ulasansingkat

sekedar ulasan (film) singkat

Monthly Archives: Oktober 2011

The Journals of Knud Rasmussen

The Journals of Knud Rasmussen (2006)
sut: Norman Cohn | Zacharias Kunuk
pen: #######
Kanada | Denmark | Greenland

Berdasarkan jurnal-jurnal yang ditulis oleh Knud Rasmussen, seorang penulis etnografi (cabang antropologi) yang mempelajari budaya Inuit. Di film ini kita diperlihatkan proses seorang shaman hebat Inuit dan putrinya yang cantik nan keras kepala dalam memutuskan untuk mengakhiri ‘ke-shaman-nan’ mereka.

Jujur, film ini sangat slow (tapi bukan dalam tempo atau pace filmnya), dan saya yakin akan membawa kebosanan kepada hampir semua orang. Film ini sepertinya dibuat dengan sangat dekat dengan sumbernya (jurnal-jurnal), sehingga bila anda mengatakan bahwa film ini merupakan film dokumenter, pasti ada yang percaya. Itulah maksud saya film ini sangat slow, karena hampir realistis seperti dokumentasi. Tetapi bila dipikirkan lebih lanjut, di situlah kekuatan terbesarnya! Film fiksi ini bisa dianggap dokumenter. Hal ini mengatakan banyak hal mengenai semua performance para aktornya, dan cara para filmmakernya menyusun gambar.

Bila anda menyempatkan waktu untuk melihat filmografi kedua sutradaranya, anda akan melihat bahwa mereka juga yang membuat film Atanarjuat (2001). Tetapi sekali lagi, mengingat film ini sangat slow, hanya direkomendasikan bagi cinephiles maupun orang-orang yang tertarik untuk tahu lebih banyak mengenai budaya Inuit.

7/10

The Journals of Knud Rasmussen: Rekomendasi bagi para cinephiles (17+)

Iklan

The Butcher Boy

The Butcher Boy (1997)
sut: Neil Jordan
pen: Patrick McCabe (novel) | Neil Jordan | Patrick McCabe
A.S.

Sebuah film yang akan membawa kita masuk ke kehidupan seorang bocah yang ‘menolak menjadi dewasa’. Film ini sangat mengingatkan kepada The 400 Blows (1959)-nya Truffaut, tetapi juga cukup berbeda.

Ulasan ini hanya bertujuan untuk menginformasikan saja, bahwa ada sebuah film yang rilis di tahun 1997 berjudul The Butcher Boy, dan film tersebut cukup pantas untuk anda tonton dan apresiasi. Terutama penampilan aktor cilik karakter utamanya, luar biasa mengagumkan.

8/10

The Butcher Boy: Rekomendasi bagi para cinephiles (17+)

Unknown Pleasures

Unknown Pleasures | Rèn Xiāo Yáo (2002)
sut: Jia Zhangke
pen: Jia Zhangke
RRC

Rèn xiāo yáo secara harfiah: “free from all constraints”

Film ini terkenal (saya sendiri tahu film ini baru-baru ini saja) sebagai film ketiga dalam trilogi ‘longgar’-nya Jia Zhangke yang dibuat di propinsi Shanxi, yang ketiganya dianggap mengisahkan masa transformasi Cina ke modernitas.

Setelah anda melihat posternya, atau membaca plotnya di suatu tempat, lalu berpikir bahwa film ini hanya film drama-komedi-esek-esek ga jelas yang tidak cukup pantas untuk menyita 100 menit dari waktu anda, maka anda salah.

Film ini film yang lumayan penting, lho. Baik bagi dunia perfilman Cina maupun dunia. Dan sepertinya memang wajib tonton bagi para cinephiles, praktisi, dan akademisi perfilman.

Saya pribadi sangat menyukai film ini. Sebenarnya tema utama film ini adalah sesuatu mengenai generasi populasi terkontrol di Cina, yaitu generasi hasil undang-undang ‘satu-anak’ di Cina. Film ini mengikuti kehidupan 3 anak muda yang tidak punya kakak maupun adik sehingga mempengaruhi perilaku sosial mereka, dan seterusnya. Untuk bacaan lebih detil, silahkan klik. Intinya, film ini film yang luar biasa.

9/10

Unknown Pleasures: Rekomendasi bagi para cinephiles (17+)

Grizzly Man

Grizzly Man (2005)
sut: Werner Herzog
A.S.

Sebuah film dokumenter yang mengagumkan. Mengutip Timothy Treadwell, “…it’s beautiful, it’s sad, it’s tragic…” film ini akan menahan interest anda hingga frame terakhir. Dan dengan malu, untuk mendeskripsikan film dokumenter ini sepenuhnya seperti yang saya rasakan saat menontonnya, saya akan menambahkan: terdapat komedi yang tidak disengaja.

Ya, film ini dibuat berdasarkan kematian tragis Timothy Treadwell, tetapi sejujurnya, banyak momen yang membuat saya tertawa, yang disebabkan oleh omongan para interviewee maupun omongan Timothy sendiri. Meski mereka mungkin tidak bermaksud untuk melucu.

Segi filmmaking-nya sendiri tidak terlalu menonjol atau pamer seperti semua film (fiksi maupun dokumenter) yang baik untuk mempersembahkan ceritanya pada penonton, tetapi bila anda memperhatikan dengan teliti, film ini dibuat dengan sangat apik dan cermat.

Tontonlah Grizzly Man, dan film ini akan membawa anda ke dalam dunia seorang karakter manusia (nyata) yang sangat unik dan kompleks. Benar-benar karya luar biasa, yang seperti yang dikatakan Werner Herzog dalam narasinya, mengandung gambar-gambar improvisasi luar biasa yang tidak akan terpikirkan oleh seorang sutradara studio.

8/10

Grizzly Man: Rekomendasi dengan pujian tinggi (13+).

Catatan: terdapat beberapa gambar bangkai binatang, banyak kata kotor, dan adegan dua beruang yang berkelahi dengan durasi yang cukup panjang.

Broken Flowers

Broken Flowers (2005)
sut: Jim Jarmusch
pen: ###
A.S.

Tanpa emosi namun penuh emosi. Sok filosofis banget ya?

Maksudnya film ini memiliki karakter protagonis yang tampil tidak memiliki emosi, tetapi penonton akan sadar sendiri bahwa ia memiliki limpahan emosi dibalik citra yang ia proyeksikan. Selain itu kisahnya yang sudah menarik dari sananya juga dieksekusi dengan pendekatan filmmaking yang indie banget, membuat film ini menjadi lebih menarik untuk disaksikan.

7.5/10

Broken Flowers: Rekomendasi bagi para cinephiles (17+)

Johnny English Reborn

Johnny English Reborn (2011)
sut: Oliver Parker
pen: ####
A.S. | Prancis | Inggris

Film ini jauh lebih besar dari yang pertama. Film ini masih memiliki ‘ketololan khas Johnny English’, tetapi tidak dengan kuantitas film pertamanya. Jadi bila hal tersebut yang mungkin membuat anda tidak menyukai film yang pertama, jangan hindari Reborn.

Film ini lebih mengandalkan lelucon sederhana yang sangat efektif hingga mampu menciptakan tawa besar (semoga anda tidak bermasalah dengan slapstick). Film ini juga ditulis dan di-pace dengan baik untuk murni mengantarkan hiburan komedi. Sangat direkomendasikan bagi para pecinta komedi. Nikmati saja.

7.5/10

Johnny English Reborn: Rekomendasi bagi para pecinta komedi (BO)

Setannya Kok Masih Ada

Sut: Muchyar Syamas
Indonesia

Mengeksploitasi tubuh perempuan seperti menjadi sebuah klise memang dalam sebuah film bergenre horor, komedi, atau mixed horor komedi khususnya dalam film Indonesia. Begitu pula yang terlihat dalam film yang diproduksi oleh keluarga Punjabi alias MVP Pictures ini.

Setelah saya menonton film ini, plotnya seperti sedikit mengingatkan saya kepada film kartun yang menceritakan tentang sekelompok remaja pemburu hantu yang dibantu oleh seekor anjing yang akan rela melakukan apa saja demi sebuah kue kering (baca: Scooby Doo). Meskipun memang tidak presisi dan tidak ada karakter anjing yang dapat berbicara pula di sini, hanya saja ada kemiripan dalam permainan unsur antisipasi dan surprisenya dalam sebuah struktur dramatik . Terutama dengan kemunculan dan sebab munculnya karakter “yang berwajib” di akhir.

Namun untuk sebuah komedi, pendekatan film ini tidak melulu slapstick, melainkan juga membangun sebuah situasi komikal dan juga membuat kelucuan melalui permainan dialog-dialog sederhana yang khususnya cocok untuk dinikmati penonton dengan SES C-D-E.

Plotnya cukup jelas dan tidak terlalu memaksakan visual yang dicapai sehingga terasa mengalir, meskipun dari segi orisinalitas karya sudah ada yang serupa seperti yang saya utarakan di atas.

6/10

…Dalam Botol

Sut: Khir Rahman
Pen: Raja Azmi
Malaysia

Membuat film yang bertemakan queer di sebuah negara yang mayoritas Islam pastinya sulit dan cenderung menuai kontroversi. Bila dilihat dari sisi tersebut, patut diacungkan jempol untuk keberanian pembuat film ini. Di situlah nilai plusnya.

Film yang semula berjudul ‘Anu Dalam Botol’ mengangkat issue yang sesungguhnya dapat dieksplorasi lebih mendalam, ketimbang membuatnya menjadi seperti drama keluarga dan percintaan belaka.

Namun, film berbahasa Malaysia ini cukup tidak pretensius dalam pengadeganannya dan juga ada beberapa shot yang terindikasi menentang konsep patriarki yang sampai sekarang masih sangat dominan di mana pun, walau pejuang feminisme dan aktivis LGBT terus memperjuangkan kesetaraan gender tersebut.

Secara struktur dramatik, mungkin karena kecenderungan konfliknya lebih kepada konflik batin sehingga terkesan agak lambat. Oleh karena itu menurut saya ada baiknya menonton film ini harus dengan keadaan ruangan yang nyaman atau lebih baik lagi bila ada pemutaran di ruang semacam bioskop agar bisa berkonsentrasi dan tidak mengantuk. Jangan lupa, pastikan ada subtitle bila anda tidak mengerti bahasa Malaysia.

7/10

The General

The General (1926)
sut: Clyde Bruckman | Buster Keaton
A.S.

Film ini merupakan favorit Buster Keaton dari semua film-filmnya sendiri. Dan ia memang pantas bangga terhadap film ini. The General sangat mengagumkan dari segala sisi filmmaking.

Komedinya sangat cerdas, ceritanya menarik, adegan aksinya memukau, dan pantas untuk ditonton berulang-ulang. Dalam film ini anda dapat melihat gags dan stunts yang kemudian menjadi referensi dalam film-film Jackie Chan.

Sangat direkomendasikan kepada seluruh penikmat sinema, terutama penikmat komedi dan aksi.

8/10

The General: Rekomendasi dengan pujian yang tinggi (BO)

Paprika

Paprika | Papurika (2006)
sut: Satoshi Kon
pen: Yasutaka Tsuitsui (novel) | Seishi Minakami | Satoshi Kon
Jepang

Film yang sangat orisinal dan menarik. Dalam hal ide dasar yang menjadi pondasi naratif film ini, saya masih bingung untuk menentukan, apakah ide tersebut rumit atau malah sederhana. Silahkan anda tentukan sendiri setelah menontonnya.

Baca pos ini lebih lanjut