktor berbakat terutama di Blue Valentine (2010). Tapi di film ini, rasanya tidak cocok sekali. Ia tidak memberikan kesan “gelap”, misterius, maupun serba “memperhitungkan” yang seharusnya terpancar dari karakter Driver. Tapi saya menyadari, ini bukan fakta, dan hanya opini pribadi saya sendiri.

Secara keseluruhan, film ini memang film yang sangat bagus dan enak untuk dinikmati, dan direkomendasikan bagi para cinephiles, terutama yang tertarik untuk lebih mengenal luasnya lingkup sensibilitas sutradara Nicolas Winding Refn.

7.5/10

Drive: rekomendasi bagi para cinephiles (17+)

Valhalla Rising

Valhalla Rising (2009)
sut: Nicolas Winding Refn
pen: Roy Jacobsen | Nicolas Winding Refn
Denmark | Britania Raya

Valhalla Rising adalah film tentang seorang ksatria(?) atau budak untuk sebuah judi pertarungan. Semacam gladiator. Ia bisu, dan buta sebelah. Tapi seorang petarung yang perkasa. Ia lalu berhasil bebas, lalu bergabung dengan sekelompok ksatria Kristen yang ingin pergi ke Yerussalem untuk ikut perang Salib. Lalu film ini menjadi semacam film perjalanan eksistensial yang agak mirip dengan Apocalypse Now (1979).

Sulit untuk merekomendasikan film ini bagi penikmat sinema mainstream, karena kadang pace/tempo film ini menjadi sangat lambat akan menguji kesabaran, dan anda akan merasa kecewa.

Tapi hal positif bagi anda yang tetap ingin menontonnya: film ini dibuat dengan terampil dari segala sisi filmmaking. Juga terdapat beberapa adegan aksi yang keren tapi sangat violent, seperti memecahkan kepala orang dengan batu dan mengeluarkan isi perut seseorang hidup-hidup.

8/10

Valhalla Rising: Bagi anda yang memiliki sensibilitas untuk menikmati film yang bertempo sangat lambat sekaligus kuat menonton kekerasan yang berdarah-darah (21+)

Bronson

Bronson (2009)
sut: Nicolas Winding Refn
pen: Brock Norman Brock | Nicolas Winding Refn
Inggris Raya

Film ini menceritakan kisah narapidana paling terkenal di Inggris, Charles Bronson. Bronson yang tadinya dipidana 7 tahun penjara karena perampokan, menjalani tambahan-tambahan hukuman karena banyak insiden berikutnya di dalam penjara.

Filmnya sendiri terasa kurang fokus dan berbelok-belok seperti naik mobil yang disetir oleh orang mabuk. Sehingga kita tidak pernah benar-benar mengenal karakter Bronson meski film ini dinarasi sendiri oleh karakter Bronson. Namun, saya rasa hal itulah yang membuat film ini menjadi super keren.

Tidak direkomendasikan pada penikmat sinema mainstream, karena pendekatan yang digunakan oleh sutradara Refn tidak konvensional dan rada surreal, (saya sih sebenarnya oke-oke saja tapi dalam hal ini) tidak menguntungkan filmnya secara keseluruhan. Bisa dibilang ingin mengimplikasikan sebuah makna penting, namun pada akhirnya terasa tanpa makna.

Tetapi saya yakin di antara para penikmat sinema seni, pasti ada yang menyukainya. Apalagi terdapat akting yang mengagumkan dari Tom Hardy.

7.5/10

Bronson: Silahkan dicoba, bagi anda yang menikmati film-film yang tidak konvensional (21+)

Tigerland

Tigerland (2000)
sut: Joel Schumacher
pen: Ross Klavan | Michael McGruther
A.S.

Entah mengapa film luar biasa ini kurang populer bahkan di negara asalnya sendiri. Di trivia IMDb pun tertulis bahwa film ini hanya diputar di 5 layar. Apa-apaan?

Film ini luar biasa super yang mana sulit dipercaya disutradarai oleh Joel Schumacher. Film ini menggunakan gaya cinema verite yang didukung oleh sinematografi “16mm buruk”, memberikan atmosfir kelam dan menyeramkan mewakili ketakutan para karakter di dalam film untuk merangkul datangnya perang.

Akting yang terdapat di dalam film sangatlah luar biasa tanpa satupun penampilan yang lemah, padahal kebanyakan diperankan oleh aktor-aktor yang tidak terkenal (paling tidak untuk masa itu).

Selain itu skenario film ini kaya dengan development karakter padahal ceritanya bergerak maju hampir seluruhnya oleh dialog. Skenario film ini merupakan satu contoh penulisan dialog yang luar biasa tanpa perlu tampil cool dan bertele-tele, seperti misalnya dialog di film-film Quentin Tarantino (hanya sebagai perbandingan; ia adalah salah satu sutradara favorit saya).

Sangat direkomendasikan, bila anda ingin melihat film perang yang dibentuk dengan baik dan “kaya karakter”.

9/10

Tigerland: Rekomendasi dengan pujian yang tinggi (17+)

Arlington Road

Arlington Road (1999)
sut: Mark Pellington
pen: Ehren Kruger
A.S.

Film thriller ini lumayan menarik. Tema utamanya adalah terorisme terselubung. Film ini mulai dengan tempo yang lambat, tapi kemudian jalan ceritanya akan mengikat anda untuk terus mengikutinya hingga konklusi cerita yang tak terduga-duga.

Film ini menceritakan seorang profesor universitas yang mencurigai tetangganya sebagai seorang teroris, setelah menemukan kejanggalan pada masa lalu si tetangga.

Kekuatan terbesar dari film ini adalah skenarionya. Babak pertama-nya lumayan lambat tapi sudah cukup efisien untuk memperkenalkan para karakter dan setting ceritanya. Babak kedua-nya cukup solid untuk menggenggam perhatian anda dan membuat anda terus bertanya-tanya bagaimana mereka akan mengakhiri kisah ini. Kemudian babak ketiga-nya bertempo tinggi namun butuh suspension of disbelieve yang banyak (jangan dipikirkan terlalu dalam, nikmati saja).

Dengan beberapa kekurangan yang saya yakin bisa terlupakan oleh para penonton kasual, film ini film yang cukup menghibur dan cerdas, dan direkomendasikan bagi para penikmat thriller dan misteri.

7/10

Arlington Road: Rekomendasi bagi para cinephiles (BO)

The Bang Bang Club

The Bang Bang Club (2010)
sut: Steven Silver
pen: Steven Silver
A.S.

Baca pos ini lebih lanjut

Kineforum, Playtime & Cinephile « kineforum

Breaking Dawn part 1

The Twilight Saga: Breaking Dawn – part 1 (2011)
sut: Bill Condon
pen: Stephenie Meyer (novel) | Melissa Rosenberg
A.S.

Baca pos ini lebih lanjut