ulasansingkat

sekedar ulasan (film) singkat

Monthly Archives: September 2011

Badai di Ujung Negri

Badai di Ujung Negri (2011)
sut: Agung Sentausa
pen: Ari M. Syarif
Indonesia

Film Badai di Ujung Negri ini cukup menghibur dengan banyak adegan aksi yang lumayan. Secara teknis, menurut saya film ini hanya kurang di sound mixing-nya, atau mungkin karena saya menontonnya di TIM XX1, yang sound system-nya memang kurang (suara adzan bisa kedengeran!). Selain itu (sinematografi & desain produksi), sudah cukup keren.

Dari segi akting sih banyak performance yang kaku, tapi bukan masalah yang mengganggu mengingat genre film ini.

Flaws yang paling mengganggu sebenarnya adalah flaws skenarionya. Terdapat beberapa subplot yang mentok yang seharusnya tidak perlu dimasukkan ke dalam cerita apabila tidak niat untuk lebih dikembangkan dan diselesaikan dengan baik (seperti latar belakang si Ibu Dokter maupun hubungan Badai dengan masyarakat setempat). Dan juga terdapat beberapa character arc yang berpotensi untuk menciptakan drama yang lebih baik, tetapi terabaikan demi plot dan adegan aksi.

Namun secara keseluruhan, film ini baik-baik saja. Dan menghibur. Dan membawa angin segar ketika muncul lagi film aksi Indonesia yang dibuat dengan kompeten dan profesional.

6/10

Badai di Ujung Negri: rekomendasi bagi para pecinta film aksi (13+)

Iklan

Pengkhianatan G 30 S/PKI

Pengkhianatan G 30 S/PKI (1984)
sut: Arifin C. Noer
pen: Arifin C. Noer | Nugroho Notosusanto (story)
Indonesia

Karena besok sudah tanggal 30 September, saya memutuskan untuk menonton dan mengulas film Pengkhianatan G 30 S/PKI. Tapi tolong ingat, ulasan ini tidak formal dan hanya opini pribadi, jadi tolong maafkan bila terasa “loncat-loncat”.

Baca Ulasannya

The Year of Living Dangerously

The Year of Living Dangerously (1982)
sut: Peter Weir
pen: C.J. Koch (novel) | C.J. Koch | Peter Weir | David Williamson
Australia

Di film The Year of Living Dangerously, sebenarnya saya melihat peristiwa G 30 S 1965 hanya sekedar backdrop bagi karakterisasi karakter-karakter utamanya. Sepertinya Peter Weir hanya tertarik untuk membuat “film karakter”. Dan memang hasilnya merupakan sebuah film yang luar biasa kompleks yang berhasil menjadi lebih dari sekedar “reka fiksi sebuah peristiwa bersejarah” belaka melampaui sekedar ideologi politik.

Menurut saya, Picnic At Hanging Rock (1975) akan selamanya menjadi film terbaik Peter Weir, tetapi film ini juga sangat luar biasa dalam kompleksitas jalan cerita dan para karakternya, dan pantas untuk direkomendasikan bagi para cinephiles, terutama cinephiles-nya Indonesia. Perlu diingat, terdapat hal-hal yang masih kontroversial hingga hari ini yang dianggap benar di dalam film sehingga dapat mengalihkan perhatian penonton (seperti surat rahasia dari Singapura soal pengiriman senjata dari Shanghai dan percobaan kudeta oleh PKI (salah satu anggota PKI mengatakan “kami gagal”)), tetapi secara keseluruhan, anda akan menonton sebuah film yang sangat brilian.

8/10

The Year of Living Dangerously: rekomendasi bagi para cinephiles (13+)

Ngomongin Film Indonesia: Karnaval Poster Film Jiplakan

Ngomongin Film Indonesia: Karnaval Poster Film Jiplakan.

Artikel lucu sekaligus menyedihkan…

Ronin

Ronin (1998)
sut: John Frankenheimer
pen: J. D. Zeik (story) | J. D. Zeik | David Mamet (as Richard Weisz)
A.S.

Mau lihat adegan kejar-kejaran mobil tradisional tanpa CGI dan seratus persen stunt-work yang mampu memompa adrenalin penonton yang sedang duduk, dan membuat mereka seram akan betapa berbahayanya peristiwa yang sedang mereka saksikan? Cek lagi judul post ini.

Sialan! Film ini keren abis dengan chase scenes yang setara dengan Mad Max 2: The Road Warrior (1981) dan Ben Hur (1959). Bila anda menyukai film-film tersebut, anda akan menyukai film ini. Adegan-adegan stunt-nya sangat menegangkan, bahkan tanpa perlu menggunakan gimmick kamera handheld dan editing super cepat.

Saat anda menonton film ini, lupakan soal karakterisasi yang minim dan jalan cerita yang “film aksi banget”. Saya rasa motivasi utama film ini adalah membawa konsep “Ronin” ke film aksi modern, dan sebagai kesempatan untuk membuat adegan kebut-kebutan epik di Paris. Sangat direkomendasikan.

8/10

Ronin: Rekomendasi bagi para pecinta film aksi (13+)

The Wind Will Carry Us

The Wind Will Carry Us | Bad Ma Ra Khahad Bord (1999)
sut: Abbas Kiarostami
pen: Abbas Kiarostami
Iran

Agak sulit dipahami, bagaimana cara Abbas Kiarostami dapat terus menahan perhatian penonton tanpa memberikan banyak informasi tentang apa yang sedang terjadi di layar. Tapi itulah yang terjadi.

Belakangan kita akan sadar sendiri apa yang sedang terjadi tanpa diberitahu secara gamblang, termasuk subplot-subplot yang hanya kita saksikan dari POV si protagonis. Benar-benar luar biasa.

Satu lagi film sederhana nan kompleks dari Abbas Kiarostami untuk direkomendasikan bagi para penikmat sinema seni.

9/10

The Wind Will Carry Us: Rekomendasi bagi para penikmat sinema seni (13+)

Picnic At Hanging Rock

Picnic At Hanging Rock (1975)
sut: Peter Weir
pen: Joan Lindsay (novel) | Cliff Green
Australia

Sebuah masterpiece. Film yang indah namun menyeramkan. Puitis dan menyimpan misteri.

Di awal film kita diberitahu, beberapa murid yang sedang piknik di Hanging Rock menghilang tanpa jejak. Dan sekarang (hal ini lumayan lama saya pertimbangkan), saya pikir lebih baik saya memberitahu anda, bahwa misterinya tidak terpecahkan. Tidak ada jawaban.

Meski hal tersebut merupakan pendorong utama majunya cerita film ini, sebenarnya film ini lebih kepada efek yang timbul dari peristiwa tersebut. Bagaimana sekolah mereka dengan “keteraturan” yang palsu mereka menjadi rapuh dan hancur sedikit demi sedikit.

Tapi untuk mempertahankan format ulasan singkat, lebih baik saya singkat saja: bila anda tidak suka film yang “terbuka” (open-ended), yah, saya harap anda tetap memberikan film ini kesempatan. Caranya mengulur sesuatu memang membuat gelisah, namun film dengan kekuatan sinematik dan musik yang luar biasa dan menyeramkan ini telah meninggalkan kesan yang dalam di hati saya pribadi, dan tidak akan pernah terlupakan.

10/10

Picnic At Hanging Rock: Rekomendasi dengan pujian yang tinggi (13+)

Awards Watch: And Indonesia’s Academy Awards Submission is… « At The Movies

Awards Watch: And Indonesia’s Academy Awards Submission is… « At The Movies.

Artikel yang menarik, mampu mengulas banyak hal secara luas namun singkat.

Lost in Translation

Lost In Translation (2003)
sut: Sofia Coppola
pen: Sofia Coppola
A.S.

Lost In Translation adalah salah satu film favorit saya, yang tidak perduli berapa kalipun saya menontonnya selalu hanyut dan terpukau. Bila anda bosan dengan film-film mainstream dengan formula yang itu-itu saja, maka film ini harus anda tonton. Film ini sangat tidak konvensional dengan struktur dan pace ceritanya dan akan membawa nuansa segar serta mengembalikan kepercayaan anda kepada “kekuatan” medium film.

Saya pribadi sangat menikmati company kedua protagonis dan setiap kali menontonnya selalu hanyut dan lupa waktu. Dan saat karakter Bill Murray mengatakan sudah akan pulang besok, saya lalu menjadi sadar bahwa film ini sudah akan selesai dan menjadi “sedih” karena masih ingin “berlama-lama” bersama mereka. Dan endingnya sendiri meski agak melodramatis (lebay) namun tetap menyentuh hati.

Saya sangat merekomendasikan film ini bagi para cinephiles. Saya harap anda juga dapat menikmati film yang luar biasa ini.

9/10

Lost In Translation: rekomendasi dengan pujian yang tinggi (13+)

The Secret of NIMH

The Secret of NIMH (1982)
sut: Don Bluth
pen: Robert C. O’Brien (novel) | Don Bluth | John Pomeroy | Gary Goldman | Will Finn
A.S.

Film ini sangat luar biasa dengan plot sederhana yang terurai dengan mulus, dengan talent suara yang mengagumkan, musik yang menunjang, dan animasi “klasik” serta kepekaan terhadap tata cahaya, secara instan membuat film ini sebagai salah satu film animasi favorit saya.

9.5/10

The Secret of Nimh: Rekomendasi dengan pujian yang tinggi (BO)