ulasansingkat

sekedar ulasan (film) singkat

Pengkhianatan G 30 S/PKI

Pengkhianatan G 30 S/PKI (1984)
sut: Arifin C. Noer
pen: Arifin C. Noer | Nugroho Notosusanto (story)
Indonesia

Karena besok sudah tanggal 30 September, saya memutuskan untuk menonton dan mengulas film Pengkhianatan G 30 S/PKI. Tapi tolong ingat, ulasan ini tidak formal dan hanya opini pribadi, jadi tolong maafkan bila terasa “loncat-loncat”.

EHEM, mari mulai. Bagi anda yang lahir sebelum tahun 1990, mungkin masih ingat film Pengkhianatan G 30 S/PKI dengan jelas karena selalu diputar tiap tahun sampai ‘98. Saya sendiri tidak begitu ingat, sehingga saat menontonnya barusan seakan baru pertama kali menontonnya.

Dari segi filmmaking tok (mise en scène, découpage, struktur naratif), dapat terlihat bahwa film PG30S/PKI ini dibuat oleh orang yang mengerti dengan baik craft/pekerjaannya. Momen yang dramatis di dramatisir, momen yang menegangkan di—eng, tegangisir?

Mengulas soal struktur naratif, Arifin C. Noer tampaknya mencoba membuat penonton beridentifikasi pada karakter para Jenderal-Jenderal yang akan menjadi korban dan keluarga mereka dengan mengintroduksi mereka di paruh awal film, dengan tujuan agar pada saat “peristiwa”-nya terjadi, penonton diharapkan dapat lebih terlibat secara emosional.

Akan tetapi introduksi-introduksi tersebut terlalu singkat dan dengan cara yang terlalu “mudah”, sehingga penonton tidak pernah benar-benar mengenal mereka. Jujur, sulit membedakan Jenderal mana yang mana, dan baru tahu setelah diberi keterangan teks. Saya rasa hal ini tidak terjadi terhadap orang-orang yang lebih tua dari saya, yang mengenal aktor-aktor yang jadi Jenderal dan istri-istri mereka, sehingga bisa membedakan, aktor yang ini berperan sebagai Jenderal ini. Jadi, apakah ini satu kegagalan dalam hal skenario, ataukah kegagalan saya sebagai penonton yang tidak memperhatikan dengan seksama?

Bila jawabannya adalah option kedua, maka saya punya alasan. Bersamaan dengan introduksi para Jenderal dan keluarga mereka, film ini turut memperlihatkan seorang karakter bapak-bapak yang mengeluh mengenai jaman yang edan! (saya kurang memperhatikan, tetapi ada adegan perayaan pernikahan; apa itu pernikahan Letkol Untung yang katanya dihadiri oleh Suharto ya?), soal kesehatan Bung Karno yang merosot (tapi kalau tidak salah entah mengapa hanya menyinggung sebentar soal konflik dengan Malaysia padahal hal tersebut relevan), dan menunjukkan perencanaan G30S oleh PKI.

Film ini mencoba menyuapkan terlalu banyak informasi dalam waktu singkat kepada penonton di paruh awalnya; yaitu memperlihatkan betapa “normalnya” kehidupan sehari-hari di rumah-rumah para Jenderal dan betapa mereka tidak “sadar” terhadap bencana yang akan menghampiri mereka, memperlihatkan bagaimana dengan kesehatannya yang menurun Sukarno menjadi lebih vulnerable, dan sekaligus meng-establish perencanaan terperinci PKI.

Setelah itu film ini mulai “naik gigi” saat peristiwa yang menjadi judulnya mulai dekat. Harus diakui, film ini berhasil memberikan atmosfir “bom-waktu-yang-sebentar-lagi-meledak”

Halaman berikutnya ——->

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: